oleh

Wasekjen PDIP: Islam dan Nasionalisme Adalah Pancasila

-Berita Terkini, Kronik-20 kali dibaca

pdip-jatim-basarah-rakerda-jatim-2016JAKARTA – Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Achmad Basarah menegaskan, Pancasila merupakan sintesis antara Islam dan nasionalisme. Keduanya ibarat sepasang rel kereta api yang harus selalu berdampingan dengan kokoh untuk mengantarkan penumpangnya sampai pada tujuannya.

Menurut Basarah, jika salah satu dari rel kereta api itu patah, maka akan berisiko jatuhnya kereta api dari atasnya.

“Risikonya bukan hanya penumpang kereta api itu tidak akan sampai tujuan, tapi penumpang-penumpang kereta api tersebut akan celaka,” ucap Basarah dalam keterangan tertulis kepada media, Minggu (30/10/2016) malam.

Hal ini disampaikan Basarah saat bersama Sekjen PDIP Hasto Kristyanto menghadiri pelantikan pengurus cabang Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) se-Bangka, di Pangkalpinang.

Pelantikan dihadiri Ketua DPD PDIP Provinsi Bangka Belitung Rustam Effendi, calon gubernur Bangka Belitung yang juga petahana, serta Sekretaris Umum Pengurus Pusat Bamusi Nasyirul Falah Amru.

Basarah menambahkan, sejarah pembentukan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa tidak dapat dipisahkan dari gerakan kaum Islam dan kaum kebangsaan. Baik pada konteks gerakan pemikiran maupun gerakan politik.

Poltisi yang juga Sekretaris Dewan Penasihat Bamusi Pusat ini menerangkan, pergerakan kaum kebangsaan yang dimulai dengan berdirinya Perkumpulan Boedi Oetomo tahun 1908. Kemudian diikuti dengan berdirinya perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi gerakan lainnya seperti perkumpulan Muhammadiyah (1912), Nahdlatul Ulama (1926) dan Partai Nasional Indonesia/PNI (1927).

Dimensi pergerakan kaum Islam dan kaum kebangsaan tersebut, paparnya, kemudian terinternalisasi dalam gerakan pemikiran dan gerakan politik Sukarno.

Konstruksi pemikiran politik awal yang menggembleng Sukarno, ungkap Basarah, adalah HOS Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan saat dia berusia remaja di Surabaya. Kemudian konstruksi pemikiran sosialisme dan kebangsaan diperoleh Sukarno saat belajar di ITB Bandung.

“Dua dimensi pemikiran Islam dan kebangsaan itulah yang akhirnya oleh Sukarno dikonseptualisasikan menjadi Pancasila yang sekarang menjadi konsensus dasar bangsa Indonesia sebagai ideologi negara,” ujar Basarah, yang juga legislator DPR RI ini.

Sementara itu, Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, kehadiran Bamusi termasuk di wilayah Bangka Belitung dalam rangka memperbaiki wajah partai politik.

“Diharapkan Bamusi mampu mengimplementasikan Islam Nusantara yang berkemajuan untuk Indonesia Raya,” kata Hasto.

Hasto pun minta para pengurus yang baru dilantik untuk bisa ikut memperkenalkan wajah PDIP dari sisi lain. “Politik itu seyogianya tidak bisa dipisahkan dari sisi keagamaan,” tuturnya. (goek/*)