Percaya Pileg Tapi Tidak Pilpres, Hasto: Jadi Catatan Kelam Tradisi Demokrasi

JAKARTA – Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto menilai sikap Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga sama sekali tidak dewasa karena hanya memercayai hasil Pileg, tapi tidak dengan Pilpres.

“Itu suatu sikap yang tidak dewasa karena akan menjadi catatan kelam di dalam tradisi demokrasi,” kata Hasto, saat di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (17/5/2019).

Sebelumnya, juru bicara BPN, Andre Rosiade, mengatakan, pernyataan Prabowo yang menolak hasil pemilu dalam konteks Pilpres 2019. Menurut dia, hal itu sudah jelas karena pernyataan ini disampaikan Prabowo yang merupakan capres.

Hasto kembali mengingatkan kubu Prabowo bahwa berdasarkan hasil survei sebanyak 92 persen masyarakat mempercayai hasil Pemilu 2019. Sikap ini, menurut Hasto, seharusnya dicontoh para elite politik.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan ini juga mengingatkan jika ada yang menolak hasil Pemilu 2019, maka sama saja tidak menyepakati atau melanggar kontrak politik yang dibuat pada saat deklarasi damai.

Hasto mengatakan, pelaksanaan Pemilu 2019 patut diapresiasi oleh seluruh pihak. Sebab, tingkat partisipasi pemilihnya mencapai 81 persen. Situasi ini menunjukkan bahwa dari aspek legalitas dan legitimasi memenuhi seluruh syarat Pemilu yang demokratis, jujur, dan adil.

Menurut Hasto, BPN Prabowo-Sandiaga hanya percaya tentang apa yang mereka rasa menguntungkan. Sementara demokrasi itu, kata Hasto, adalah kehendak rakyat yang harus diterima semua elite politik.

“Rakyat sudah menyampaikan dukungannya. Itu lah yang kami percaya. Kalau kami lihat seluruh sistem telah dibangun dengan baik. Bahkan proses pemilihan KPU, Bawaslu, itu melalui proses yang sangat demokratis dan dimenangkan bagian dari Gerindra dan PKS saat itu,” imbuhnya.

Pihaknya juga memprediksi pasangan calon 01 Jokowi-Ma’ruf unggul jauh dari Prabowo-Sandiaga. Selisih perolehan suaranya diprediksi sekitar 19,3 juta.

“Perbedaan antara suara Pak Jokowi-Kiai Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi diperkirakan di atas 19,3 juta,” ujarnya. (goek)