BOJONEGORO – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Bojonegoro menggelar rangkaian kegiatan seremonial dan kebudayaan dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno.
Bertempat di Pendopo Kebon Ndalem, Desa Kauman, Kecamatan Baureno, Bojonegoro, acara ini dikemas secara membumi dengan melibatkan kader partai, seniman, sejarawan, serta masyarakat setempat.
Acara diselenggarakan pada Sabtu (13/6/2026) itu diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan “Mars Bung Karno Putra Marhaenisme” secara khidmat.
Suasana khusyuk berganti menjadi sarat kebudayaan saat para seniman dan seniwati lokal Bojonegoro mulai menggemakan pembacaan puisi-puisi karya Bung Karno. Aksi teatrikal tersebut semakin larut dalam estetika lokal berkat iringan musik tradisional gamelan gending Jawa.

Ketua DPC PDI Perjuangan Bojonegoro, Bambang Sutriyono, menyampaikan bahwa bulan Juni memiliki nilai historis yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. Juni menjadi momentum sakral karena mencakup hari lahirnya Pancasila, hari lahir Sang Proklamator, sekaligus momentum wafatnya Bung Karno.
”Kami bersama ditengah-tengah masyarakat dengan guyub mengadakan Bulan Bung Karno melalui berbagai rangkaian, termasuk seni dan budaya. Momentum ini mengajak kader dan masyarakat untuk merenung dan mewarisi ‘api’ perjuangan Bung Karno, terutama ideologi keberpihakan kepada kaum cilik guna menciptakan keadilan sosial,” ujar Bambang.
Membedah Catatan Sejarah Juli 1957
Tidak hanya menampilkan performa seni, peringatan haul kali ini juga mengagendakan bedah sejarah yang menghadirkan narasumber Dewangga Mega dari Artevak Nusantara. Diskusi ini mengupas tuntas fakta sejarah mengenai kunjungan resmi Presiden Soekarno di Bumi Angling Dharma pada Juli 1957 silam.

Berdasarkan catatan sejarawan Belanda dan buku memoar jurnalis Willem Oltmans yang berjudul Bung Karno Sahabatku, terungkap detail perjalanan dinas sang presiden di Bojonegoro sebagai berikut:
8 Juli 1957. Rombongan kepresidenan mendarat di Jawa Timur dan tiba di Bojonegoro pada 8 Juli 1957.
9 Juli 1957. Acara puncak kenegaraan berlangsung.
Adapun agenda utama, Bung Karno memilih merayakan Hari Raya Idul Adha di Bojonegoro. Beliau menunaikan ibadah Salat Id bersama warga di Masjid Agung Darussalam, dilanjutkan dengan pidato akbar di hadapan ribuan masyarakat yang memadati Alun-Alun Bojonegoro.
Selama di Bojonegoro, Bung Karno didampingi oleh sang istri, Ibu Hartini, dan bermalam di sebuah rumah dinas bergaya kolonial di Jalan Panglima Sudirman.
Selain pusat kota, jejak Bung Karno juga terekam di Kecamatan Baureno. Dalam lawatannya, Bung Karno tercatat sempat mengunjungi salah satu ulama kharismatik penggerak Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus pejuang kemerdekaan asal Desa Pasinan, yakni KH. Kholil Baureno (Mbah Cholil bin Abdullah Umar).

Inspirasi yang Tak Pernah Padam
Di sisi lain, daya pikat dan kharisma Soekarno dinilai tetap hidup di hati para pekerja seni.
Suswowahyudi, salah satu seniman Bojonegoro yang hadir, menyebut bahwa biografi perjuangan Soekarno selalu menjadi sumber inspirasi yang tidak ada habisnya.
”Saya sangat suka membawakan puisi Bung Karno, salah satunya yang berjudul ‘Aku Melihat Indonesia’. Puisi ini sering kali dibawakan saat festival nasional. Sosok Bung Karno selalu membawa kesan mendalam dan membakar semangat nasionalisme kita semua,” pungkas Suswo.(dian/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS









