Di Kediri, Wasekjen PDIP Ziarahi Makam Gus Miek

Loading

KEDIRI – Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah mengakhiri acara silaturahmi dengan kyai Nahdlatul Ulama (NU) wilayah Mataraman, di Makam KH Hamim Tohari Djazuli, atau Gus Miek.

Di komplek pemakaman di Desa Tambak Ngadi, Mojo, Kabupaten Kediri ini, Basarah berdoa dan membaca tahlil yang dipandu ulama setempat.

Selain Basarah, tahlil di samping makam Gus Miek diikuti Sekjen Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) PDI Perjuangan Nasyrul Falah Amru, dan fungsionaris Bamusi Nu’man Anshori dan Yayan Sopyani Al Hadi.

Juga Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Kusnadi, serta tiga Wakil Ketua DPD PDIP Jatim, yakni Budi Sulistyono, Ida Bagus Nugroho, serta Marhaen Djumadi. Tampak juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kediri Sutrisno, serta Ketua DPC PDIP Kota Kediri Agus Sunoto.

Baca juga: Kyai Mataraman Sepakat Dukung Gus Ipul Cagub Jatim

Seperti diketahuim Gus Miek yang meninggal di Surabaya di usia 52 tahun adalah pendiri amalan dzikir Jama’ah Mujahadah Lailiyah, Dzikrul Ghofilin, dan sema’an (mendengarkan) al-Quran Jantiko Mantab.

Putra dari K.H. Jazuli Utsman, pengasuh Ponpes Al-Falah ini dikenal sebagai seorang wali (kekasih Allah) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di luar pesantren untuk berdakwah.

Gus Miek juga terkenal sebagai wali yang memiliki banyak karomah atau kelebihan

Sebelum ziarah di Makam Gus Miek, Basarah dan rombongan sowan ke KH Zainuddin Djazuli, pengasuh Ponpes Al-Falah, Ploso, Mojo. Silaturahmi sekitar satu jam di ndalem KH Zainuddin Djazuli ini dilakukan setelah Basarah bertemu dengan kyai NU wilayah Mataraman di Ponpes Lirboyo.

Menurut Basarah, kedatangannya di Kediri untuk bersilaturahmi dengan kalangan kyai memang disengaja. Hal ini sesuai dengan permintaan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

“Bu Mega mengamanatkan kepada generasi seperti kami, untuk melanjutkan tradisi baik yang telah dilakukan sejak zaman kemerdekaan,” kata Basarah.

Legislator DPR RI dari dapil 5 Jawa Timur ini mengatakan, hubungan baik antara ulama dengan partai sudah terjalin baik. Misalnya, saat pemerintahan Soekarno dengan KH Hasyim Asyari ataupun Bung Karno dengan tokoh NU lainnya dalam merebut kemerdekaan.

Jika ormas Islam besar seperti NU bersinergi dengan partai politik besar, seperti PDI Perjuangan, terang Basarah, bukan hanya dapat menjaga, mengawal negara Pancasila yang telah final ini. Tapi juga akan banyak yang bisa dikerjakan, termasuk di dalamnya pilkada serentak di Indonesia.

“Di pertemuan ini kami sampaikan amanat dari Ibu Mega, agar pilkada di Jatim dapat dijaga, dikawal, agar terselenggara aman, damai, tertib menghasilkan pemimpin yang amanat,” jelas dia.

Selain itu, pemimpin Jatim ke depan juga diharapkan bisa mengetahui denyut nadi masyarakat Jatim, mengetahui kemana masyarakat akan dibawa maupun dibangun.

NU dan PDIP, imbuhnya, sama-sama berkomitmen menjaga NKRI, dan empat pilar, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika, yang tidak boleh ditawar lagi, atau didiskusikan lagi. (goek)