PDIP dan Jokowi Paling Konsisten Perjuangkan Pancasila

 101 pembaca

JAKARTA – PDI Perjuangan dianggap partai yang paling konsisten memperjuangkan Pancasila, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA.

Berdasarkan hasil survei itu juga, calon presiden (capres) Joko Widodo (Jokowi) dinilai sebagai capres paling memperjuangkan Pancasila.

LSI menyurvei sejumlah partai yang dianggap paling mendukung Pancasila. Di antaranya ialah PDIP (36,8 persen), Golkar (18,7), Gerindra (11,8), Demokrat (8,6), PKB (6,5).

“Publik menilai PDIP paling konsisten memperjuangkan Pancasila,” kata Peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar dalam konferensi pers bertema Pilpres dan Kerinduan Lahirnya Indonesia yang Kuat, kemarin.

Sedangkan publik juga ditanyakan soal capres mana yang paling konsisten memperjuangkan dan mempertahankan Pancasila. Capres Jokowi pun mengungguli Capres Prabowo Subianto.

“65,8 persen publik menilai Jokowi perjuangkan Pancasila. Prabowo di angka 28,7 persen,” ujarnya.

Sementara itu, dia mengakui isu komunis sempat menyandera PDIP dan Jokowi. Namun isu tersebut dianggap tak mempunyai dasar fakta yang kuat.

Sehingga perlahan tapi pasti PDIP mampu keluar dari isu itu. “PDIP bisa pulih lama-lama karena tidak ada fakta ungkap korelasi Jokowi dan PKI. Sudah basi,” jelasnya.

Rully menilai masyarakat saat ini sudah tak memandang isu seperti itu. Bahkan menurutnya isu tersebut malah hilang dengan sendirinya ketika Jokowi mampu menuntaskan tugasnya.

“Masyarakat tidak lihat isu primordial, tapi janji yang sudah ditepati. Ketika Jokowi diserang dan enggak ada faktanya ya ditepis dengan keberhasilan,” tuturnya.

Diketahui, keberadaan masyarakat pro-Pancasila semakin menurun. Dari hasil riset terbaru LSI Denny JA, dalam kurun 13 tahun terakhir publik pro-Pancasila menurun 10 persen.

Rully menyebutkan, pada 2005 publik pro-Pancasila mencapai angka 85,2 persen. Setelah 5 tahun berselang turun menjadi 81,7 persen. Kemudian turun lagi pada 2015 menjadi 79,4 persen hingga di 2018 menyisakan 75,3 persen.

Sementara itu dalam kurun waktu yang sama publik pro-NKRI Bersyariah alias khilafah angkanya terus menanjak. Dari 4,6 persen di 2005, perlahan bertambah mencapai 13,2 persen di 2018.

“Sebanyak 72,6 persen masyarakat khawatir dukungan atas Pancasila menurun. 7,5 persennya mengaku tidak khawatir,” ujar Rully.

Survei LSI Denny JA ini dilakukan pada 14-22 September 2018 melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Survei memakai metode multistage random sampling dengan total 1.200 responden di 34 Provinsi.

Survei dilengkapi pula oleh analisis media, FGD dan wawancara mendalam. Margin of errornya sebesar +/- 2,9 persen. (goek)