Senin
24 Agustus 2026 | 3 : 44

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Dari Menak Sopal ke Kebaya Fatmawati, Yeni Membawa Cerita Trenggalek ke Panggung Nasional

pdip jatim 260814 kerudung nggalek 1

TRENGGALEK – Ada nama Trenggalek yang kini ikut berjalan menuju panggung nasional.

Nama itu bukan hanya tertulis di sebuah daftar peserta lomba. Ia hadir dalam selembar kebaya.

Di balik karya tersebut ada seorang perempuan asal Desa Karangan, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek. Namanya Yeni Purwati.

Minggu malam (23/8/2026), Yeni berdiri di antara para desainer terbaik Jawa Timur dalam kompetisi desain kebaya dan kerudung Fatmawati Trophy Regional Jawa Timur di Hotel Vasa Surabaya.

Karyanya dinobatkan sebagai salah satu dari tiga desain terbaik.

Dan itu berarti satu hal: Yeni mendapatkan tiket untuk membawa nama Jawa Timur ke tingkat nasional.

“Alhamdulillah, perjuangan yang sia-sia. Prestasi ini juga berkat dukungan warga Trenggalek. Mudah-mudahan Trenggalek semakin harum namanya,” kata Yeni, Senin (24/8/2026).

Namun, kemenangan itu bukan semata-mata tentang siapa yang desainnya paling indah.

Sebab Yeni datang membawa sebuah cerita.

Cerita tentang Trenggalek.

Cerita tentang sejarah.

Cerita tentang budaya.

Dan cerita tentang seorang perempuan bernama Fatmawati.

Karya yang mengantarkan Yeni ke tingkat nasional itu diberi nama Fatmawati Menak Sopal Trenggalek.

Nama tersebut bukan dipilih secara kebetulan.

Baca juga: Tiga Desainer Jatim Raih Tiket Nasional Fatmawati Trophy 2026

Yeni ingin mempertemukan sosok Fatmawati Soekarno dengan kekayaan sejarah dan budaya daerah yang membesarkannya.

Di satu sisi ada Fatmawati, perempuan yang dikenal sebagai sosok penting dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia.

Di sisi lain ada Menak Sopal, tokoh yang begitu lekat dengan cerita sejarah awal Trenggalek.

Dua nama dari ruang dan zaman berbeda itu kemudian bertemu dalam satu karya.

Sebuah kebaya.

“Menak Sopal bagi warga Trenggalek adalah tokoh yang dihormati kala itu,” ujar Yeni.

Bagi masyarakat Trenggalek, nama Menak Sopal bukan sekadar legenda.

Sosok tersebut menjadi bagian dari cerita tentang jejak awal Trenggalek sebagai sebuah wilayah yang berkembang dan memiliki pemerintahan yang mapan.

Karena itu, ketika nama Menak Sopal dibawa masuk ke dalam desain kebaya, yang hendak ditampilkan Yeni bukan sekadar ornamen.

Ada identitas yang ingin disampaikan.

Ada kebanggaan daerah yang ingin dikenalkan.

Dan ada pesan bahwa budaya lokal bisa berjalan berdampingan dengan desain modern.

Ketika Sejarah Menjadi Motif

Yeni mengerjakan desain tersebut dengan ketelitian dan penjiwaan.

Ia tidak sekadar memikirkan bagaimana kebaya terlihat indah ketika dikenakan.

Setiap bagian harus memiliki cerita.

Siluet kebaya dibuat modern untuk menghadirkan sosok perempuan yang anggun sekaligus cerdas.

Kemudian muncul motif bunga Sopal.

Ada pula gambaran ombak Laut Selatan.

Dan sentuhan visual tebing karst yang berada di Desa Watuagung, Kecamatan Dongko.

Potongan-potongan kecil dari Trenggalek itu kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan.

Seolah sebuah peta budaya Trenggalek sedang ditulis di atas kain.

“Jadi desain kebayanya menggambarkan sosok yang anggun dan potensi yang ada di Trenggalek. Nah, potensi ini diwujudkan dalam bentuk sebuah karya yang elegan dan bermakna,” katanya.

Di situlah kebaya karya Yeni menjadi lebih dari sekadar busana.

Ia menjadi media bercerita.

Orang yang melihatnya mungkin pertama-tama akan melihat keindahan potongan dan motif.

Tetapi ketika cerita di baliknya dijelaskan, setiap detail membawa penonton kembali kepada Trenggalek.

Kepada Menak Sopal.

Kepada laut selatan.

Kepada bentang karst.

