Politik Merangkul PDI Perjuangan dan Jokowi

SEPERTI Sukarno, Joko Widodo ( Jokowi) terlalu mencintai rakyat dan tidak ingin NKRI terbelah. Saking cintanya pada Indonesia dan demi persatuan bangsa, misalnya, Sukarno bahkan menolak melawan Suharto—sekalipun dimungkinkan oleh dukungan rakyat—saat dilengserkan pada akhir kekuasaannya.

Jokowi pun tak beda. Hal ini bisa dilihat antara lain saat Jokowi berpidato di Sentul pada Sabtu (4/8/2018).

Salah satu pernyataan Jokowi, “Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi kalau diajak berantem juga berani.”

Jokowi mengajak bersatu dan berantem hanya untuk mempertahankan diri. Jokowi juga mengikuti Sukarno soal asumsi perlunya persatuan, sebelum dan setelah kemerdekaan.

Ini penting mengingat bahwa bangsa ini mempunyai semua syarat untuk pecah, baik dari aspek SARA maupun dari aspek geografisnya yang berbentuk negara kepulauan.

Namun yang lebih penting, persatuan atau dukungan yang kuat diperlukan demi mendukung pelaksanaan strategi TriSakti untuk menjalankan Nawacita II.

Oleh karenanya, bukan sekadar bisa menambah suara untuk memenangkan pilpres, Jokowi juga harus bisa membentuk pemerintahan yang kuat (strong government) setelah memenangkan pilpres.

PDI Perjuangan jauh hari telah memulai kerja untuk membentuk koalisi besar dengan membuka pintu lebar bagi semua partai politik demi mendukung Presiden Jokowi.

Selain menyiapkan platform pembangunan Nawacita II, PDI Perjuangan juga aktif mengondisikan pembentukan koalisi besar, yang syaratnya termasuk dengan merelatifkan dan bahkan mentransformasikan kepentingan-kepentingan subyektif partai.

Sebagai konsekuensi ideologi partai yang merangkul semua golongan ke dalam satu rumah besar Pancasila, PDI Perjuangan harus bekerja untuk menjahit keterbelahan atau polarisasi dalam masyarakat.

PDI Perjuangan harus membuka pikiran, hati, dan kehendak untuk merangkul sebanyak mungkin para pihak yang “berseberangan”, untuk diajak dialog dan bekerja sama (kolaborasi) menuju tujuan yang sama.

Sebagaimana sudah ditunjukkan oleh tim bola Prancis di Piala Dunia 2018, PDI Perjuangan juga meyakini bahwa keberagaman itu sumber kekuatan, kreativitas, inovasi, dan kecerdasan-kecerdasan baru.

PDI Perjuangan berusaha semaksimal mungkin mengakomodasi keberagaman (multikultural) dalam berpolitik yang tentu sepakat dengan platform partai yaitu Pancasila.

Akomodasi keberagaman ini sudah dimulai dengan kebijakan dalam penyusunan daftar calon legislatif (caleg) yang mengejutkan banyak orang termasuk para kader di internal PDI Perjuangan.

Misalnya, tiba-tiba ada banyak wajah baru dari kalangan tokoh dan aktivis Islam mengisi daftar caleg DPR RI secara merata di semua dapil.

PDI Perjuangan paham bahwa fakta baru berupa meroketnya kesadaran beragama global— termasuk di Indonesia—harus direspons secara positif. Daripada mereka terbajak oleh diskursus paham pro-intoleransi, demi NKRI mereka diwadahi dalam Bamusi yang mempromosikan pro-toleransi dan kebangsaan.

Masuknya almarhum Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan dan Kapitra Ampera yang adalah pengacara Rizieq Sihab, menimbulkan pula debat seru di media massa dan media sosial.

PDI Perjuangan merangkul mereka untuk memilih Islam yang toleran dan melindungi keberagaman (rahmatan lil alamin) serta tidak untuk mengganti ideologi negara Pancasila.

Banyak wajah baru juga datang dari kalangan purnawirawan TNI dan Polri serta artis. Kehadiran para artis ini bahkan telah menempatkan PDI Perjuangan di peringkat kedua sebagai parpol yang terbanyak merekrut para artis.

Keadaan baru ini memaksa Badiklatpus DPP PDI Perjuangan menyelenggarakan pembekalan khusus bagi para pendatang baru ini secara terpisah. Strategy outreach (menjangkau, pelibatan) ini bukan sekadar karena kelapangan dan kedewasaan pribadi Ketum PDI Perjuangan dan presiden, melainkan juga adalah perintah ideologi Pancasila sebagai dasar negara.

Karena itu, Pancasila yang intinya adalah gotong-royong harus dipakai untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Kepribadian bangsa Namun, jangan lupa bahwa Pancasila adalah juga sebagai kepribadian bangsa, sehingga kualitas kepribadian para pemimpin yang pro-Pancasila akan meletakkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi.

Karenanya, pantaslah jika para pemimpin tidak ada dendam, prasangka, atau permusuhan personal di antara mereka. Hal ini antara lain bisa dilihat pada Kamis (9/8/2018) petang, ketika pak Ma’ruf Amin dirangkul, diberi penghormatan menjadi bakal cawapres oleh para ketum parpol koalisi dan pak Jokowi.

Para pemimpin telah memberi contoh kebesaran jiwa dan pandangan yang responsif terhadap kebutuhan masa depan (visionary), yaitu soliditas dan persatuan bangsa. Ada pengorbanan itu pasti.

Tidak ada kemajuan tanpa ada pengorbanan hari ini. Namun, kita menabung keuntungan yang lebih besar pada masa mendatang.

Para pendukung Jokowi dan PDI Perjuangan sepatutnya merenungkan pesan penting dari perhelatan politik yang sarat kemuliaan pada Kamis malam, yaitu persatuan. Penunjukan Kak KH Ma’ruf Amin sebagai bakal cawapres telah mempersatukan partai-partai koalisi dan para relawan pendukung pak Ma’ruf dengan pendukung Jokowi.

Penunjukan tersebut juga upaya menabung penciptaan politik yang berkeadaban, masyarakat yang semakin tidak terpolarisasi, serta bangsa yang tidak terbelah alias makin berbaur (multikultural).

InsyaAllah, kehadiran Pak Ma’ruf akan meredam serangan-serangan berdimensi SARA sehingga pak Jokowi bisa konsentrasi untuk bekerja memajukan kesejahteraan.

Pak Ma’ruf juga diharapkan mampu mengekspresikan kapasitasnya di bidang perekonomian dan keuangan demi terwujudnya perekonomian gotong-royong Pancasila yang Islami.

Kepemimpinan Presiden Jokowi dan Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri telah memaksa kami untuk mentransformasi diri agar transformasi bangsa bisa kita wujudkan.

Kita diajak bersama-sama menuju politik yang pro-damai agar tujuan demokrasi—yaitu keadilan sosial—bisa kita wujudkan. Mari mengubah diri untuk mendukung perubahan yang sudah dimulai pak Jokowi sejak 4 tahun lalu. (kompas)