Kamis
22 Oktober 2026 | 9 : 42

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Soal Cawapres Pendamping Jokowi, PDIP Ingin seperti Megawati-Hamzah Haz

pdip-jatim-hasto-bulak-banteng1

JAKARTA – Soal bakal calon wakil presiden yang akan mendampingi Joko Widodo pada Pemilu 2019, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, yang terpenting, pendamping Jokowi kelak harus bisa bekerja sama, memiliki visi yang sama, dan pendapatnya tidak saling bertentangan.

“Wakil kan membantu presiden. Jangan wapres punya politik yang berbeda dengan presidennya,” kata Hasto di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, kemarin.

Dia menyinggung hubungan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat menjadi Presiden kelima RI dan didampingi Hamzah Haz sebagai wakil presiden.

Menurut Hasto, keduanya disatukan bukan karena lobi politik, melainkan “dijodohkan” oleh MPR. Namun, keduanya memiliki satu paduan dalam memimpin Indonesia saat itu.

“Bu Mega bicara pada Pak Hamzah Haz, ‘Kalau di antara kita tidak kompak, kita ngangkat alis saja, maka rakyat bergerak’,” kata Hasto menirukan ucapan Megawati kepada Hamzah Haz kala itu.

Megawati, tambah Hasto, selalu minta Hamzah untuk mengingatkan dirinya. Jika tidak setuju dengan keputusan yang akan diambil presiden, Megawati meminta Hamzah memberikan kode yang menandakan ketidaksetujuan.

“‘Kalau saya mengambil putusan dalam sidang kabinet, sebelum palu saya ketok, kalau pak Hamzah ada tidak setuju, tolong pegang tangan saya’,” ujar Hasto kembali menirukan Megawati.

Dia menjelaskan, kode memegang tangan Megawati itu akan menjadi tanda agar Megawati tidak jadi mengambil keputusan.

Sementara itu, terkait pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono, menurut Hasto, bukan merupakan sesuatu yang mendadak dilakukan. Pertemuan tersebut telah dirancang sebulan sebelumnya.

“Memang sudah direncanakan sudah cukup lama, sebulan sebelumnya,” ungkapnya.

Pihaknya menyambut positif pertemuan tersebut. Dia menyebut ada semangat gotong royong yang dibangun keduanya sebagai presiden dan orang yang pernah menduduki posisi tersebut.

Dialog semacam itu dianggap penting untuk berjalannya roda pemerintahan Jokowi. “Membuka ruang dialog dan persahabatan dengan tokoh-tokoh manapun, baik yang kritis sekalipun,” kata Hasto.

Dia menganggap pertemuan tersebut wajar saja dilakukan. Hasto membandingkan dengan pertemuan Jokowi dengan Megawati Soekarnoputri.

“Itu rutin dilakukan, sebagaimana ibu Megawati dan jokowi sering berdialog, bertemu di Istana Batu Tulis. Itu sama,” tuturnya. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

LEGISLATIF

70 Ribu Balita Terserang ISPA, Puan Desak Pemerintah Segera Atasi Karhutla

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak pemerintah segera menuntaskan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ...
KRONIK

Sony Serahkan Bantuan Alsintan pada 23 Kelompok Tani, Tegaskan Gratis

BANYUWANGI – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Sonny T. Danaparamita, menyalurkan bantuan 26 unit alat dan ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Tegaskan Gelar Cak dan Ning Surabaya Bisa Dicabut

SURABAYA – Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan gelar Cak dan Ning Surabaya dapat dicabut apabila pemegangnya ...
KRONIK

Masa Tunggu Haji Diseragamkan, Ina Ingatkan Ketatnya Syarat Istitha’ah

BONDOWOSO – Pemerintah memperbarui sistem antrean keberangkatan ibadah haji untuk musim haji 1448 Hijriah/2027 ...
LEGISLATIF

DPRD Jember Ingatkan Ancaman Benturan Lahan Rumah Murah dan Pangan

JEMBER – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jember mengingatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember ...
KRONIK

Video Call Rombongan Penari Gandrung Sewu Korban Kapal Terbakar, Bupati Ipuk Semangati Tetap Tampil

BANYUWANGI – Mendengar kabar lima penari Gandrung Sewu asal Palembang dan Lampung merupakan penumpang KMP Batmandi ...