Kamis
15 Oktober 2026 | 7 : 27

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Andreas Gagas Perdagangan Karbon Berbasis Komunitas di CMC Tiga Warna Malang

pdip jatim 261015 cmc malang 1

MALANG – Pelestarian mangrove tak hanya berperan menjaga lingkungan, tetapi juga berpeluang membuka sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Andreas Eddy Susetyo, menggagas pengembangan ekosistem perdagangan karbon berbasis komunitas di kawasan Ekowisata Pantai Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna, Kabupaten Malang.

Gagasan tersebut diarahkan untuk menghubungkan upaya konservasi mangrove dengan perdagangan karbon, sekaligus memberi nilai tambah ekonomi bagi warga yang selama ini terlibat dalam pelestarian kawasan pesisir.

Untuk menjajaki peluang itu, Andreas mengajak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) meninjau langsung potensi CMC Tiga Warna, Kamis (15/10/2026). Kunjungan ini menjadi langkah awal untuk membahas pengembangan ekosistem karbon yang melibatkan komunitas lokal, mulai dari pengelolaan kawasan hingga kemungkinan masuk ke pasar karbon nasional.

Andreas menilai, pelestarian lingkungan perlu membuka manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat. Karena itu, ia mendorong agar potensi karbon biru atau blue carbon dari ekosistem mangrove dapat dikembangkan melalui mekanisme yang terukur dan sesuai ketentuan.

“Banyak perusahaan besar di Amerika yang siap membeli karbon dari Indonesia, terutama dari CMC Tiga Warna. Perusahaan-perusahaan ini sangat ingin agar aksi pelestarian bumi juga membawa dampak ekonomi nyata dan menyejahterakan masyarakat lokal,” kata Andreas.

Menurut politisi PDI Perjuangan tersebut, peluang pasar perlu diikuti kesiapan ekosistem di tingkat lokal. Masyarakat tidak cukup hanya menjadi penjaga kawasan konservasi, tetapi juga perlu memperoleh ruang untuk terlibat dalam rantai nilai ekonomi karbon.

Andreas menggagas gerakan berkonsep 3C, yakni *Conservation, Conversation,* dan *Community*, sebagai pendekatan untuk menghubungkan pelestarian lingkungan, dialog antarpemangku kepentingan, dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, CMC Tiga Warna diharapkan dapat menjadi percontohan pengembangan perdagangan karbon berbasis komunitas yang bisa dipelajari oleh kelompok pengelola mangrove di daerah lain.

“Melihat berbagai potensi dan konsen serius terhadap lingkungan yang telah dimiliki, saya yakin CMC bisa menjadi pionir dalam ekosistem perdagangan karbon berbasis komunitas di Indonesia,” ujarnya.

Pengembangan ekosistem ini juga dinilai berpotensi menciptakan peluang kerja baru, khususnya bagi generasi muda. Kegiatan konservasi, pemantauan lingkungan, pengelolaan data karbon, hingga pengembangan usaha pendukung dapat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang tumbuh seiring pengelolaan kawasan.

“Ini adalah jawaban alternatif bagi anak-anak muda yang sedang mencari lapangan kerja. Selain melestarikan bumi, kita juga bisa mendapatkan nilai ekonomi dan kesejahteraan dari sana,” kata Andreas.

Namun, peluang ekonomi tersebut tetap membutuhkan tata kelola yang jelas. Penghitungan serapan karbon, kepastian hak atas manfaat ekonomi, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan perlu dipastikan agar perdagangan karbon benar-benar memberi manfaat bagi komunitas setempat.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyatakan kesiapan untuk mendukung pengembangan rantai pasok ekosistem karbon berbasis komunitas di CMC Tiga Warna.

Menurut Hasan, potensi karbon dari ekosistem mangrove perlu didukung proses yang terintegrasi sebelum dapat diperdagangkan melalui bursa karbon.

“Karbon mangrove di sini menghasilkan blue carbon berkualitas tinggi dan diminati pasar domestik dan korporasi internasional. Hanya saja memang untuk sampai pada tahap perdagangan di bursa karbon, kita perlu membangun ekosistemnya dari hulu ke hilir secara terintegrasi,” papar Hasan.

Ia menjelaskan, pendampingan bersama kementerian dan lembaga terkait diperlukan untuk memastikan aspek legalitas, sertifikasi, serta pengukuran, pelaporan, dan verifikasi atau MRV. Proses tersebut juga mencakup integrasi unit karbon terverifikasi ke dalam Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI).

Tahapan itu penting agar potensi serapan karbon dapat dibuktikan melalui metodologi yang sesuai dan memenuhi persyaratan sebelum menjadi unit karbon yang dapat diperdagangkan.

Sejak bursa karbon Indonesia diluncurkan pada September 2023, pengembangan sumber pasokan unit karbon menjadi salah satu aspek yang perlu diperluas. Karbon biru dari ekosistem mangrove berpotensi menambah variasi sumber kredit karbon, sepanjang memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku.

Berdasarkan kajian akademis pada 2021, potensi serapan karbon di kawasan CMC Tiga Warna tercatat sekitar 3.600 ton ekuivalen dari biomassa di atas tanah (above-ground) dan sekitar 5.800 ton ekuivalen dari komponen bawah tanah (below-ground).

“Secara keseluruhan, penelitian awal menunjukkan potensi serapan hampir mencapai 10.000 ton ekuivalen hanya dari satu titik kawasan CMC ini saja,” jelas Hasan.

Ia menilai, upaya menjaga dan memperluas kawasan mangrove melalui pengelolaan ekowisata dan eduwisata berpotensi mendukung peningkatan manfaat ekologis kawasan. Meski demikian, besaran serapan aktual tetap memerlukan pengukuran dan verifikasi terbaru karena angka yang tersedia berasal dari kajian 2021.

Hasan mengapresiasi konsistensi pengelolaan CMC yang telah berjalan sejak 2005. Menurutnya, kolaborasi yang melibatkan komunitas, pemerintah, dan lembaga terkait dapat menjadi bagian penting dalam mengembangkan model pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

“Sinergi yang didorong Pak Andreas ini penting sekali. Kami juga apresiasi dan hormat atas konsistensi pengelolaan CMC yang telah berjalan sejak 2005. Ini bisa menjadi contoh konkret upaya pelestarian lingkungan berkelanjutan,” tandasnya.

Pengembangan perdagangan karbon berbasis komunitas di CMC Tiga Warna kini bergantung pada kesiapan tata kelola, pemenuhan standar verifikasi, dan skema pembagian manfaat yang jelas. Jika seluruh tahapan tersebut terpenuhi, konservasi mangrove berpeluang menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat pesisir sekaligus upaya menjaga lingkungan. (ull/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Pasar Ngadiluwih Kediri Segera Buka 24 Jam, Siapkan 805 Lapak untuk Pedagang

KEDIRI – Pasar Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, segera beroperasi dengan konsep 24 jam setelah revitalisasinya hampir ...
LEGISLATIF

Andreas Gagas Perdagangan Karbon Berbasis Komunitas di CMC Tiga Warna Malang

MALANG – Pelestarian mangrove tak hanya berperan menjaga lingkungan, tetapi juga berpeluang membuka sumber ekonomi ...
LEGISLATIF

Sidak Venue POPDA XV Jatim, DPRD Ngawi Temukan Mistar Gawang Goyang

NGAWI – Komisi III DPRD Kabupaten Ngawi menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah venue Pekan Olahraga ...
LEGISLATIF

Pelaku Usaha Mikro Tuban Didorong Berkoperasi

TUBAN – Upaya memperkuat perekonomian berbasis kerakyatan terus didorong di daerah. Anggota DPRD Jawa Timur Fraksi ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Pertanyakan Pengawasan Dishub, Pelanggaran Parkir Terjadi di Depan Petugas

SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mempertanyakan efektivitas pengawasan Dinas Perhubungan (Dishub) setelah ...
KRONIK

Anak Muda Magetan Didorong Tanggap Bencana, Manfaatkan Medsos hingga Turun Lapangan

MAGETAN – Generasi Z (Gen Z) dan kaum muda memiliki posisi strategis untuk menjadi motor penggerak sekaligus ...