SURABAYA – Anggota Komisi B DPRD Jatim, Ony Setiawan, menyoroti tingginya lonjakan harga plastik akibat konflik geopolitik Timur Tengah. Menurutnya kondisi ini perlu perhatian serius.
Dia menceritakan, di dapilnya, sudah banyak UMKM yang mengeluh. Mereka harus membeli bahan pokok tersebut, namun diterpa kebimbangan saat menaikkan harga dagangan, sebab khawatir tak laku.
“Teman-teman UMKM enggak ada pilihan karena memang bahan bakunya impor. Jadi, ya mau gak mau dia harus beli. Nah, saya hanya melihat mereka menaikkan harga jual enggak berani,” ujarnya saat ditemui usai Musancab di Surabaya, Sabtu (11/4/2026).
Dia tak memungkiri persoalan plastik ini cukup rumit. Bahan bakunya masih impor, sedangkan kebutuhan di dalam negeri sangat tinggi. Terlebih, kenaikannya juga merambat ke harga bahan pokok lainnya.
Untuk itu, anggota Fraksi PDI Perjuangan ini mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim bijak mengambil putusan; mengendalikan harga plastik dengan sangat hati-hati agar tidak menghimpit UMKM.
“Agak susah ya karena plastik itu kayak sudah bagian dari semua barang gitu dan itu tidak bisa digantikan oleh yang lain. Itu problemnya,” sebutnya.
Sementara Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim turut membeberkan penyebab lonjakan harga di pasar.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri (PPLN) Disperindag Jatim, Erivina Lucky Kristian, menyebut, di sisi perdagangan luar negeri, terdapat 44 pelaku usaha ekspor plastik dan produk turunannya di Jatim. Ketergantungan terhadap impor bahan baku, tambah dia, cukup tinggi. Sekitar 50-60 persen bahan baku plastik di Indonesia masih berasal dari impor.
Alhasil, harga bahan baku utama plastik, yakni biji plastik, kini mencapai sekitar Rp30.000 per kilogram atau naik hingga 50 persen.
“Kenaikan ini tidak lepas dari lonjakan harga minyak mentah Brent sebagai bahan dasar. Dari sebelumnya sekitar USD 67 per barel, kini sudah di atas USD 98 per barel, bahkan sempat menyentuh USD 115 per barel,” ucapnya Rabu (8/4/2026).
Sementara itu, jeritan UMKM tercatat sampai ke aspek terkecil. Salah satunya dirasakan Indah, pedagang pakan hewan di Sedati, Sidoarjo yang mengeluh bingung untuk menaikkan harga dagangannya.
Dia pun memilih sedikit merugi. Tetap membeli pasokan plastik dan sedikit menaikkan harga seluruh dagangannya Rp500.
“Sekarang semuanya mahal, Mbak. Ini aja plastik 1 pack harganya naik sampai 4ribu. Tapi ya gimana lagi, kita juga butuh jadi harga pakannya yang dinaikin dikit,” keluhnya, Sabtu (11/4/2026). (nia/set)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










