Unair Pun Jajaki Kerja Sama Manfaatkan Dilem Wilis Sebagai Sarana Pembelajaran

Loading

TRENGGALEK – Sejumlah perguruan tinggi tertarik dengan kawasan Dilem Wilis di Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek. Dilem Wilis adalah area perkebunan yang memiliki bangunan bekas pabrik kopi peninggalan Belanda, dilengkapi dengan pusat peternakan sapi perah.

Beberapa waktu lalu, Universitas Negeri Malang (UM) kepincut dengan kawasan tersebut hingga berencana mendirikan Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) di kawasan yang masuk Selingkar Wilis tersebut.

Baca juga: Bupati Arifin Bakal Branding PSDKU UM di Trenggalek ke Arah Green Campus

Kini, giliran Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) yang kesengsem dengan kawasan yang ada di pegunungan tersebut.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan pihaknya punya komitmen untuk bekerja sama dan bermitra dengan kampus-kampus.

Hal itu dilakukan karena pihaknya butuh mengembangkan sumber daya manusia sebagai modal pembangunan daerah.

“Kemudian di Perpres nomor 80 tahun 2019, kawasan ini kan ditetapkan sebagai science technopark. Maka kami butuh banyak scientific, termasuk di dalamnya ya itu harus di-create oleh perguruan tinggi,” kata Arifin, Minggu (10/10/2021).

Terkait itu, Pemkab Trenggalek berencana menjadikan Dilem Wilis sebagai kompleks human development estate dan science technopark.

“Kemarin sudah UM. Sekarang Sekolah Pascasarjana Unair. Nanti kami melihat beberapa lokasi tanah yang bisa kami kerja samakan dan nanti detailnya akan kami tidak lanjuti,” beber Mas Ipin, sapaan bupati yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek tersebut.

Sementara itu, Direktur Sekolah Pascasarjana Unair Badri Munir Sukoco mengatakan, pihaknya membuka kemungkinan kerja sama dengan Pemkab Trenggalek untuk memanfaatkan Dilem Wilis sebagai sarana pembelajaran.

“Konsep-konsep yang selama ini biasanya kami diskusikan di kelas atau di media massa, mungkin bisa diterapkan di sini,” kata dia.

Menurut Badri, langkah Pemkab Trenggalek untuk membangun kawasan Dilem Wilis menjadi ekosistem edukasi merupakan inovasi yang menarik.

“Kalau melihat dari potensi yang ada, tentu ekosistem ecotourism yang paling tepat yang bisa dibangun di sini. Tentu butuh investor, banyak hal yang bisa mendukung sehingga orang tertarik ke lembah Dilem Wilis Ini,” sambungnya.

Dia mengatakan, banyak bangunan ikonik dan otentik peninggalan Belanda di Dilem Wilis. Nilai-nilai sejarah dari bangunan-bangunan itu bisa menjadi sasaran para industri kreatif untuk berkreasi.

“Menulis ulang sejarah dan menjualnya kepada masyarakat, sehingga mereka bisa hadir di sini dan tentunya akan berdampak secara ekonomi untuk pemerintah dan masyarakat Trenggalek,” ujar Badri. (man/pr)