oleh

Azyumardi: Bung Karno Paling Tidak Suka Mengafirkan Orang

-Berita Terkini, Kronik-22 kali dibaca

JAKARTA – Sejarawan Azyumardi Azra mengatakan, Presiden pertama RI Soekarno adalah pemikir islam yang reformis. Dia berpendapat, ajaran-ajaran Soekarno tentang Islam masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.

Dia mencontohkan, Bung Karno paling tidak suka mengafirkan orang. Menurut Azyumardi, Bung Karno selalu berpesan jangan mudah mengafirkan orang.

“Pesan Bung Karno sangat relevan, sekarang tambah banyak orang yang mengafir-kafirkan orang lain,” katanya, dalam acara Ngaji Bareng Bung Karno yang digelar Megawati Institute, di Jakarta, Jumat (16/7/2017).

Dia menambahkan, pada masa Bung Karno dulu, yang kerap dikafir-kafirkan adalah non-pribumi yang beragama non-Muslim. Kini, Azyumardi mengaku prihatin terhadap sesama Muslim pun saling mengafirkan.

“Padahal yang mengafirkan, orang itu yang kafir. Mereka tidak mau bersyukur, bisa tinggal di Indonesia yang damai, tapi tidak mau menghormati merah-putih, tidak mau menghormati Bhinneka Tunggal Ika, itu namanya kufur nikmat,” tuturnya.

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini menambahkan, Soekarno juga adalah sosok yang menentang negara khilafah.

“Khilafah itu ditolak oleh Bung Karno. Katanya itu sistem politik yang sudah ketinggalan zaman, ngapain kita ikut seperti itu. Bung Karno lebih senang negara demokratis, tapi agama tidak jadi faktor penting,” papar dia.

Sedang Wakil Sekjen PDI Perjuangan Ahmad Basarah di acara yang sama mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meluruskan sejarah mengenai Soekarno.

Menurutnya, pelurusan sejarah perlu dilakukan karena ada upaya de-Soekarnoisasi oleh pemerintahan orde baru.

TAP MPRS No. XXXIII/MPRS/1967, jelas Basarah, secara jelas menuduh bahwa Soekarno menguntungkan dan melindungi tokoh-tokoh Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G-30-S/PKI).

Namun, tuduhan itu tidak pernah bisa dibuktikan di pengadilan hingga Soekarno wafat.

“Bung Karno membawa beban sejarah yang sangat berat. Meninggal membawa beban berkhianat dengan bangsa dan negara yang beliau merdekakan,” ujarnya.

Setelah Soekarno wafat, lanjut Basarah, proses de-Soekarnoisasi masih terus berlanjut. Salah satu caranya adalah dengan memakamkan Soekarno di Blitar.

Padahal, Soekarno sudah meninggalkan pesan ingin dimakamkan di daerah pegunungan, yang ditafsirkan banyak orang sebagai Batutulis, Bogor.

“Kenapa Pak Harto memilih memakamkan Bung Karno di blitar? Karena saat itu Blitar adalah basisnya PKI,” ucap Ketua Fraksi PDI-P di MPR ini.

Akibat de-Soekarnoisasi ini, lanjut Basarah, masyarakat banyak mendapatkan pemahaman yang salah soal sosok Soekarno.

Oleh karena itu, dia berpendapat, pelurusan sejarah ini menjadi bagian tugas masyarakat bersama. (goek/*)

rekening gotong royong