Selasa
20 Oktober 2026 | 11 : 28

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

1 Suro, Warga Dongko Trenggalek Gelar Upacara Adat Ngetung Batih

pdip-jatim-240708-ngetung-batih-1

TRENGGALEK – Rayakan tahun baru hijriah atau bulan Suro, warga Dongko, Trenggalek menggelar upacara adat Ngetung Batih atau menghitung keluarga, Minggu (7/7/2024).

Tradisi yang telah dilakukan turun-temurun ini diawali dengan kirab takir plontang dan aneka sesaji dari ruas jalan utama kecamatan menuju lapangan Blimbing, Kecamatan Dongko.

Takir plontang dan aneka sesaji tersebut kemudian diserahkan ke pemimpin kecamatan untuk dilakukan doa bersama dipimpin tokoh adat setempat.

Salah satu momen yang ditunggu adalah rebutan takir plontang, masyarakat yang hadir di lokasi adu cepat untuk mendapatkan aneka sajian tersebut.

Tak hanya itu, sejumlah ayam hidup yang dilepas oleh para pejabat dan tokoh menjadi rebutan masyarakat.

Dilansir dari detikjatim, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan tradisi Ngetung Batih saat ini juga menjadi ajang berbagi.

Karena setelah upacara berlangsung dilakukan pembagian takir dan ayam kepada masyarakat.

“Upacara adat Ngetung Batih telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai warisan budaya tak benda, sehingga perlu kita lestarikan,” beber Mas Ipin, sapaan akrabnya.

Pihaknya berharap dalam menapaki tahun baru hijriah mendatang masyarakat di Kecamatan Dongko maupun Trenggalek diberikan keberkahan dan dijauhkan dari marabahaya.

“Semoga Allah memberikan Rahmat kepada kita semua. Semoga di Dongko maupun Trenggalek pada umumnya tidak ada bencana,” ucapnya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek Sunyoto, mengatakan upacara adat Ngetung Batih di Kecamatan Dongko digelar setiap menjelang pergantian tahun baru Hijriah.

“Ngetung Batih itu adalah menghitung anggota keluarga. Maknanya apa, pada malam pergantian tahun orang itu introspeksi apa yang telah dilakukan sebelumnya, sekaligus bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa,” kata Sunyoto.

Menurutnya, dalam upacara adat ini, sekaligus menjadi momentum untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tahun berikutnya diberikan keberkahan, keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya.

“Jadi maknanya syukur dan permohonan. Syukur atas yang dicapai tahun ini dan permohonan untuk tahun berikutnya,” ujarnya. (putera/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Amithya Dorong Ekonomi Hijau Berbasis Komunitas Urban di Kota Malang

MALANG – Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita mendorong penerapan ekonomi hijau ...
KRONIK

Gandeng Kementerian Kehutanan, Sonny Edukasi Warga Cegah Kebakaran Hutan

SITUBONDO – Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, mendorong keterlibatan masyarakat sekitar kawasan ...
KABAR CABANG

PAC PDI Perjuangan Kalianget Gelar Lomba Layangan Tenong, Hadiah Mobil dan Paket Umrah

SUMENEP – Pimpinan Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, sukses menggelar lomba ...
LEGISLATIF

RAPBD Jember Rp 5,5 Triliun Belum Dibahas, Widarto Soroti Ketidaksiapan Pemkab

JEMBER – Pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kabupaten Jember 2027 belum dimulai ...
KRONIK

Festival Anak Sholeh, Ikhtiar Cetak Generasi Berprestasi dan Berakhlak Mulia

BANYUWANGI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi berikhtiar membentuk generasi muda yang tidak hanya ...
KRONIK

Perda Lingkungan Jember Terancam Jadi Macan Kertas, Candra Desak Anggaran Perlindungan Gumuk

JEMBER – Perlindungan gumuk di Kabupaten Jember tak cukup berhenti pada pengesahan peraturan daerah. Ketua Komisi B ...