Aria Bima: TKN Bisa Bubar, Partai Pengusung Jokowi Tidak

JAKARTA – Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Aria Bima menyebutkan TKN bisa saja bubar tetapi tidak dengan partai pengusung. Pasalnya, yang diusung partai dalam TKN bukanlah Jokowi-Ma’ruf, tapi ide dan gagasan yang tertuang dalam visi dan misi keduanya.

“Saya melihat tidak akan pernah bubar dan tidak pernah ada, yang ada hanya tim TKN. TKN bisa bubar tetapi partai pengusung tidak akan pernah bubar karena yang diperdebatkan ide gagasan selama kampanye,” kata Aria Bima dalam konferensi pers di Posko Cemara, Jakarta, kemarin.

Dia menilai saat ini tidak relevan untuk membicarakan pembubaran koalisi pilpres karena semangat partai dalam pilpres adalah mengusung program pasangan calon presiden dan wakil presiden.

“Saya melihat tidak relevan dibubarkan atau tidak karena memang faktanya itu hanya sebagai timses. Setelah sukses, tidak hanya memenangkan, tetapi mengawal partai dan fraksinya masing-masing di pemerintahan ke depan,” jelas politisi PDI Perjuangan ini.

Sebelumnya, Wasekjen Demokrat Rachland Nashidik mengusulkan pembubaran koalisi pilpres untuk menurunkan tensi politik akar rumput. Pernyataan Rachland pun mendapat tanggapan dari TKN maupun BPN.

Aria Bima meminta publik tidak terburu-buru mempersepsikan silaturahim tokoh politik oposisi ke Presiden Joko Widodo sebagai bagian dari upaya bergabung ke dalam koalisi pendukung pemerintah. 

“Bahwa ada silaturahim antara AHY dengan Bu Mega, dengan Pak Jokowi, atau Zulkifli Hasan, itu tidak usah terlalu dijadikan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan koalisi pemerintahan ke depan,” ujar Aria. 

Sebab, Aria meyakini memang tidak ada pembahasan koalisi di dalam silaturahim itu. Pembahasan mengenai konfigurasi partai politik pendukung pemerintah kemungkinan baru akan dibahas setelah pelantikan presiden dan wakil presiden, 20 Oktober 2019 mendatang. 

Dia melanjutkan, yang terpenting dari silaturahim tokoh politik kepada kubu yang berkuasa adalah memberikan keteduhan kepada masyarakat seusai mengikuti kontestasi pemilihan umum. 

“Sampai hari ini, kita lebih bagaimana keteduhan pasca-Pilpres penting dilakukan. Maka pertemuan antartokoh menjadi penting, termasuk Pak Jokowi yang juga sudah membuka diri untuk bertemu Pak Prabowo,” ujar Aria.

“Jadi, jangan setiap pertemuan ini dikalkulasi seolah-olah merapatnya suatu partai ke suatu tim kampanye dan rakyat tidak butuh itu. Rakyat itu sekarang butuh suasana teduh, damai. Itu tercermin dari pertemuan antartokoh,” lanjut dia. 

Persoalan bahwa silaturahim ini nantinya akan berujung pada bertambahnya partai politik pendukung pemerintah, Aria juga meyakini, Presiden Jokowi tidak lebih condong ke partai politik tertentu.

“Menurut saya, PAN, Demokrat dan Gerindra memiliki peluang sama untuk bareng-bareng menyusun jalannya pemerintahan ini ke depan yang nanti akan dibicarakan Jokowi dan Kiai Ma’ruf,” tuturnya. (goek)