oleh

Puti Guntur: Kyai Achmad Shiddiq Layak jadi Pahlawan Nasional

-Berita Terkini-0 kali dibaca

JEMBER – Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno bakal mengusulkan kepada pemerintah pusat agar ulama besar KH Achmad Shiddiq ditetapkan menjadi pahlawan nasional.

Hal itu diungkapkan Puti usai berziarah ke makam Kyai Achmad Shiddiq, di Lingkungan Condro, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Senin (12/3/2018).

Puti menyebutkan, dirinya sudah punya informasi terkait rekam jejak KH Achmad Shiddiq pada masa perjuangan. Sehingga layak diusulkan menjadi pahlawan nasional.

”Saya berziarah ke makam Mbah Shiddiq ini karena beliau ulama besar NU. Saya mendoakan agar almarhum mendapat tempat terbaik disisi Allah SWT,” ucapnya.

Menurut dia, sosok Mbah Siddiq merupakan tokoh Islam dan pejuang kemerdekaan yang dikenal tidak hanya di Kabupaten Jember, namun juga nasional.

Karena itu, lanjut Puti, tidak ada alasan bagi pemerintah pusat untuk tidak menetapkan KH Achmad Shiddiq sebagai pahlawan nasional.

Kyai Achmad Shiddiq yang asli Jember ini wafat pada 1991. Namun namanya tak mungkin terlupakan bagi warga NU.

Selain merupakan ulama senior dan Rois Am PBNU sejak 1984 hingga wafatnya, beliau juga adalah seorang pejuang kemerdekaan.

Sementara itu, sebelum keliling Jember, dalam perjalanan dari Banyuwangi, Puti sempat mampir ke pengrajin
alat-alat rumah tangga di Kampung Sayangan, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.

Cawagub pendamping Cagub Saifullah Yusuf ini sangat terkesan dengan keuletan para perajin

Dia melihat dan berdialog dengan para perajin. Usaha mereka hidup sejak 1970-an dan jumlah perajin di kampung tersebut terus bertambah sampai sekarang.

Puti berjanji akan melindungi pelaku industri rumahan, yang jumlahnya begitu banyak di Jawa Timur.

“Perlindungan itu, salah satunya melalui kebijakan anggaran dan akses modal, yang membuat para pelaku UMKM bisa bertahan dan berkembang,” ujarnya.

Dari warga, Puti mendapat penjelasan, dahulu usaha pembuatan alat-alat rumah tangga, seperti dandang, dimulai oleh 2 perajin. “Sekarang sudah menjadi 34 perajin,” kata Selamet, tokoh warga setempat.

Sekarang produknya telah beragam. Kualitasnya juga bagus. Barang-barang tidak diproduksi massal.

Para pekerja bekerja dengan alat-alat manual. Per hari, tiap rumah industri hanya membuat 4-6 kerajinan alat dapur. (goek)