oleh

Ngaji Pancasila Bareng Cak Nun di Pelataran DPRD Surabaya

SURABAYA – Jalan Yos Sudarso Kota Surabaya, Sabtu (19/8/2017) malam, tumpah ruah oleh oleh warga yang didominasi muda-mudi kota Pahlawan. Nyaris hanya satu lajur jalan tersebut yang bisa digunakan pengendara.

Maklum, malam itu warga Surabaya berjejal mengikuti acara Ngaji Pancasila bareng Cak Nun (Emha Ainun Najib) dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-72, di pelataran DPRD Surabaya.

Di atas panggung, nampak berderet sejumlah tokoh bersama Cak Nun yang malam itu berbalut busana serba putih.

Di antaranya para tokoh tersebut terlihat Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana, Ketua DPRD Surabaya Ir Armuji, dan Wakil Ketua DPRD Jatim Kusnadi SH. Nampak pula dari Konjen AS di Surabaya dan sejumlah tokoh lain.

Kusnadi SH mewakili DPRD Jatim dalam  sambutannya mengatakan, acara Ngaji bareng Cak Nun (Emha Ainun Najib) dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-72 ini relevan dengan semangat dan jiwa Pancasila.

“Antar warga Surabaya, malam itu bisa duduk bersama di pelataran dan mengaji Pancasila bersama-sama,” katanya.

Pancasila, lanjut Kusnadi yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim ini, terbukti ampuh sebagai pemersatu anak bangsa.

“Di Indonesia ada 400 lebih bahasa daerah, ribuan suku bangsa, namun bisa bersatu merebut dan mempertahankan kemerdekaan hingga saat ini,” ucap dia.

Dalam proses perjalanan berbangsa, sebut Kusnadi, beberapa waktu lalu, Pancasila mengalami sedikit goncangan.

“Cuma sedikit Cak Nun, dan bapak ibu sekalian. Dimana ada sebagian kecil anak bangsa dan saudara-saudara kita sendiri seolah melupakan semangat bersatu, berbhinneka tunggal ika, dan semangat ber-Pancasila,” ujar Kusnadi.

Dengan ngaji bareng seperti ini, lanjut dia, diharapkan akan bisa terus merekatkan persatuan antar anak bangsa, khususnya warga Surabaya.

Sementara Cak Nun saat tauziah di antaranya menjelaskan, Pancasila sebagai dasar negara telah final adanya. Mulai dari sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa,  menjadi dasar sila-sila berikutnya. Dasar bagi sila Kemanusiaan yang Adil dan beradab serta sila Persatuan Indonesia.

Sedangakan sila keempat, adalah sarana bermusyawarah untuk menerapkan Pancasila menjadi aturan-aturan dan kebijakan bernegara.

“Yang endingnya, yang tujuan akhirnya adalah sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutur Emha. (hs)

rekening gotong royong