PAGI itu, Sabtu (28/3/2026) sawah di Desa Gamping, Kecamatan Suruh, tak lagi sekadar ruang tanam. Lumpur berubah menjadi arena tawa. Ratusan warga turun ke petak-petak basah, saling berkejaran menangkap lele dengan tangan kosong. Teriakan riuh, tawa lepas, dan cipratan air menyatu dalam satu suasana: guyub.
Tradisi itu dikenal sebagai nggogo lele—bagian dari perayaan Kupatan, penanda tujuh hari setelah Idul Fitri. Sebuah momen yang bagi warga Trenggalek bukan sekadar perayaan, melainkan ruang untuk kembali saling menyapa, menghapus jarak, dan merajut ulang kebersamaan.
Di tengah keramaian itu, Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, tampak tak canggung. Ia berdiri di antara warga, sesekali tersenyum melihat anak-anak yang berlari membawa lele hasil tangkapan, atau orang dewasa yang tergelincir dan justru memancing gelak tawa. Tak ada sekat. Tak ada jarak.
Dari Gamping, langkah berlanjut ke Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan. Suasana serupa kembali terasa.
Warga memadati lokasi, menikmati ketupat gratis, sambil menyaksikan lomba memancing yang tak kalah meriah. Tua, muda, semua larut dalam satu irama: kebersamaan.
Kupatan, di sini, bukan hanya tentang makanan khas Lebaran. Ia adalah simbol. Ketupat yang dibelah, disajikan, lalu dimakan bersama, menyimpan pesan tentang keterbukaan, tentang hati yang kembali bersih.
Bagi Doding, tradisi ini adalah pengingat yang sederhana, tapi dalam. “Setelah satu bulan menahan hawa nafsu, kita kembali ke fitrah. Kita saling memaafkan, menjaga hubungan dengan sesama,” ujarnya.

Namun Kupatan tak berhenti pada relasi antarmanusia. Sekretaris DPC PDI Perjuangan Trenggalek ini juga menyentuh hubungan dengan alam dan warisan leluhur.
Dalam penuturan yang hidup di masyarakat, tradisi ini telah dikenal sejak masa Majapahit—sebuah jejak panjang yang terus dirawat lintas generasi.
Ketupat, atau kupat, dimaknai sebagai “siku papat”—empat sisi kehidupan: timur, barat, utara, dan selatan. Sebuah filosofi tentang keseimbangan. Tentang bagaimana manusia hidup selaras, tak hanya dengan sesama, tetapi juga dengan alam di sekitarnya.
Barangkali itu sebabnya perayaan ini tak pernah terasa kaku. Ia hidup, cair, dan membumi. Ada lumpur, ada tawa, ada makanan sederhana yang dibagi bersama—semuanya menjadi bahasa yang mudah dipahami siapa saja.
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, Kupatan justru hadir sebagai jangkar. Mengingatkan bahwa kebersamaan tak selalu harus mewah. Cukup dengan hadir, menyapa, dan berbagi.
Doding melihat itu sebagai kekuatan yang perlu dijaga. “Tradisi seperti ini mengajarkan kita kebersamaan dan kerukunan. Guyub rukun itu yang paling terasa,” tuturnya.
Ia pun berharap, tradisi Kupatan tak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Didukung, dirawat, dan tetap menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat.
Sebab di balik ketupat yang sederhana, tersimpan nilai yang tak lekang oleh waktu: tentang manusia, tentang hubungan, dan tentang harmoni.
Dan pagi itu, di sawah yang basah dan penuh tawa, semua nilai itu terasa nyata. (aris/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS











