Jokowi Nyalakan Api Islam Bung Karno

zuhairi misrawiZuhairi Misrawi

DALAM sebuah perayaan Maulid Nabi di Istana Negara, 1 Juli 1966, Bung Karno menyampaikan pidato spektakuler, “Umat Islam adalah umat yang di dalam dadanya itu api Islam berkobar menyala-nyala. Umat Muhammad SAW bukan umat yang hanya menghendaki gorengan ayam terbang ke mulutnya, tidak. Umat Muhammad SAW adalah umat yang bertempur berjuang membanting tulang, mengulur tenaga, dan memeras keringat. Itulah umat Muhammad SAW.”

Bung Karno menambahkan, umat Islam adalah umat yang senantiasa mempunyai kemauan untuk berubah, sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran, Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah nasib mereka sendiri. Bung Karno mengutarakan, ia selalu merujuk kepada pengalaman hidup dan perjuangan Nabi Muhammad SAW, karena beliau adalah teladan bagi umat.

Pada kesempatan lain, dalam peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, pada tanggal 15 Maret 1960, Bung Karno menegaskan pentingnya amal: kerja, tindakan, dan perbuatan. Islam, kata Bung Karno, bukan hanya agama untuk mengetahui jalan yang benar, tetapi agama amal, the gospel of action.

Kedua pesan Bung Karno di atas benar-benar meresap dalam diri Jokowi. Di harian Kompas, capres nomor urut 2 itu menulis pentingnya revolusi mental dalam konteks berbangsa dan bernegara. Jokowi mengamati, bahwa masalah serius yang dihadapi bangsa ini terkait dengan rapuhnya mental.

Harus diakui dengan jujur, bahwa negeri ini dengan segala rahmat dan nikmat yang dianugerahkan Tuhan, mestinya bisa sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Demokrasi berjalan dengan baik sejak reformasi, tetapi kemiskinan masih merajalela. Wibawa negara hilang, ekonomi terus melambat, dan intoleransi menjamur. Semua itu membutuhkan pemikiran genuine untuk mengangkat kembali spirit seluruh warga.

Jokowi menegaskan perlunya revolusi mental. Ia menulis, “Revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan nasional. Usaha kita bersama untuk mengubah nasib Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, adil, dan makmur. Kita harus berani mengendalikan masa depan bangsa kita sendiri dengan restu Allah SWT. Sebab, sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu bangsa kecuali bangsa itu mengubah apa yang ada pada diri mereka.”

Pemikiran yang digariskan Jokowi pada hakikatnya sejalan dengan pemikiran Bung Karno. Sejak mendapat mandat untuk maju sebagai calon presiden, ia menggarisbawahi pentingnya Trisakto Bung Karno sebagai visi dan pijakan dalam membangun bangsa, yaitu berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Untuk mencapai itu semua, diperlukan “Api Islam”, yaitu semangat yang diinspirasikan oleh Nabi Muhammad SAW agar setiap umat Islam terus bergerak, berbuat, bekerja dan beramal untuk kemajuan bangsa. Negeri ini tidak akan pernah merasakan nikmatnya kemajuan dan kebangkitan, jika setiap warganya tidak mempunyai mindset untuk bersama-sama berbakti dan berbuat untuk kemaslahatan bangsa.

Dalam mewujudkan itu semua, Jokowi menegaskan perlunya memulai dari diri-sendiri. Jokowi menegaskan, dalam skala yang relatif kecil, ia sudah memulai revolusi mental saat menjabat Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Ia berhasil membangun optimisme dan kebersamaan bagi warganya.

Kata kuncinya, selama kita mau melakukan agenda-agenda perubahan bagi negeri ini, maka tidak ada hal yang mustahil. Semua itu, harus berangkat dari ketulusan niat dari para pemimpinnya. Di sini, keteladanan pemimpin sangat diperlukan untuk membangun gerakan revolusi mental yang bersifat massif.

Jika terpilih menjadi Presiden RI, Jokowi akan mulai pembangunan mental bangsa dari pendidikan sejak SD hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Ia canangkan program Kartu Indonesia Pintar, yang secara serius akan menggerakkan wajib belajar nasional 12 tahun. Di samping itu, Jokowi akan memberikan beasiswa kepada anak-anak pintar yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan tinggi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Bahkan, dalam jangka panjang, Jokowi akan mensinergikan antara dunia pendidikan, riset, dan lapangan pekerjaan.

Di sini, Jokowi sangat menggarisbawahi pentingnya pendidikan untuk membangun revolusi mental. Pembangunan mental mutlak diperlukan, sehingga setiap warga dapat memikul beban yang sama untuk membangun negeri. Apalah artinya pemimpin sebuah bangsa yang dipilih secara demokratis, tetapi warganya tidak mempunyai mental yang sama untuk bersatupadu dalam membangun bangsa.

Jokowi sebenarnya ingin menghidupkan revolusi mental dari bottom up, yang dimulai dari kecintaan terhadap bangsa dan kemauan untuk mewujudkan kemajuan. Ia sudah terbukti menjadi pemimpin yang mampu menggerakkan warga, khususnya di Solo dan Jakarta, bahwa hakikatnya kita mampu bangkit dari keterpurukan jika kita mempunyai komitmen yang kuat untuk melakukannya.

Maka dari itu, revolusi mental yang digelorakan Jokowi sebenarnya ingin mengingatkan kembali pentingnya “Api Islam” Bung Karno agar setiap warga mempunyai spirit untuk membangun bangsa. Semua warga mesti bergerak, saling bahu-membahu, gotong-royong, dan bersatupadu untuk kemajuan bangsa.

Dengan demikian, pemikiran Jokowi perihal membangun manusia sebagai faktor penting dalam pembangunan demokrasi, peningkatan ekonomi, pemantapan budaya, penegakan hukum, dan penguatan demokrasi, harus didukung semua pihak. Karena hanya dengan cara itulah, bangsa ini akan mempunyai masa depan yang cerah, dapat bersaing dengan negara-negara maju lainnya. (*)

Zuhairi Misrawi, Ketua Moderate Muslim Society (MMS).