Kepada bunga Sopal.

Dan kepada perempuan yang menjadi inspirasi utama kompetisi tersebut: Fatmawati.

Tiga Minggu yang Menentukan

Yang menarik, karya tersebut lahir dalam waktu yang relatif singkat.

Tidak lebih dari tiga minggu.

Dalam waktu tersebut, Yeni harus melewati rangkaian proses mulai dari mencari gagasan, merancang desain, menentukan detail motif hingga menyelesaikan kebaya.

Tiga minggu yang tentu bukan waktu panjang untuk sebuah karya yang membawa begitu banyak pesan.

Ada saat-saat ketika proses pengerjaan membuatnya terharu.

Terlebih ketika menyadari bahwa nama yang ia bawa adalah Fatmawati Soekarno, istri Presiden Soekarno sekaligus ibunda Megawati Soekarnoputri.

“Bangga, bagi kami Ibu Fatmawati dan Ibu Megawati Soekarnoputri panutan dan teladan bagi dalam bermasyarakat,” kata Yeni dengan nada haru.

Yeni sendiri bukan sosok yang jauh dari dunia organisasi.

Ia juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek.

Tetapi di panggung Fatmawati Trophy, ia tidak datang sekadar membawa identitas organisasi.

Ia membawa identitas daerah.

Itulah yang membuat pencapaiannya terasa berbeda bagi Trenggalek.

Ia tidak menyangka karyanya mampu bersaing dengan desain-desain dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Menurutnya, seluruh karya yang tampil memiliki kekuatan masing-masing.

Tidak ada yang bisa dianggap remeh.

Namun kepercayaan diri menjadi salah satu modalnya untuk membawa Fatmawati Menak Sopal Trenggalek sampai ke tiga besar.

Kini tantangannya bertambah.

Panggung regional telah dilewati.

Di depan mata sudah menunggu kompetisi tingkat nasional.

Yeni akan membawa kebaya yang lahir dari tiga minggu kerja keras itu untuk bertemu karya-karya terbaik dari daerah lain di Indonesia.

Tentu saja persaingannya tidak akan lebih mudah.

Tetapi setidaknya ia sudah memiliki sesuatu yang tidak bisa dimiliki peserta lain.

Sebuah cerita yang hanya bisa lahir dari Trenggalek.

Cerita tentang Menak Sopal.

Tentang alam.

Tentang budaya.

Dan tentang perempuan yang menjadi bagian dari sejarah bangsa.

Mungkin pada akhirnya kebaya itu bukan hanya soal siapa yang menjadi juara.

Sebab ketika nama Trenggalek disebut di panggung nasional, ketika orang mulai bertanya siapa Menak Sopal, seperti apa bunga Sopal, di mana Watuagung berada, atau seperti apa wajah budaya Bumi Menak Sopal, karya Yeni sudah menjalankan tugasnya.

Ia telah membawa sebuah daerah bercerita.

Dan barangkali itulah kemenangan pertama sebelum kompetisi nasional benar-benar dimulai.

Sebuah kebaya telah berubah menjadi cara sederhana bagi Trenggalek untuk memperkenalkan dirinya kepada Indonesia. (aziz/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KABAR CABANG

Dari Menak Sopal ke Kebaya Fatmawati, Yeni Membawa Cerita Trenggalek ke Panggung Nasional

TRENGGALEK – Ada nama Trenggalek yang kini ikut berjalan menuju panggung nasional. Nama itu bukan hanya tertulis di ...
KRONIK

Hasto Ajak Anak Muda Hidup Sehat: Dari Olahraga Kita Bangun Kekuatan Bangsa

SURABAYA — Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengajak anak-anak muda membiasakan hidup sehat ...
KRONIK

Cerita Risma Saat Baguna Selamatkan Anak Patah Tulang di Gempa NTT

SURABAYA – Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana, Tri Rismaharini, memimpin langsung aksi tanggap ...
KRONIK

Hasto Minta Pembakar Hutan di Kalimantan Diproses Tegas

SURABAYA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyoroti kebakaran hutan dan lahan ...
HEADLINE

Hasto Ungkap Lima Pesan Megawati untuk Kader PDI Perjuangan Jatim

SURABAYA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengungkap lima pesan Ketua Umum PDI ...
HEADLINE

Tiga Desainer Jatim Raih Tiket Nasional Fatmawati Trophy 2026

SURABAYA – Tiga desainer Jawa Timur berhasil meraih tiket menuju babak nasional Fatmawati Trophy 2026 setelah ...