oleh

Pemuda Gentle Menurut Wabup Trenggalek

-Berita Terkini, Kronik-14 kali dibaca

JAKARTA – Mau menjadi anak muda yang gentle, itulah tujuan utama Muhammad Nur Arifin, Wakil Bupati Trenggalek. Kalimat tersebut ia ungkapkan di hadapan puluhan anak muda yang hadir dalam Forum Pemuda 2018 “Berekspresi, Berkarya, Berkolaborasi” yang digelar PDI Perjuangan di Grha Niaga Thamrin, Sabtu (27/10/2018).

Menurut dia, jika anak muda ingin berkontribusi dalam membangun negeri, kritik ke pemerintah saja tak cukup. Jika bisa dan memungkinkan, mengapa tidak terjun langsung ke pemerintahan.

“Aku pengin menjadi anak muda yang gentle, kalau anak muda bisa kritik pemerintah, kenapa enggak masuk ke dalam pemerintahan itu sendiri?” kata pria yang akrab disapa Mas Ipin itu, diiringi tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin.

Mas Ipin dinobatkan menjadi Wakil Bupati paling muda di Indonesia. Saat dilantik Februari 2016, usianya baru menginjak 25 tahun.

Gayanya unik, sedikit banyak humor diselipkan dalam ucapannya. Dengan setelan kemeja putih, celana hitam, peci, dan sneakers, semakin mengesankan citra milenial Mas Ipin sebagai seorang kepala daerah.

Mas Ipin bakal secara resmi menduduki kursi Bupati pada Februari 2019 mendatang. Itu karena Bupati Trenggalek Emil Dardak terpilih sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur 2018 dan bakal segera dilantik.

Mengenai kontribusi anak muda dalam pemerintahan sekarang, Mas Ipin mengatakan, saat ini banyak anak muda yang seolah-olah andal urusan politik dengan banyak mengkritisi pemerintah, tetapi tidak banyak yang berkontribusi langsung dalam pemerintahan.

Oleh karenanya, ia menantang anak muda untuk menjadi seorang yang gentle, unjuk kemampuan dalam pembangunan bangsa.

“Kalau kamu gentle, toh Indonesia ini bukan hanya urusannya presiden, bukan cuman urusannya wapres, bukan hanya urusannya menteri, memang kita ini hanya sekadar sampah di Indonesia yang nggak punya arti apa-apa?” ujar Mas Ipin.

Untuk meyakinkan masyarakat terhadap kemampuan yang dimiliki anak muda, kata Mas Ipin, tak perlu menunggu diri sendiri menjadi seorang yang spesial. Anak muda hanya perlu menjadi dirinya sendiri untuk berkontribusi.

“Gimana saya bisa meyakinkan masyarakat untuk saya bisa dipercaya jadi orang yang bisa mewakili suara-suara mereka sebagai seorang rakyat. Saya hanya bilang, teman-teman, enggak perlu jadi yang spesial kalau hanya untuk dicintai. Kalau kamu menunggu jadi yang spesial dulu, kamu nggak akan pernah jadi apa-apa,” ujar dia.

Di acara Forum Pemuda 2018 itu, Ketua Bidang Pemuda Olahraga DPP PDI Perjuangan Sukur Nababan menyebut, pihaknya tidak mau menjadikan anak muda sebagai objek politik. Ia ingin, anak muda Indonesia menjadi bagian dari partainya untuk berkolaborasi dalam hal pembangunan bangsa.

“Kami ingin bahwa mereka menjadi bagian kolaborasi, bagian dari kesepakatan untuk membangun bangsa. Kami ingin PDIP menjadi rumah besar bagi anak muda Indonesia,” kata Sukur.

Dia menilai, saat ini anak muda cenderung apatis, baik dalam hal pembangunan bangsa maupun politik.

Berangkat dari situ, pihaknya ingin mengajak anak muda untuk memberikan peran dalam mengisi pembangunan pribadi, masyarakat, dan bangsa. Sebab, kata Sukur, peran anak muda saat ini sangat penting.

Pada 5-10 tahun lagi, tonggak kepemimpinan berada di tangan anak muda. Oleh karenanya, mulai dari sekarang harus dibangun suatu kesadaran kepada anak muda mengenai cara berpikir mereka.

“Dari sekarang kita harus memberikan penyadaran kepada anak muda dengan cara mereka berpikir dengan dunia mereka di tengah-tengah situasi bangsa kita yang seperti ini,” ujar Sukur.

Ancaman intoleransi, perbedaan, dan permasalahan-permasalahan lainnya, akan menjadi tantangan bagi anak muda di masa mendatang.

“Ayo anak muda Indonesia, kita jangan mau terpecah-belah, kita memberikan sumbangsih sekecil apa pun untuk membangun diri kita, membangun masyarakat kita, membangun bangsa kita,” tandasnya. (goek)