oleh

Soal Ekonomi, Prabowo-Sandi Jual Ketakutan kepada Rakyat

JAKARTA – Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengaku heran dengan pernyataan Prabowo-Sandi yang mengritik kebijakan pemerintahan Jokowi-JK yang seolah tidak berpihak pada ekonomi kerakyatan dan menjual ketakutan kepada rakyat “seolah-olah” kondisi ekonomi  Indonesia dalam situasi gawat.

Menurut Hasto, mengritik pemerintah itu biasa asal dilakukan dengan data dan argumen yang kokoh dan baiknya dilakukan pada masa kampanye nanti. Apalagi, kata Hasto, Prabowo-Sandi sudah jadi capres dan cawapres.

“Publik pasti menunggu apa program Prabowo-Sandi untuk perbaikan bangsa dan negara. Bukan sekadar menyerang dan membangun ketakutan bagi masyarakat,” kata Hasto, kemarin.

“Saya malah curiga bahwa ini upaya untuk menutupi kegagalan mereka membentuk tim kampanye dengan persoalan ekonomi,” tambahnya.

Jika itu keadaannya, lanjut Hasto, publik akan bertanya, untuk membentuk tim kampanye saja belum mampu, sudah bicara kondisi ekonomi.  “Jujur saja, saya justru kasihan melihat wajah mereka yang nampaknya begitu tegang, penuh beban dan tertekan,” ujar dia.

Dia menambahkan, PDI Perjuangan berpendapat bahwa sekiranya ada masalah terkait dengan perekonomian nasional, maka sebagai warga negara yang punya semangat nasionalisme, seharusnya setiap putra-putri bangsa berbicara tentang gagasan terbaik untuk membawa nama harum bangsa, sebagaimana dilakukan para atlet Indonesia di Asian Games.

“Prabowo-Sandi sebaliknya, malah mengampanyekan ketakutan rakyat seolah Indonesia bermasalah,” tegas Hasto.

Pihaknya juga menilai, bahwa kedewasaan, wisdom, dan sikap kenegarawanan para calon presiden dan cawapres sangatlah penting.

“Publik juga bertanya, kalau rakyat mengalami pemiskinan sebagaimana dituduhkan oleh Prabowo-Sandi, bagaimana mereka melihat kemiskinan dan penggagguran berkurang,” ujarnya.

Prabowo-Sandi, menurut Hasto, seharusnya melihat bahwa kebijakan mengatasi pelemahan rupiah yang dilakukan Pemerintahan Jokowi-JK merupakan hal yang terbaik dibandingkan dengan negara lain seperti Turki dan Argentina.

Bahkan sebagian besar ahli ekonomi sepakat bahwa Indonesia jauh dari krisis sebagaimana terjadi pada tahun 1998.

“Lalu bagaimana Prabowo-Sandi sepertinya senang kalau Indonesia mengalami krisis? Bagi pemegang dolar seperti Pak Prabowo dan Sandiaga Uno, apa yang terjadi hari ini dimana rupiah justru menjadi mata uang dengan nilai tukarnya terbaik terhadap dolar di Asia, seharusnya dinilai positif, bukannya ditanggapi skeptis. Apakah hal tersebut menggambarkan bahwa sikap mereka sebenarnya lebih senang kalau rupiah melemah karena mereka sebagai penimbun dolar?” ujar Hasto.

Untuk itu, pihaknya mengimbau agar setiap capres dan cawapres mengampanyekan hal yang positif untuk bangsa dan negaranya. “Disitulah sejatinya watak seorang pemimpin,” pungkas Hasto. (goek)