Kanang Canangkan Nona Sari

penganan non nasiNGAWI – Aneka hidangan berbahan dasar singkong tersaji di atas meja panjang. Ada penganan tradisional seperti getuk, nasi tiwul, gatot, hingga yang modern seperti pudding, cake singkong, dan biscuit. Masyarakat dan tamu undangan yang sedang mengikuti acara tanam pohon dan tebar benih Ngawi Ijo Royo-royo di Desa Sine dan Desa Kuniran Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi pun berduyung-duyung menghampiri deretan meja makan, Kamis (11/12/2014) lalu.

Bupati Ngawi Budi Sulistyono dan istri Ny Antiek yang datang bersama wakil bupati Ony Anwar beserta Istri langsung mengambil nasi tiwul, urapan sayur dan botok seraya menyantapnya lahap.

“Tiwulnya mantap, warnanya macam-macam, coklat, hitam, putih, jadi menarik. Rasanya sama-sama enak,” ujar Kanang sapaan akrab Budi Sulistyono yang mengaku sudah terbiasa makan tiwul.

Pemkab Ngawi memang mencanangkan program no nasi selama satu hari atau disingkat nonasari. Selama satu hari seluruh jajaran pegawai di kantor pemkab mengganti bahan makan dengan olahan singkong. Tujuannya menurut Kanang, untuk mewujudkan ketahanan pangan dengan menaikkan harga jual singkong.

“Sekarang makanan berbahan dasar singkong sudah banyak diburu kalangan elit karena lebih sehat dan bebas bahan kimia,” kata Kanang. “Dan yang lebih penting warga dapat memanfaatkan pekarangan untuk menanam tanaman pangan sederhana kaya manfaat ini,” tambah dia.

Kanang mengungkapkan programnya ini selaras dengan hidangan singkong wajib dalam rapat dinas yang dicanangkan Presiden Jokowi. “Jadi kami memang sehati ya. Visinya sama. Ketahanan pangan. Mewujudkan kesejahteraan rakyat dengan mengangkat popularitas singkong. Ini kekayaan kita yang mesti dijaga dan dinaikkan pamornya, ” lanjut pria yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Ngawi ini.

Untuk mewujudkan itu, Ny Antiek selaku Ketua Penggerak PKK Ngawi mengaku telah melakukan pembinaan aneka olahan singkong bagi ibu rumah tangga. “Jadi kita ajari inovasi aneka olahan singkong. Bahan dasar murah tapi rasa tidak mengecewakan. Kebutuhan pangan dan gizi keluarga terpenuhi, dan bisa menambah penghasilan keluarga,” ujar dia.

Hal ini selaras dengan program Ngawi ijo royo-royo. Penanaman pohon dimaksudkan untuk mengembalikan ekosistem hutan dan memanfaatkan lahan kosong. Sementara penggalakan tanaman sayur dan toga di pekarangan yang ada disekitar rumah penduduk agar bisa dibuat kebutuhan sehari-hari.

“Dengan menanam cabai, terong, kunyit dan sebagainya masyarakat tidak tergantung dengan hasil alam dari luar. Halaman rumahnya bisa memenuhi kebutuhan gizinya,” pungkas Kanang. (sa)