Selasa
01 September 2026 | 8 : 29

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

1 Suro, Warga Dongko Trenggalek Gelar Upacara Adat Ngetung Batih

pdip-jatim-240708-ngetung-batih-1

TRENGGALEK – Rayakan tahun baru hijriah atau bulan Suro, warga Dongko, Trenggalek menggelar upacara adat Ngetung Batih atau menghitung keluarga, Minggu (7/7/2024).

Tradisi yang telah dilakukan turun-temurun ini diawali dengan kirab takir plontang dan aneka sesaji dari ruas jalan utama kecamatan menuju lapangan Blimbing, Kecamatan Dongko.

Takir plontang dan aneka sesaji tersebut kemudian diserahkan ke pemimpin kecamatan untuk dilakukan doa bersama dipimpin tokoh adat setempat.

Salah satu momen yang ditunggu adalah rebutan takir plontang, masyarakat yang hadir di lokasi adu cepat untuk mendapatkan aneka sajian tersebut.

Tak hanya itu, sejumlah ayam hidup yang dilepas oleh para pejabat dan tokoh menjadi rebutan masyarakat.

Dilansir dari detikjatim, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan tradisi Ngetung Batih saat ini juga menjadi ajang berbagi.

Karena setelah upacara berlangsung dilakukan pembagian takir dan ayam kepada masyarakat.

“Upacara adat Ngetung Batih telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai warisan budaya tak benda, sehingga perlu kita lestarikan,” beber Mas Ipin, sapaan akrabnya.

Pihaknya berharap dalam menapaki tahun baru hijriah mendatang masyarakat di Kecamatan Dongko maupun Trenggalek diberikan keberkahan dan dijauhkan dari marabahaya.

“Semoga Allah memberikan Rahmat kepada kita semua. Semoga di Dongko maupun Trenggalek pada umumnya tidak ada bencana,” ucapnya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek Sunyoto, mengatakan upacara adat Ngetung Batih di Kecamatan Dongko digelar setiap menjelang pergantian tahun baru Hijriah.

“Ngetung Batih itu adalah menghitung anggota keluarga. Maknanya apa, pada malam pergantian tahun orang itu introspeksi apa yang telah dilakukan sebelumnya, sekaligus bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa,” kata Sunyoto.

Menurutnya, dalam upacara adat ini, sekaligus menjadi momentum untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tahun berikutnya diberikan keberkahan, keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya.

“Jadi maknanya syukur dan permohonan. Syukur atas yang dicapai tahun ini dan permohonan untuk tahun berikutnya,” ujarnya. (putera/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Novita: Semangat Kebersamaan Hari Jadi Trenggalek Harus Jadi Energi Percepat Pembangunan

TRENGGALEK — Semangat kebersamaan dan gotong royong yang tercermin dalam peringatan Hari Jadi ke-832 Kabupaten ...
LEGISLATIF

Raperda Disabilitas Jatim: Pemprov dan BUMD Wajib Pekerjakan Penyandang Disabilitas Minimal 2%

SURABAYA — Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) akan diwajibkan menjadi pelopor dalam ...
KABAR CABANG

DPC Gresik Bantu 20.000 Liter Air Bersih Warga Pesisir Terdampak Kekeringan

GRESIK – Kemarau panjang mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di wilayah pesisir utara Kabupaten Gresik. ...
LEGISLATIF

PAK APBD 2026 Naik Rp149,62 M, DPRD Kota Malang Minta Anggaran Dikembalikan ke Rakyat

MALANG — Proyeksi kenaikan belanja daerah Kota Malang sebesar 6,03 persen atau Rp149,62 miliar dalam Perubahan APBD ...
LEGISLATIF

Komisi C DPRD Jatim Suntik Rp4,6 Miliar ke 23 OPD, Fuad: Untuk Optimalkan PAD

SURABAYA — Komisi C DPRD Jawa Timur merekomendasikan tambahan anggaran Rp4,6 miliar untuk 23 organisasi perangkat ...
KRONIK

PBNU Punya Pemimpin Baru, Gus Falah Dorong NU Semakin Solid dan Berdaya bagi Umat

JAKARTA — Kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diharapkan tidak hanya mampu menjaga ...