NGAWI – Gedung Fatmawati DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi riuh dengan puluhan anak muda pada Jumat (29/5/2026) malam. Mereka duduk bersila menikmati pementasan teater “Mega-Mega”, karya sastrawan Arifin C. Noer.
Pementasan tersebut dibawakan oleh Teater Magnit. Dengan penuh ekspresi membawa lakon melalui tokoh-tokoh seperti Mae, Retno, Panut, hingga Tukijan. Karya tersebut mengangkat kisah tentang mimpi dan realitas kehidupan masyarakat kecil.
Di antara para penonton tampak Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko (Antok). Ia turut duduk bersila bersama penonton menikmati jalannya pertunjukan.
Menurut Mas Antok, kegiatan tersebut merupakan bentuk sinergi antara PDI Perjuangan dengan komunitas seni budaya di Kabupaten Ngawi.
“Ini adalah salah satu bentuk sinergi antara DPC PDI Perjuangan dengan komunitas seni budaya di Kabupaten Ngawi, salah satunya Teater Magnit,” ujarnya.

Ia mengapresiasi konsistensi Teater Magnit yang dinilai mampu menjadi wadah pengembangan bakat seni teater bagi pelajar tingkat SMA, SMK, hingga Madrasah Aliyah di Ngawi.
“Teater Magnit ini menjadi kebanggaan Ngawi karena sangat berkesinambungan dan konsisten memberikan wawasan seni teater kepada anak-anak usia sekolah,” katanya.
Pementasan “Mega-Mega” tersebut menjadi pertunjukan ke-107 yang digelar Teater Magnit. Mas Antok menilai kegiatan seni seperti ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi dan komunikasi sosial melalui nilai-nilai filosofis yang disampaikan dalam cerita.
“Teater Magnit menjadi sarana bersosialisasi sekaligus memberikan edukasi terkait nilai-nilai filosofis dari cerita yang dipentaskan,” jelasnya.

Wakil Bupati Ngawi itu berharap ke depan semakin banyak ruang dan momentum pementasan seni bagi anak-anak muda di Ngawi agar kreativitas mereka dapat terus berkembang dan terwadahi.
“Antusias anak-anak cukup luar biasa, baik yang hadir menonton maupun yang menyimak isi cerita dan nilai-nilai yang dipentaskan,” imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, Mas Antok juga menyinggung sejarah panjang seni teater dalam perjuangan bangsa Indonesia, termasuk yang pernah dilakukan Soekarno saat masa pengasingan di Ende.
“Dulu Bung Karno menjadikan tonil atau sandiwara sebagai sarana mengumpulkan masyarakat dan membangun semangat perjuangan. Jadi seni teater memiliki nilai sejarah perjuangan sebagai media komunikasi dengan masyarakat,” tandasnya. (amd/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










