oleh

Sebelum Rakernas TKN, Hasto Nyekar Makam WR Soepratman

-Berita Terkini, Kronik-16 kali dibaca

JAKARTA – Sejumlah personel Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-KH Ma’ruf Amin berziarah ke makam Wage Rudolf (WR) Soepratman, pencipta dan komponis lagu kebangsaan Indonesia Raya, Sabtu (27/10/2018). Ziarah ini dilakukan sebelum TKN Jokowi-Ma’ruf memulai rapat kerja nasional (Rakernas) di Surabaya, 27-28 Oktober 2018.

Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf, Hasto Kristiyanto memimpin rombongan kecil acara nyekar di makam WR Soepratman yang terletak di Jalan Kenjeran, Rangkah, Tambaksari, Surabaya itu.

Setelah melihat kompleks makam dan berdoa, bunga ditaburkan di atas makam pahlawan nasional itu. Hasto dan para peserta ziarah dengan takzim juga melakukan tabur bunga.

Hasto mengatakan kegiatan ini dilakukan karena pihaknya menyadari pelaksanaan Rakernas TKB Jokowi-Ma’ruf berbarengan dengan spirit Hari Santri, Sumpah Pemuda 28 Oktober, dan Hari Pahlawan 10 Nopember.

WR Soepratman, sebut Hasto untuk pertama kalinya mengenalkan lagu ‘Indonesia Raya’ dengan biolanya dalam acara Sumpah Pemuda.

“Sosok WR Soepratman menunjukkan bagaimana berjuang dengan cara-cara kebudayaan yang sederhana, namun bisa hadir sebagai sosok pahlawan yang berprestasi,” kata Hasto.

Sekjen PDI Perjuangan itu mengatakan keteladanan pahlawan seperti WR Soepratman seharusnya diikuti bersama oleh semua rakyat Indonesia saat ini. Sebab karya kebudayaannya memang nyata menginspirasi serta membakar semangat perjuangan para pendiri bangsa.

Kepahlawanan WR Soepratman, jelasnya, berbeda dengan klaim sejumlah pihak yang menyebut sosok seperti Ratna Sarumpaet sebagai pahlawan masa kini.

Atau klaim lainnya bahwa Prabowo seperti Bung Karno atau Jenderal Soedirman, maupun Sandiaga seperti Bung Hatta. “(WR Supratman) Ini pahlawan sejati,” tuturnya.

Hasto sempat membacakan kutipan testimoni dr. Soeharto, dokter kepresidenan di era Soekarno, yang menjadi saksi mata WR Soepratman pertama kali melantunkan ‘Indonesia Raya’ di Kongres Pemuda 1928.

“Menjelang Maghrib, tanggal 28 Oktober, datanglah seorang lelaki berperawakan kurus, berpakaian sangat sederhana, sambil mengepit biola yang agak butut. Langsung saja ia masuk ke serambi belakang. Di depan para peserta kongres, dengan bersemangat dan penuh gairah, ia memainkan biolanya, memperdengarkan sebuah lagu mars, lalu diulanginya berkali-kali. Sekali-kali ia menyanyikan syairnya dengan suara yang agak parau. Baru kemudian saya mengetahui bahwa orang itu bernama WR Soepratman. Dan lagu mars yang diperdengarkan berulang-ulang itu adalah Indonesia Raya. Saya menyaksikan betapa hebatnya lagu itu disambut oleh peserta kongres sekalian. Komponis kurus itu tersenyum dan matanya berkaca-kaca menahan keharuan menerima ucapan selamat dan pelukan,” demikian teks dibacakan Hasto.

Dewi Soeharto, putri dr. Soeharto itu, mengakui bahwa ada satu bab khusus di buku biografi ayahnya mengenai WR Soepratman. Ayahnya dan Soepratman berkenalan saat masih sekolah kedokteran di Salemba, Jakarta.

“Ayah selalu bercerita soal tokoh perjuangan di masa lalu, bagaimana mereka bisa berjuang dengan sederhana tapi dampaknya baik bagi bangsa. Perjuangannya tanpa pamrih. Bahkan WR Soepratman tak tahu lagu yang diciptakannya akhirnya menjadi lagu kebangsaan Indonesia hingga akhir hayatnya,” tukas Dewi. (goek)