Warga Surabaya Panen Cabai Urban Farming

Loading

SURABAYA – Pemkot Surabaya punya ikhtiar kuat untuk memajukan potensi pertanian, meski menyandang predikat sebagai kota perdagangan dan jasa. Potensi itu dimunculkan melalui program urban farming.

Masyarakat kota didorong untuk mengoptimalkan keterbatasan lahan dengan menanam beragam tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Wali Kota Tri RIsmaharini mengatakan, terkadang warga kurang bersyukur karena menelantarkan lahan yang dimiliki. Padahal, meski punya lahan sempit, selama bisa dioptimalkan tentu akan menghasilkan.

“Tuhan telah memberi negara kita iklim yang memungkinkan untuk mudah menanam apa saja. Dan bertanam ini salah satu bentuk syukur,” ujar Tri Rismaharini di sela kegiatan panen cabai urban farming di wilayah Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut, kemarin.

Lingkungan RW 07 Kedung Baruk menjadi salah satu wilayah di Surabaya yang telah berhasil menghasilkan cabai dari pertanian urban farming. Selain Kelurahan Kedung Baruk, wilayah lainnya yang juga berhasil menghasilkan cabai urban farming adalah Kelurahan Semolowaru, dan Kelurahan Ujung.

Menurut Risma, menanam cabai di pekarangan rumah ataupun lahan kosong di lingkungan RW, punya banyak manfaat. Selain manfaat ekonomis, aktivitas menanam dan merawat tanaman juga menyehatkan karena dibarengi dengan menyiram di pagi hari yang ibarat “berolahraga”.

“Harga cabai mahal seperti beberapa waktu lalu, seharusnya tidak perlu terjadi bila kita mau menanam cabai sendiri. Kita harus bisa memenuhi kebutuhan sendiri,” katanya.

Selain panen cabai urban farming, acara tersebut juga diramaikan dengan bazar UKM Kecamatan Rungkut dan juga koperasi toko kelontong. Risma juga menyerahkan piala kepada tiga kecamatan pengelola bibit cabai terbaik, yakni Kecamatan Rungkut, Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Semampir.

Ketua RW 07 Kelurahan Kedungbaruk, Bramasta, mengatakan, warganya giat menanam cabai setelah dipasok ratusan bibit oleh pemkot. Menurutnya, ada 350 bibit yang diberikan ketika program Surabaya Pedas digulirkan pada Mei lalu.

Setelah lima bulan, cabai yang ditanam di kebun lombok RW 07 itu telah terlihat hasilnya. “Ini semua berkat kesatuan warga yang bahu membahu menanam dan merawat. Kami punya jadwal piket untuk perawatan dan pengamanan,” tuturnya. (goek)