Minggu
28 Juni 2026 | 3 : 28

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Pengelolaan Pasar Oleh Dinas Koperasi Dinilai Menyimpang

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURESSURABAYA – Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya Tri Didik Adiono mengungkapkan, pengelolaan pasar tradisional milik pemerintah kota telah terjadi penyimpangan. Yakni ada pasar tradisional atau pasar rakyat dikelola Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 20 Tahun 2012.

Kata Didik, Permendagri tentang Pengelolaan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional itu mengatur kewenangan pengelolaan pasar berada di bawah Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Namun, di Surabaya ada dua pasar yang dikelola Dinas Koperasi dan UMKM.

“Dua pasar yang dikelola Dinas Koperasi itu Pasar Jambangan dan Gayungan. Ini kan tidak sesuai dengan permendagri,” kata Didik, usai rapat Pansus Raperda Pasar Rakyat, Kamis (6/3/2015).

Terungkapnya Dinas Koperasi mengelola pasar rakyat, ujar anggota Fraksi PDI Perjuangan tersebut, diketahui saat pembahasan materi Raperda Pasar Rakyat. Yakni saat membahas pasal tentang pengelolaan pasar tradisional.

Dalam draf raperda disebutkan, pengelolaan pasar tradisional bisa dilakukan tiga pihak, yaitu pemerintah daerah, badan, dan perseorangan. Pengelolaan pasar tradisional oleh Badan, urai Didik, bisa melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau swasta.

Perseorangan pun bisa mengelola pasar tradisional asal izin dan peruntukannya jelas.Sedang pasar yang dikelola pemerintah daerah, sesuai permendagri, dilakukan Disperindag.

Penyimpangan ini, tambah dia, harus segera diluruskan Pemkot Surabaya. Sebab, kalau dibiarkan dia khawatir SKPD lainnya, seperti Dinas PU, bisa mengelola pasar seperti Dinas Koperasi. “Pasar Gayungan dan Jambangan harus diserahkan pengelolaannya ke Disperindag, tanpa harus menunggu selesainya Perda Pasar Rakyat,” tandas Didik yang juga Ketua Pansus Pasar Rakyat itu.

Terkait Raperda Pasar Rakyat, lanjut Didik, nantinya seluruh pasar tradisional di Kota Pahlawan akan tertata dengan baik. Termasuk pengaturan produk yang dijual antara pasar tradisional dengan minimarket. Misalnya, minimarket tidak boleh menjual hasil pertanian.

“Jangan sampai minimarket menjual sayur-mayur. Tanpa disadari ini akan menggerus pasar tradisional,” ujarnya.

Akibat tidak ada pengaturan, saat ini pasar tradisional jumlahnya terus menyusut, berkisar 67-an, dan kondisinya seperti hidup segan mati tak mau. Kondisi tersebut menurutnya terjadi karena banyak faktor, di antaranya akibat alih fungsi kawasan. Di mana banyak pasar di kawasan perkampungan berubah menjadi pusat perbelanjaan modern. (pri)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KABAR CABANG

Tebar 15 Ribu Benih Ikan Nila di Waduk Bendo, PDIP Ponorogo Dorong Pelestarian Ekosistem dan Ketahanan Pangan

PONOROGO – Dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno, DPC PDI Perjuangan Ponorogo menggelar kegiatan penebaran 15 ...
KRONIK

Peternak Ayam Petelur Tertekan, Sonny Dorong Kementan Lakukan Langkah-Langkah Bantuan

JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, mendorong Kementerian Pertanian (Kementan) untuk ...
KABAR CABANG

PDIP Kota Batu Gelar Turnamen Catur, Tanamkan Pola Pikir Strategis ala Bung Karno

DPC PDI Perjuangan Kota Batu menggelar Turnamen Catur Piala Bung Karno 2026 sebagai upaya membumikan nilai ...
KABAR CABANG

Berangkat Pukul 04.30 dari Malang, Amelia ke Kediri untuk Melukis Bung Karno

Lomba Melukis Wajah Bung Karno yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kediri menarik 171 peserta dari berbagai ...
KABAR CABANG

Dari Papan Catur, PDIP Kota Madiun Menyalakan Semangat Bung Karno kepada Generasi Muda

DPC PDI Perjuangan Kota Madiun menggelar Open Turnamen Catur Piala Ketua DPC dalam rangka Bulan Bung Karno. ...
KRONIK

Rocky Gerung Jadikan Fatimah BEM UI Contoh Keberanian Intelektual Gen Z

SURABAYA – Pengamat politik Rocky Gerung menyebut Wakil Ketua BEM Universitas Indonesia (UI), Fatimah Azzahra, ...