Segenggam Lumpur Lapindo untuk Komitmen Jokowi

jokowi dapat segenggam lumpur lapindoSIDOARJO — Capres Joko Widodo mendapat ‘hadiah’ segenggam lumpur, sesaat tiba di lokasi semburan lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo, Kamis (29/5/2014) sore. Segenggam lumpur dari jutaan kubik yang meluap sejak 2006 lalu itu diterima Jokowi dari seorang warga setempat yang badannya tertutup lumpur.

Calon presiden yang diusung PDI Perjuangan, Partai Nasdem, PKB, Partai Hanura, dan PKPI itu menerima lumpur Lapindo dengan tangan kanannya tanpa ragu. Sontak, ribuan warga yang berjejer di tepi tanggul luapan lumpur tersebut bertepuk tangan sambil bersorak-sorai. Mereka juga meneriakkan yel-yel “Jokowi presiden” berkali-kali.

Setelah menyerahkan segenggam lumpur, korban Lapindo itu kembali ke sisi tiga warga lainnya yang juga penuh lumpur. Di belakang sisi kanan, seratus lebih patung korban lumpur Lapindo, berdiri seakan ‘menyaksikan’ prosesi penyerahan lumpur ke Jokowi

Warga korban luapan lumpur mengibaratkan lumpur di tangan Jokowi tersebut sebagai janji dan komitmennya akan keberpihakannya kepada korban lumpur PT Lapindo Brantas. Komitmen politisi yang kini menjabat Gubernur DKI Jakarta terhadap kaum miskin itu juga tertuang dalam kontrak politik yang diteken Jokowi.

Isi kontrak politik itu, pertama mewujudkan kartu Indonesia pintar, kedua kartu Indonesia sehat, ketiga bukan menggusur tapi menggeser dan menata, keempat beri dana talangan untuk korban lumpur Lapindo, kelima memberi lapangan pekerjaan.

Patung-patung yang Berduka

Ikhwal 110 patung manusia setinggi sekitar 2 meter di titik 21 tanggul lumpur, menurut seniman pembuatnya, Dadang Christanto, bisa ditafsirkan dari berbagai aspek, tergantung siapa yang memaknainya. “Patung berbaris menunjukkan korban lumpur yang kehidupannya dulu sangat bermasyarakat, tapi sekarang tercerai-berai,” kata Dadang.

Mereka berbaris dengan tangan menengadah sambil memegang rongsokan peralatan rumah tangga yang dilumuri lumpur. Kata Dadang, tangan menengadah ke atas pertanda berkabungnya korban lumpur Lapindo atas bencana yang mungkin tak ada duanya di dunia ini. “Dalam ilmu seni, tangan menengadah memberi kesaksian bahwa sedang berduka cita,” jelasnya.

Sedang alat-alat rumah tangga yang dibawa menunjukkan bahwa barang-barang serta rumah para korban lumpur sudah tenggelam. Oleh karena itu, peralatan rumah tangga itu sengaja dilumuri lumpur.

Idham Kholid Ali, salah satu penyintas asal Desa Jatirejo yang kehilangan rumah serta tanah kelahirannya berharap, peringatan delapan tahun lumpur Lapindo ini menjadi yang terakhir dengan segera diselesaikannya pembayaran ganti rugi. “Mudah-mudahan untuk (pemerintahan) yang akan datang ini bisa menyelesaikan dari korban lumpur ini, artinya bisa menyelesaikan uang-uangnya yang belum terlunasi. Pokoknya terselesaikan semua,” ujarnya. (pri)