oleh

Sekolah Tatap Muka di Gresik Dimulai Senin Lusa

-Eksekutif-18 kali dibaca

GRESIK – Pembelajaran tatap muka (PTM) di Gresik resmi dimulai lusa, Senin (19/4/2021). Proses belajar mengajar diawali dengan ujian sekolah untuk siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, PTM merujuk pada Perbup 50 tahun 2020 tentang pedoman pelaksanaan pembelajaran tatap muka di masa transisi menuju tatanan normal baru.

“Sementara tingkat TK, Paud dan Kelompok Belajar masih dalam tahap evaluasi mendalam,” kata Gus Yani, sapaan akrab Fandi Akhmad Yani, usai evaluasi kesiapan PTM Bersama forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) dan instansi terkait, kemarin.

Gus Yani berharap, peraturan pelaksanaan PTM disesuaikan dengan kondisi Gresik. Misalnya, tentang larangan siswa naik kendaraan umum. Kemudian guru yang berasal dari luar Gresik dilarang mengajar sampai kondisinya dipastikan aman. “Protokol kesehatan tetap harus dijalankan,” pesannya.

Pada pelaksanaan PTM pertama ini, disesuaikan dengan kapasitas murid. Jika lebih dari 25 orang, jam belajar bisa dibagi menjadi dua sesi. Namun jika jumlah siswa di bawah itu dapat diselenggarakan dalam sehari.

“Masih ada sekolah yang belum siap melengkapi sarana prasarana untuk PTM, kami meminta pihak diknas untuk mendampingi. Sekolah yang belum siap tersebut tetap memulai pembelajaran tatap muka didampingi oleh pihak diknas,” pinta Gus Yani.

Dewan Mendukung

Pelaksanaan PTM terbatas di Gresik mendapat dukungan dari kalangan dewan. Anggota Komisi IV DPRD Gresik, Noto Utomo, misalnya, yang mendukung PTM dimulai pada lusa itu. Hanya saja, Noto Utomo mewanti-wanti pelaksanaan PTM sesuai dengan aturan yang ada.

“Kami sangat setuju dan mendukung PTM dilakukan, tapi dengan pengawasan protokol ketat,” ujar Noto Utomo kepada reporter website ini, Sabtu (17/4/2021) .

Pria yang juga tercatat sebagai Sekretaris DPC PDI Perjuangan Gresik ini menyebut, semua pihak harus ikut mengawasi pelaksanaan PTM. Mulai Dinas Kesehatan, Polisi, TNI dan masyarakat. “Terutama para orang tua dan gurunya, proses juga harus diutamakan,” pungkasnya. (mus/hs)