Kamis
04 Juni 2026 | 4 : 36

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Kisah Kelam dalam Secangkir Kopi

PDIP-Jatim-Mapung-05092021

Bicara kopi bukan saja soal jenis single origin atau house blend mana. Bukan juga tentang desain minimalis sebuah kafe, bukan pula bahasan idealisme barista dan penikmat kopi kelas “dewa” dalam metode meracik secangkir kopi. Tentu saja tidak. Perkara kopi juga tentang kisah-kisah yang melibatkan luka, darah, dan kesedihan nasib pada segala yang kelam. Hitam dan penuh ampas kematian.

Kopi, sebelum menjadi teman nongkrong, jadi menu andalan sebuah kafe, bahkan jadi ikon di starbuck, pernah jadi sebuah horor. Seakan-akan segelas kopi yang tumpah seharga seliter darah mengalir dari lubang menganga bekas tebas pedang di leher. Kopi dan darah seolah setipis cremma dalam secangkir espresso.

Pada satu masa di era Kekaisaran Ottoman, kafe menjadi tempat alternatif orang-orang berkumpul, tanpa sekat kelas masyarakat. Itu terjadi sejak minuman beralkohol dilarang dan warung-warung arak, tuak, dan bir otomatis gulung tikar. Di dalam kafe, di hadapan segelas kopi, rakyat dan raja duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Mereka bersosialisasi, berbagi ide, bahkan membicarakan hal-hal tabu seperti berbincang tentang tata cara memelihara harem atau menjinakkan sebuah rezim. Kebiasaan orang-orang ini—pengunjung kafe dan penikmati kopi—membuat penguasa benci, khawatir dan mulai menampakkan watak aslinya; kejam dan brutal.

Kisah darah dan kopi bermula pada era Kesultanan Murad VI (1633). Osman II, kakak Sultan Murad VI dibunuh oleh sekelempok tentara pemberontak dari unit infantri. Unit ini dikenal sebagai Janisari, pasukan yang dipersenjatai untuk melindungi keluarga kesultanan. Sekelompok prajurit itu diketahui sering mengunjungi kafe-kafe di kota Istanbul. Sejak itu sultan geram dan marah. Sultan memproklamirkan bahwa kafe adalah tempat subversif. Mereka yang minum kopi di setiap kafe adalah pelanggaran berat. Minum kopi dan duduk-duduk santai tak lagi senikmat sebelumnya. Mereka gelisah. Jangan-jangan di sekitar ada mata-mata sultan yang tiba-tiba menghunus pedang.

Kisah itu bukan sekedar becandaan ala kedai kopi. Tapi benar-benar terjadi. Para penikmat kopi dihantui oleh ketakutan. Di seluruh ibu kota, pasukan setia sultan menyisir jalan-jalan, menyusuri kedai-kedai kopi guna mencari pelanggar hukum. Mereka akan menendang-nendang dan menyeret para pecandu kafein ini, dan membiarkan pelanggar berat ini berteriak-teriak di balik jeruji penjara.

Saat itu ada desas-desus, bahwa Sultan Murad VI menyamar sebagai rakyat jelata. Dia memasuki kafe-kafe di Istanbul. Bila ditemukan seseorang duduk sedang minum kopi, seketika dia akan menghunus pedangnya yang seberat empat puluh kilo itu, lalu menghempaskannya tepat di tengkuk peminum kopi, bahkan saat bibir mereka masih menempel di cangkir kopi. Jika kita penikmat kopi dan suka nongkrong di kafe hidup masa itu, bisa saja menemukan kepala sendiri tiba-tiba terpisah, tergeletak di antara pecahan cangkir, dan mencium amis darah sendiri bercampur aroma kopi. Kita akan berkpikir ulang menerima ajakan kawan “Ngopi, yuk!,” karena sama saja itu ajakan menuju kematian.  

Selepas Kesultanan Murad IV, penerusnya, Mehmed IV, memberlakukan hal yang sama meski tak semengerikan pemenggalan di tempat nongkrong itu, tapi membayangkannya bagai mengalami mimpi buruk. Minum kopi di kafe-kafe tetap dianggap sebagai pelanggaran berat. Pelanggaran pertama hanya dikenai denda. Bila juga masih melanggar untuk kedua kalinya, mereka yang memaksa minum kopi dan ketahuan ini akan diringkus oleh algojo Sultan, dan dibungkus ke dalam kantong kulit. Kantong berisi manusia bernyawa itu diikat dengan batu pemberat, kemudian dibuang ke selat Bosporus, dan dibiarkan tenggelam perlahan. Nasib tragis menemui mereka justru di saat sedang menikmati minuman kesukaannya.

Kalau kita amati, memang kisah kekejaman itu bukan murni disebabkan oleh secangkir kopi. Karena sejarawan juga menulis bahwa Sultan Murad IV masih menikmati kopi di balik istananya, bahkan menoleransi mereka yang minum kopi secara diam-diam. Bukan di tempat umum. Sebab itu, orang mengutuk kemunafikannya. Tapi, bagaimana pun teror kematian bagi para pecandu kafein tetap membuat ibu kota mencekam.

Dari Yaman ke Turki, kisah kelam secangkir kopi menyebar hingga ke Eropa. Biji kopi tidak hanya berkisah tentang cita rasa dan efek yang diberikan pada peminumnya, namun juga cerita malangnya.  Di London, Inggris, sebuah negeri yang sangat kental karakter feodalnya,  yang strata sosialnya sangat hirarki dan terstruktur, kata Markman Ellis bukunya The Coffee House: A Cultural History “Gagasan bahwa kita dapat pergi dan duduk sebelah orang lain secara setara dianggap radikal,” (History.com). Pada masa lalu, di Inggris meja kafe menjelma menjadi meja komunal. Semua kalangan bisa duduk satu meja; rakyat biasa, politikus, intelektual, pedagang, aktivis hingga seniman, dan sastrawan, tentu juga tidak ketinggalan para bajingan seringkali menghabiskan waktunya di kafe.

Segala hal mereka perbincangkan; mulai bisnis, seni, sastra, bahkan dari perkara gosip/hal remeh-temeh hingga isu politik. Biji kopi berperan membuat hal itu terjadi. Kafe benar-benar menjadi ruang bertukar pikiran. Keberadaannya yang menjadi fenomena saat itu membuat penguasa mengalami paranoia budaya. Kedai kopi dilabeli sebagai tempat berbahaya. Penguasa kerap menuding perbincangan di kafe mengusik kewibawaannya. 

Saat itu, orang belum mengenal meme dan tagar untuk merongrong bebalnya penguasa, seperti yang dilakukan sekarang lewat medsos. Satu-satunya cara adalah dengan mendatangi kafe dan bertemu dengan orang yang sepemikiran.

Di Ingris, pada masa Raja Charles II, jumlah kafe berdiri sekitar 63 tempat. Setelah kafe pertama didirikan oleh Pasqua Rossee di London pada 1652. Kafe ini dilaporkan bisa menjual 600 cangkir kopi setiap hari. Bisa dibayangkan banyaknya penggemar kafe ini, serta semua pembicaraan di dalamnya. Menjamurnya kafe-kafe pada masa Raja Charless II, membuat dirinya menyoroti keberadaan kafe. Ini bermula sejak tahun 1672. Dia menganggap berita-berita palsu, atau yang sekarang kita kenal hoax –versi pemerintah- berawal dari tempat publik seperti kafe ini. Dia menuduh orang-orang berbicara jahat tentang apa yang tidak dipahami dari pemerintahan.

Kekhawatiran dan ketakutan itu membuat Raja Charles II memerintahkan penutupan dan penggeledahan kedai-kedai kopi. Peristiwa yang terjadi mirip dengan rezim di Turki masa kesultanan Murad IV. Sir Joseph Williamson, seorang pejabat negara di Inggris memerintahkan untuk memata-matai dan menyegel kedai kopi. Membuat pengusaha resah dengan usaha yang mereka jalankan. Pelanggan setia mereka sudah enggan berlama-lama duduk santai sambil menikmati kopinya. Terburuknya penangkapan-penangkapan terhadap peminum kopi di kafe terjadi. Mereka berakhir dalam kurungan besi penjara. Seolah-olah sejarah terus berulang, mula-mula sebagai tragedi, kemudian sebagai tragedi lagi. Baru kemudian komedi.

