Rabu
14 Oktober 2026 | 9 : 06

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

RS Swasta Lebih Dilirik dibanding Milik Pemerintah, Abidin: Kualitasnya Berbeda

PDIP-Jatim-Abidin-Fikri-30072024

SURABAYA – Masalah ketimpangan kualitas rumah sakit swasta dan milik pemerintah masih menjadi ‘pr’ besar pemerintah. Berdasarkan data CEIC hingga 2021 jumlah rumah sakit umum di Indonesia yang dimiliki oleh Swasta dan non-Swasta sekira 1.496 unit. Jumlah itu lebih banyak dibanding jumlah rumah sakit milik pemerintah.

Belum lagi perbedaan pelayanan yang membuat rakyat lebih memilih berobat di rumah sakit swasta yang tentunya berdampak ke pendapatan APBN.

Melihat hal tersebut, anggota Komisi IX DPR RI, Abidin Fikri, mengakui kualitas rumah sakit masih menjadi PR besar yang harus diselesaikan.

“Selama pemerintah tidak membenahi RS milik pemerintah sampai ke tingkat puskesmas pasti masyarakat akan lebih pilih RS Swasta,” ujarnya di Surabaya, Selasa (30/7/2-24).

Persoalan kesehatan, lanjutnya, memang sangat kompleks. Dari sisi pemerintah, pihaknya telah berupaya memberikan pemerataan ke pelosok daerah. Namun belum maksimal karena keterbatasan anggaran.

Karena itu rumah sakit swasta hadir, membantu pemerataan tersebut. Sayangnya hal tersebut tak dibarengi dengan pemerataan layanan.

“Tapi peran swasta ini bukan berarti kita stop membenahi layanan kesehatan milik pemerintah, tetap harus dibenahi agar rakyat punya pilihan,” tutur politisi PDI Perjuangan itu.

Ia mencontohkan pada Universal Health Coverage (UHC) yang berlaku saat ini. Idealnya pemerintah bisa menanggung 40 persen dari total rakyat indonesia, namun kenyataannya masih jauh dari itu.

“Persoalannya adalah keuangan negara belum memadai. Jadi dari jumlah rakyat miskin misal 100 juta, 40 persennya ditanggung pemerintah, tapi kita belum bisa sampai ke angka itu,” ucapnya.

Untuk itu, Abidin mendorong pengoptimalan lewat pengawalan kebijakan. Salah satunya pada rencana kebutuhan kesehatan tahunan yang saat ini sedang digarap Kementerian Kesehatan.

“Itulah yang akan dibiayai pemerintah. Sepanjang rencana tahunannya benar, ya kita akan bisa lebih baik,” tuturnya.

Dari rencana kebutuhan kesehatan tahunan tersebut, pemerintah akan merumuskan kebutuhan tenaga medis hingga cakupan UHC ke seluruh daerah.

“Ini juga pemerjntah sangat hati-hati. Makin tinggi yang ditanggung bpjs kesehatan membuktikan bahwa orang miskin tambah banyak, berarti ekonomi kita belum tumbuh,” pungkasnya. (nia/set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Apresiasi Dedikasi Guru Ngaji, Hj. Ansari PDIP Salurkan Bantuan untuk Nenek Suidah

PAMEKASAN – Ketulusan Nenek Suidah (100), guru ngaji sebatang kara asal Dusun Toronan, Desa Larangan Badung, ...
KRONIK

Bantu Warga Terdampak Kekeringan, Nur Hakim PDIP Distribusikan Air Bersih

BANGKALAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Bangkalan, Nur Hakim, menyalurkan bantuan air bersih pada ...
KRONIK

Dugaan Pungli Lahan Perhutanan Sosial, DPRD Jember Minta Dinas Kehutanan Jatim Buka Data KHDPK

JEMBER – Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Jember, Candra Ary Fianto, meminta Cabang Dinas Kehutanan Jawa Timur membuka ...
LEGISLATIF

Fraksi PDI Perjuangan Sumenep Beri Catatan atas Alokasi Belanja di APBD 2027

SUMENEP – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Sumenep memberikan sejumlah catatan terhadap rancangan APBD 2027, ...
LEGISLATIF

Deni Wicaksono Ajak Warga Trenggalek Rawat Toleransi untuk Perkuat Pembangunan Daerah

TRENGGALEK – Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Deni Wicaksono mengajak masyarakat Trenggalek terus memupuk toleransi dan ...
SEMENTARA ITU...

Sanusi Dorong TMMD Berlanjut Tiap Tahun, Pemerataan Infrastruktur Desa Jadi Prioritas

MALANG – Bupati Malang HM Sanusi mendorong program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) terus berlanjut setiap tahun ...