Oleh Mahendra Cipta*
SENI karnaval atau arak-arakan santri merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya yang hidup dan berkembang di lingkungan pesantren. Kegiatan ini biasanya digelar dalam momen-momen perayaan hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Tahun Baru Islam, khataman Al-Qur’an, akhirussanah pesantren, atau haul para ulama. Lebih dari sekadar pawai, arak-arakan santri memadukan unsur seni, religiusitas, tradisi lokal, dan kreativitas kolektif, sehingga menjadi media dakwah yang komunikatif dan menghibur- sebagai silaturrahmi -komunikasi pondok pesantren dengan masyarakatnya.
Jika selama ini, dalam banyak hal pesantren hanya berfokus di dalam pondok, maka karnaval (arak-arakan) santri sebagai momentum santri/pesantren berinteraksi dengan masyarakat.
Secara historis, tradisi arak-arakan santri berakar dari budaya gotong royong dan tradisi masyarakat Nusantara dalam merayakan momen penting secara bersama-sama (kolektif). Pesantren sebagai pusat pendidikan Islam tidak hanya berfungsi sebagai tempat transmisi keilmuan agama, tetapi juga sebagai ruang pembentukan budaya. Dalam konteks ini, seni karnaval santri menjadi sarana untuk menanamkan nilai kebersamaan, disiplin, serta kecintaan terhadap tradisi Islam yang ramah dan inklusif.
Dari sisi artistik, arak-arakan santri menampilkan beragam bentuk seni; dari seni rupa, pertunjukan, dan khasanah Seni pesantren lainnya. Kostum (busana) santri dimodifikasi secara kreatif, miniatur masjid, replika kitab kuning, mitologi, bedug, lampion hingga simbol-simbol sejarah Islam, visualisasi kisah-kisah para sahabat, menjadi elemen visual yang menarik. Tidak jarang, karnaval ini diiringi seni musik tradisional (islami) seperti hadrah, rebana, patrol (musik kentongan) atau shalawat yang dilantunkan secara berkelompok. Perpaduan antara gerak, music dan visual tersebut menciptakan pertunjukan ‘seni jalanan’ (street art, Seni ruang publik) yang sarat makna religius dan spiritual.
Tidak melulu berbicara nilai artistik dan estetika, seni karnaval santri juga mengandung pesan edukatif dan dakwah. Tema-tema yang diangkat biasanya berkaitan dengan akhlak mulia, tarikh kenabian, sejarah perjuangan ulama, persatuan umat, serta cinta tanah air (hubbul wathon minal iman). Dengan format arak-arakan (pawai budaya) yang bersifat langsung, terbuka dan partisifasi masyarakat, pesan-pesan keislaman dapat disampaikan secara ringan (hiburan) dan persuasif. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu harus disampaikan melalui mimbar ceramah, tetapi dapat dikemas dalam bentuk seni dan budaya yang membumi dan mengakar (dakwah kultural).
Karnaval santri juga berperan penting dalam membangun identitas santri di tengah kecemasan masyarakat modern. Di era globalisasi yang sarat dengan budaya populer, sosial media, media televisi dan film, arak-arakan santri menjadi bentuk afirmasi bahwa santri mampu beradaptasi tanpa kehilangan jatidiri.
Kreativitas yang ditampilkan mencerminkan keterbukaan terhadap inovasi, sementara nilai-nilai yang dijaga menunjukkan kuatnya akar tradisi pesantren. Dengan tetap berpijak pada adagium; “al-mukhafadatu ‘alal qadimis sholeh, wal ahdu bil jadidil ashlah“. Melestarikan tradisi masalalu yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Demikianlah, seni karnaval santri menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.
Lebih jauh, kegiatan ini memperkuat hubungan antara pesantren dan masyarakat sekitar. Keterlibatan warga (khusus orang tua santri) dalam menyaksikan, mendukung, bahkan ikut serta dalam arak-arakan menciptakan ruang interaksi sosial yang harmonis. Pesantren tidak dipandang sebagai institusi yang ekslusif, melainkan sebagai bagian integral dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Nilai kebersamaan dan toleransi pun tumbuh secara organik melalui perayaan kolektif tersebut.
Namun demikian, seni karnaval santri juga menghadapi tantangan, seperti komersialisasi berlebihan atau hilangnya esensi religius akibat terlalu menonjolkan aspek hiburan. Karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk menjaga keseimbangan antara kreativitas seni, kolektifitas dan nilai-nilai spiritual yang menjadi ruh utama kegiatan ini. Dengan tetap berpijak pada pendekatan, pembinaan dan pengembangan, pelestarian dan pemanfaatan. Khususnya pendampingan dari para kiai dan asatidz sangat penting dalam tumbuh kembang arak-arakan santri tetap berada dalam koridor pendidikan dan dakwah.
Sepanjang pengamanatan, belum ada catatan yang menulis temukan mengenai siapa yang menciptakani seni karnaval (arak-arakan) santri. Meskipun seni karnaval santri tidak memiliki tokoh tunggal sebagai pencipta, perkembangan dan legitimasi kesenian ini tidak terlepas dari peran para tokoh Islam dan budaya, seperti Wali Songo, lebih khusus Sunan Kalijaga, di mana beliau sering dianggap sebagai inspirasi utama dalam dakwah kultural di Nusantara. Pendekatannya yang mengintegrasikan seni dan budaya lokal menjadi landasan konseptual bagi praktik seni arak-arakan santri.
Di era pesantren modern, tokoh-tokoh seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) turut memberi kontribusi pemikiran mengenai pentingnya seni dan budaya sebagai ekspresi Islam yang humanis, inklusif dan toleran. Pemikiran Gus Dur mendorong pesantren untuk terbuka terhadap kreativitas seni sebagai bagian dari kehidupan beragama.
Selain itu, para kiai dan pengasuh pesantren berperan sebagai tokoh lokal yang menentukan arah dan nilai seni karnaval santri. Melalui bimbingan mereka, arak-arakan santri tetap bisa berlangsung juga berada dalam koridor etika Islam sekaligus menjadi ruang eksistensi santri di tengah zaman. Santri pada akhirnya dapat dipandang sebagai subjek sekaligus sebagai tokoh kolektif yang menjadi pelaku utama dalam penciptaan dan pewarisan tradisi menyongsong masa depan.
Melihat perjalanan seni karnaval (arak-arakan) santri dan perkembangan sosial-budaya-politik mutakhir, tentu saja seni karnaval santri menghadapi tantangan yang serius. Misalnya, bagaimana karnaval mampu menciptakan ikon budaya tertentu sehingga mampu menjadi counter culture atas globalisasi yang sedang berlangsung. Yang tentu saja globalisasi membawa dampak pada perubahan nilai-nilai budaya dan eksistensi seni tradisi. Karena itu, santri perlu terus inovatif dan uptodate.
Selanjutnya tantangan Kemajuan teknologi digital yang menuntut para kreator karnaval santri untuk memahami dan menguasai teknologi agar karya seni mereka dapat diapresiasi secara luas. Kemudian membangun kerja Kolaborasi, baik kolaborasi antara penggiat seni, budaya, dan satkholder (pemerintah), juga kolaborasi teknologi sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan eksistensi seni karnaval santri.
Untuk menjawab tantangan mutakhir, seni karnaval santri perlu menjawab persoalan-persoalan kontemporer, seperti isu terorisme, radikalisme, dan isu-isu sosial lainnya. Mengeksplorasi inovasi seni yang bisa (cocok) dengan anak muda. Dengan prinsip yang berpijak pada pengembangan regenerasi dan keberlanjutan. Dan juga di beberapa daerah karnaval santri masih memiliki tantangan pengelolaan dan manajemen penggunaan ruang publik yang ramah dan tidak mengganggu masyarakatnya.
Maka, di butuhkan komitmen dan semangat; pesantren, santri masyarakat, dan pemerintah untuk pelestarian budaya. Sehingga seni karnaval santri mampu terus tumbuh dan berkembang, serta menjadi bagian penting dari identitas budaya (kita) Indonesia. Semoga!
Mahendra Cipta, pelaku seni, penulis dan sutradara Language Theatre Indonesia
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS











