oleh

Puti Kagum Gerakan Anak Menabung di Pelosok Ponorogo

-Berita Terkini-9 kali dibaca

SURABAYA – Calon Wakil Gubernur Jatim Puti Guntur Soekarno takjub dengan gerakan menabung pada anak-anak, di Desa Bringinan, Ponorogo. Dia yakin, gerakan itu bisa ditularkan ke wilayah lain.

“Hebat. Inspiratif. Di tengah gejala konsumtif saat ini, ternyata ada gerakan terpuji di pelosok desa yang mengajak anak-anak menabung,” kata Puti, kemarin.

Cucu Bung Karno itu mendapat laporan dari sejumlah pihak tentang gerakan menabung pada anak-anak di wilayah pelosok Ponorogo itu. Salah satunya, dari Giyanto, anggota DPRD Jawa Timur.
“Hari Minggu lalu, 27 Mei 2018, digelar kegiatan ‘Membuka Tabungan’. Acara ini disponsori Pak Barno, Kepala Desa Bringinan. Gerakan menabung dimulai tahun 2015,” kata Giyanto, yang baru berkunjung ke desa itu.

Kegiatan ‘Membuka Tabungan’ digelar di Balai Desa Bringinan. Diikuti 255 celengan atau kotak tabungan. Total hasilnya Rp 119 juta. Juga diperebutkan tropi Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni.

Giyanto dan anggota DPR RI Sirmaji Tjondropragolo juga memberikan tropi. Ada pula tropi dari Camat dan Kapolsek Jambon.

“Juara pertama diraih ananda Daffa, yang berhasil menabung Rp 1.545.900, dan meraih tropi piala Bupati Ponorogo,” jelas Barno.

Puti yang mendapatkan laporan dari Giyanto mengaku sangat terkesan. “Dengan menabung, anak-anak jadi berhemat. Hasilnya bisa dipakai untuk keperluan yang bermanfaat,” kata Puti.

Dia berharap bisa menularkan gerakan menabung itu ke daerah-daerah lain. Kesempatan terbuka lebar, jika dia terpilih dalam Pilkada Jawa Timur.

“Alangkah positif jika anak-anak pelajar di Jawa Timur mau mencoba gerakan menabung seperti itu,” ucapnya.

Desa Bringinan terletak di selatan barat daya pusat kota Ponorogo. Jaraknya sekitar 20-an kilometer. Jalurnya searah menuju Pacitan. Kondisi geografisnya tidak subur.

“Potensi desa kebanyakan pertanian palawija,” terang Giyanto.

Tahun 2015 lalu, Kepala Desa Barno memulai gerakan menabung. Ia inisiatif membelikan celengan untuk anak-anak. Mula-mula ini diikuti 40 celengan.

Tahun 2018, sudah membengkak jadi 300 celengan. Selama satu tahun, uang-uang saku yang diterima anak-anak usia sekolah, dimasukkan ke celengan oleh mereka. “Genap satu tahun, dibukalah bersama-sama kotak-kotak celengan itu,” kata Barno.

Hasil menabung, kata dia, dimanfaatkan anak-anak kembali. Untuk membeli buku, sepatu, pakaian dan hal lain yang bermanfaat. Anak-anak otomatis ikut meringankan beban keluarga,” pungkas Barno. (goek)