KEDIRI – Pasar Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, segera beroperasi dengan konsep 24 jam setelah revitalisasinya hampir rampung. Selain menampung pedagang lama, pasar yang dibangun kembali setelah kebakaran pada 2025 ini juga membuka peluang usaha baru, terutama bagi pedagang kuliner.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana atau Mas Dhito memperkirakan Pasar Ngadiluwih dapat diresmikan pada November mendatang. Kepastian itu disampaikan setelah ia meninjau progres revitalisasi pasar, kemarin.
“Ini sedang sosialisasi kepada teman-teman pedagang yang selama ini menempati TPPS (Tempat Penampungan Pedagang Sementara),” kata Mas Dhito, dikutip Kamis (15/10/2026).
Pasar yang mengusung konsep tradisional, modern, dan berbudaya tersebut dirancang menjadi pusat aktivitas ekonomi sepanjang hari. Mengacu pada pola operasional Pasar Wates, aktivitas perdagangan akan dibagi dalam tiga giliran atau shift.
Pada sore hingga malam hari, pasar akan memberi ruang bagi pedagang kuliner. Aktivitas pedagang sayur dijadwalkan berlangsung sejak dini hari hingga pagi, sedangkan pedagang los dan kios beroperasi pada pagi hingga siang hari.
Pola ini diharapkan membuat pasar tetap hidup di luar jam perdagangan konvensional. Kehadiran pedagang kuliner juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha baru untuk menjangkau konsumen pada malam hari.
Mas Dhito menyebut kapasitas Pasar Ngadiluwih dirancang untuk mengakomodasi seluruh pedagang yang sudah ada, termasuk mereka yang masih masuk daftar tunggu.
“Seluruh pedagang yang sudah ada bisa masuk semuanya, total pedagang (termasuk yang masuk daftar tunggu) ada 714 dan lapak yang tersedia 805 (belum termasuk pelataran untuk lesehan),” ungkapnya.
Dengan jumlah lapak yang melebihi jumlah pedagang dalam data tersebut, pasar juga berpotensi memberikan ruang bagi kegiatan usaha tambahan. Salah satunya melalui area food court yang disiapkan untuk menampung kuliner khas Ngadiluwih dan Kabupaten Kediri.
Pemerintah Kabupaten Kediri berharap keberadaan area kuliner dapat memperluas fungsi pasar. Tidak hanya menjadi tempat transaksi kebutuhan sehari-hari, Pasar Ngadiluwih juga berpeluang menjadi tujuan masyarakat untuk menikmati makanan dan berkegiatan pada malam hari.

Mas Dhito menyebut halaman pasar yang luas memungkinkan pengembangan aktivitas kuliner, termasuk kemungkinan menghadirkan pertunjukan musik secara langsung.
Namun, ia menegaskan bahwa penataan pedagang tetap menjadi perhatian. Pemerintah daerah menargetkan tidak ada lagi pedagang yang berjualan di depan pasar karena seluruh aktivitas perdagangan akan diarahkan masuk ke area yang telah disediakan.
“Di tahun 2027 pedestrian di depan pasar juga akan kita perbaiki. Dan yang paling penting nantinya tidak ada pedagang yang berjualan di depan pasar, semua masuk ke dalam seperti Pasar Wates,” terang politisi PDI Perjuangan ini.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, menjelaskan bahwa pekerjaan revitalisasi saat ini hampir selesai. Salah satu pekerjaan yang masih membutuhkan penyelesaian adalah pemasangan fasad pada salah satu bagian los.
Di sisi lain, pemerintah daerah mulai menyosialisasikan mekanisme penempatan kepada pedagang yang selama ini berjualan di tempat penampungan sementara (TPPS). Tahap berikutnya adalah pengundian lapak yang dijadwalkan pada 27–30 Oktober.
Tutik menyebut seluruh pedagang ditargetkan sudah pindah dan berjualan di pasar baru pada Desember mendatang.
Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kediri juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin menjalankan usaha kuliner di pelataran pasar. Meski demikian, pedagang yang selama ini berjualan di depan pasar akan diprioritaskan untuk memperoleh tempat.
“Kami juga membuka siapa saja yang dari luar mau masuk (berjualan kuliner) ke sini,” tambah Tutik.
Dengan revitalisasi yang mendekati penyelesaian, tantangan berikutnya adalah memastikan proses penempatan pedagang berjalan tertib dan operasional pasar sesuai rencana.
Konsep perdagangan 24 jam diharapkan memperluas kesempatan usaha, menghidupkan aktivitas ekonomi malam, serta menjadikan Pasar Ngadiluwih sebagai pusat perdagangan yang lebih tertata di Kabupaten Kediri. (putera/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













