TRENGGALEK – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengambil langkah cepat untuk merelokasi 14 warga terdampak bencana tanah gerak di Desa Pandean, Kecamatan Dongko. Keputusan ini dilakukan karena 14 rumah warga ini tidak mungkin dihuni kembali.
Saat meninjau lokasi tanah gerak bersama jajaran terkait, Sabtu kemarin, kepala daerah yang akrab disapa Gus Ipin itu memutuskan untuk memanfaatkan bangunan SDN 3 Pandean menjadi tempat relokasi sementara bagi warga terdampak.
Tercatat ada 16 rumah yang terdampak yang kesemuanya sementara diungsikan di bangunan eks SDN 3 Pandean.
Dari ke-16 rumah terdampak, 14 rumah sudah tidak mungkin dihuni kembali dan 2 rumah sisanya masih dimungkinkan dihuni kembali.
“Kelihatannya rumah yang lama tidak mungkin ditempati, karena berbahaya. Kebutuhannya tadi saya tanya apa, seperti air bersih, almari, peralatan masah dan bahan memasak, kasur dan juga selimut tadi kita bawa,” kata Arifin.
Menurut bupati yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek tersebut, pihaknya mempersiapkan perumahan, kebetulan ada bangunan sekolah yang sudah tidak difungsikan lagi.

“Rencananya akan kita modif, perbaiki untuk menjadi rumah hunian. Sekaligus kita siapkan dapur dan kamar mandinya sehingga nanti warga akan hidup kembali di sini. Jadi ini nanti akan menjadi perumahannya mereka,” ujarnya.
Sumarti, warga terdampak tanah gerak di Desa Pandean, Kecamatan Dongko menyebutkan kejadian tanah gerak terjadi sudah menahun, namun di bulan Oktober ini semakin parah. Keretakan pada dinding tembok semakin parah dan mereka tidak berani menempati.
“Parah pak dinding rumah retak-retak, kami tidak berani menempati. Bahkan ada yang sudah roboh,” ujar ibu rumah tangga ini bercerita.
Dia menambahkan, 16 KK yang terdampak itu sudah 4 hari ini tinggal di pengungsian eks. bangunan SDN 3 Dongko. Kebetulan bangunan sekolah itu kosong karena regrouping.
Suparni Kepala Desa Pandean membenarkan pernyataan warganya tersebut. Tanah gerak di daerahnya itu merupakan bencana menahun yang di awal bulan Oktober ini mulai bergerak kembali.
“Pada bulan ini tanah bergerak terus sehingga mengakibatkan keretakan- keretakan sehingga tidak mungkin untuk dihuni kembali. Untuk itu akhirnya saya mengambil kebijakan untuk mengungsi ke sekolah ini sementara sambil menunggu perkembangan untuk merelokasi rumah mereka,” terangnya. (man/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










