MALANG – Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur MH Said Abdullah mendukung pembangunan Rumah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani di komplek Kantor DPC PDIP Kabupaten Malang sebagai ruang pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter lintas generasi. Fasilitas yang diusulkan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang itu diharapkan menjadi tempat belajar Al-Qur’an bagi anak-anak, generasi muda, hingga lanjut usia.
Said mengatakan, pendidikan keagamaan memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi bangsa yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga berpegang pada nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami mendukung penuh pembangunan Rumah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani yang diusulkan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang. Kami memahami masyarakat Kabupaten Malang memiliki tradisi keagamaan yang kuat, termasuk tradisi Nahdlatul Ulama. Ini menjadi potensi yang perlu dirawat melalui ruang pendidikan bagi masyarakat,” kata Said, usai peletakan batu pertama pembangunan Rumah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani, Jumat (9/10/2026).
Baca juga: Konsolidasi di Kabupaten Malang, Said Abdullah Ingatkan Kader Jaga Amanah Rakyat
Ketua Badan Anggaran DPR RI itu menjelaskan, pembelajaran Al-Qur’an tidak sebatas kemampuan membaca dan menghafal. Lebih dari itu, proses belajar diharapkan menanamkan nilai moral yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, rumah tahfidz tersebut diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang terbuka bagi berbagai kelompok usia, sekaligus memperluas kesempatan masyarakat untuk memperdalam ilmu agama.
Said menyampaikan, rencana pembangunan tersebut juga mendapat apresiasi dan dukungan dari Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani.

“DPD akan memberikan bantuan pembangunan ini, sekaligus Mbak Puan yang mengapresiasi dan ikut membantu,” ujarnya.
Wakil Ketua Bidang DPD PDI Perjuangan Jawa Timur I Made Riandiana Kartika mengatakan, rencana pembangunan rumah tahfidz mempertimbangkan karakter masyarakat Kabupaten Malang yang memiliki kehidupan keagamaan kuat dan beragam.
“Rumah tahfidz ini diharapkan menjadi tempat belajar bagi anak-anak dan generasi muda, tetapi juga terbuka bagi masyarakat lanjut usia yang ingin memperdalam ilmu agama. Jadi, pembelajaran tidak dibatasi oleh usia,” kata Made.
Ia menjelaskan, di lingkungan tersebut telah berdiri Musala At-Taufiq. Nama At-Taufiq diambil dari nama almarhum Taufiq Kiemas, suami Puan Maharani. Kehadiran rumah tahfidz diharapkan melengkapi fasilitas kegiatan keagamaan melalui pembelajaran Al-Qur’an yang lebih terarah.
Menurut Made, penggunaan nama Puan Maharani juga diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Namun, ia menekankan bahwa hal penting dari pembangunan tersebut adalah keberlanjutan kegiatan dan manfaatnya bagi masyarakat.
Karena itu, kerja sama antara struktur partai, kader, dan masyarakat diperlukan agar fasilitas yang dibangun nantinya tidak hanya tersedia secara fisik, tetapi benar-benar digunakan untuk kegiatan pendidikan keagamaan.
“Ke depan semoga ini dapat menjadi ruang agama yang baik. Tantangannya bukan pada proses pembangunannya, tetapi bagaimana memastikan kebermanfaatannya,” pungkas Made. (yols/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS











