Sukses jadi Penghasil Padi Skala Nasional, Ngawi Rambah Kampung Alpukat

 180 pembaca

NGAWI – Setelah sukses menjadi daerah utama penghasil gabah di Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Ngawi kini mencoba mengembangkan produk perkebunan buah.

Adalah buah alpukat, yang menjadi pilihan untuk dikembangkan. Bahkan, pemkab setempat sudah mewacanakan Kabupaten Ngawi bakal jadi Kampung Alpukat beberapa tahun ke depan.

Wacana Ngawi menjadi kampung alpukat bukan isapan jempol belaka. Setidaknya ada 4 kecamatan, yang memiliki potensi dikembangkannya buah yang banyak digemari semua kalangan itu.

Di antaranya Kecamatan Kendal, Jogorogo, Ngrambe, dan Sine. Empat kecamatan yang beken disebut Kenebejo itu, berada di kawasan lereng gunung lawu sisi utara, dan terkenal akan kesuburan tanahnya.

Sebagai penanda niat besar mewujudkan Ngawi menjadi Kampung Alpukat, ditandai dengan penanaman bibit di Desa Brubuh, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi. Acara penanaman, dihadiri langsung Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko, OPD Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Gapoktan desa setempat, serta Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Ngawi, Slamet Riyanto.

Di samping itu, juga dilakukan penyerahan bibit alpukat berbagai macam varietas untuk Gapoktan Desa Brubuh dan Desa Giri Mulyo, Kecamatan Jogorogo. Total bibit yang diserahkan kepada para petani sebanyak 13 ribu batang bibit alpukat dari varietas Kendil, Aligator, Hijau, Merona, dan lainnya.

Dua desa tersebut, menjadi pilot project menuju Ngawi Kampung Alpukat. Pada jangka waktu 2 hingga 5 tahun mendatang, ketika pohon alpukat warga mulai berbuah, maka produksi buah alpukat akan melimpah. Kebutuhan buah yang kaya vitamin, untuk Kabupaten Ngawi pada khususnya bakal tercukupi. Selain itu, juga akan muncul potensi agrowisata buah alpukat di dua desa tersebut.

“Agrowisata akan menjadi daya ungkit. Selain untuk kesejahteraan para petani di Desa Brubuh dan Giri Mulyo dari komiditas alpukat, sekaligus memberikan tambahan value bagi UMKM setempat. Sekaligus akan menambah kunjungan wisatawan,” kata Wabup Antok kepada awak media.

Wabup Antok mengatakan, konsep agrowisata bakal dikembangkan di dua desa tersebut. Kedepan, setelah sukses di desa yang berada di lereng utara gunung Lawu itu, konsep budidaya alpukat secara masal oleh warga tersebut juga akan dikembangkan di daerah lain, yang memiliki potensi alam identik dengan dua desa itu.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi tersebut menilai, peluang komoditas alpukat di Kabupaten Ngawi masih terbuka luas. Permintaan pasar masih sangat tinggi. Sehingga, budidaya alpukat masih sangat menjanjikan bagi para petani.

“Peluang alpukat masih terbuka. Kalau kita melihat di pasar, atau di toko buah, permintaan alpukat masih tinggi. Sebab, alpukat tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk buah saja. Melainkan ada banyak produk turunan yang bisa dikembangkan dari alpukat,” kata Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Ngawi, Slamet Riyanto yang juga hadir dalam agenda tersebut menyampaikan apresiasi atas kinerja pemkab setempat dalam hal peningkatan kesejahteraan masyarakat diluar tanaman pangan. Salah satunya dari proyeksi Ngawi menjadi Kampung Alpukat.

Slamet Riyanto bersepakat dengan Wabup Antok soal potensi yang bagus dari buah alpukat. Menurutnya, akhir-akhir ini peluang pasar dari buah alpukat cukup bagus. Mulai dari harga jual yang cenderung menyenangkan, hingga permintaan pasar yang tidak pernah sepi.

“Artinya prospek kedepan masih sangat bagus. Sehingga segera perlu untuk bisa memberdayakan masyarakat agar supaya membudidayakan alpukat, sehingga pendapatan masyarakat juga bisa meningkat,” kata Slamet Riyanto.

Legislator PDI Perjuangan tersebut juga menyampaikan, hendaknya ada upaya meningkatkan nilai produksi dari tanaman buah yang sudah dibudidayakan masyarakat dan melimpah produksinya.

Dia mencontohkan, seperti buah ace atau rambutan yang banyak dibudidayakan masyarakat Ngawi wilayah atas. Saat panen raya rambutan, harganya sering anjlok. Slamet Riyanto bersaran, agar sebaiknya pemkab Ngawi juga memberikan perhatian terhadap hal itu.

“Pemkab Ngawi juga perlu intervensi. Misalnya memberdayakan masyarakat dengan membuka home industri pembuatan sirop rambutan. Agar supaya produksi rambutan yang melimpah ini tidak disiasiakan, tetapi bisa punya nilai lebih,” papar Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Ngawi terkait Ngawi menuju Kampung Alpukat. (mmf/hs)