Kisah lain yang sedikit menyesakkan, entah ini dibuat oleh penguasa atau sebuah satir dari kaum lelaki sebagai pelanggan setia kedai kopi, pada 1674 muncul sebuah petisi mengatasnamakan kaum perempuan. “Women’s Petition Against Coffee”. Pada masa ini, kaum perempuan jarang, atau bisa dibilang hampir tidak pernah terlihat berada di kafe-kafe. Petisi dari kaum perempuan itu mengklaim bahwa kaum lelaki yang menghabiskan banyak waktunya di kedai kopi “senjata pamungkas”nya seperti padang pasir; kering, berdebu, dan mirip kadal gurun. Tidak berdiri tegak seperti pilar-pilar bangunan Romawi klasik tapi membungkuk seolah mengalami dehidrasi. Kaum lelaki dianggap gampang lumpuh dalam urusan dipan jika kerap nongkrong di kafe. Lelaki mana yang tak gelisah dicap seperti itu.

Saya tidak pernah membayangkan di mana kini kafe-kafe berdiri di setiap sudut kota dan menyediakan aneka rupa kopi, ternyata pernah memiliki sejarah kelam seperti itu. Di era minum kopi seolah gaya hidup. Di jaman saat anak-anak muda merasa belum gaul bila tidak ngopi di kafe. Ketika kita serasa akan mati bila belum mendapatkan secangkir kopi pagi, justru sejarah pernah mencatat kematian bagi mereka penikmat minuman berkafein ini. Sungguh betapa beruntungnya generasi milenial ini.

Karena itu, ada baiknya, lain kali, di saat kita sedang minum kopi di warung kopi atau kafe-kafe favorit, sesekali pikirkan kemalangan ribuan orang yang mati di tangan Sultan Murad IV itu. Sehingga kau bisa merenungkan jika membeli secangkir kopi, sebaiknya habiskan, semurah apa pun kopi itu, diseduh dengan cara apa pun, sebab bisa jadi itu kopi terakhir yang kau minum. (*)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Konflik Galian C di Magetan, DPRD Hentikan Sementara Operasional Tambang demi Redam Gejolak Warga

MAGETAN – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Magetan mengambil langkah taktis dengan menghentikan ...
EKSEKUTIF

Wabup Kediri Minta Masyarakat Ikut Kawal SPMB 2026, Laporkan Jika Ada Dugaan Pelanggaran

Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa mengajak masyarakat ikut mengawal pelaksanaan SPMB 2026. Pemkab Kediri ...
LEGISLATIF

Anas Karno Ajak Aparatur Kelurahan dan Kecamatan Jaga Profesionalisme Pelayanan

Sekretaris Komisi A DPRD Surabaya Anas Karno mengajak aparatur kelurahan dan kecamatan menjaga profesionalisme ...
KABAR CABANG

Bulan Bung Karno 2026, DPC Nganjuk Gelar Doa Bersama dan Ziarah Makam Tokoh Partai

NGANJUK – Menyambut bulan Juni yang diperingati sebagai Bulan Bung Karno, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI ...
LEGISLATIF

Widarto: Jika Diperlukan, Perlindungan BPJS bagi ABK Nelayan Bisa Dibiayai Pemerintah

Wakil Ketua DPRD Jember Widarto menilai perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi ABK nelayan penting karena tingginya ...
KRONIK

DPD PDI Perjuangan Jatim akan Tutup Musancab dengan Tanam Ribuan Pohon di Lumajang

SURABAYA – DPD PDI Perjuangan Jawa Timur akan mengisi rangkaian peringatan “Bulan Bung Karno” dengan aksi penanaman ...