Sabtu
12 September 2026 | 8 : 13

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Napak Tilas Kenang Agresi Militer Belanda di Magetan

pdip jatim - gerak jalan napak tilas magetan

pdip jatim - gerak jalan napak tilas magetanMAGETAN – Bupati Drs H Sumantri MM memberangkatkan gerak jalan napak tilas di Desa Ngunut, Magetan, Rabu (8/10/2014). Gerak jalan itu untuk mengenang peristiwa sejarah perpindahan pusat pemerintahan kabupaten dari Magetan ke Kecamatan Parang akibat agresi militer Belanda 1948.

Dari Desa Ngunut, Kecamatan Parang, peserta menempuh perjalanan sejauh 15 km hingga pendopo Kabupaten Magetan. “Kegiatan napak tilas Ngunut-Parang-Magetan ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Masyarakat dapat berpartisipasi sebagai wujud nyata mengenang peristiwa bersejarah sembari berolah raga,” kata Sumantri, di sela acara pemberangkatan.

Sebagai generasi penerus, kata Sumantri, tentu tidaklah cukup hanya berpartisipasi dalam kegiatan napak tilas. “Perjuangan kita belum berakhir. Saat ini kita masih harus berjuang mengisi kemerdekaan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Magetan yang adil, mandiri dan bermartabat,” ujar bupati dari PDI Perjuangan itu.

Kegiatan tahunan terkait rangkaian peringatan Hari Jadi ke-339 Kabupaten Magetan yang jatuh 12 Oktober mendatang ini diikuti ribuan peserta berasal dari berbagai unsur. Seperti pemerintahan, TNI, Polri, siswa-siswi sekolah, instansi swasta maupun masyarakat umum dan terbagi menjadi kategori kelompok/perorangan.

Prosesi pemberangkatan dihadiri pimpinan DPRD, Kajari Magetan, Ketua Pengadilan Agama, Plt. Sekdakab Magetan, Kepala SKPD beserta camat. Kriteria penilaian didasarkan pada ketepatan waktu, kerapian serta ketertiban barisan.

Seperti tertuang dalam catatan perjalanan sejarah Kabupaten Magetan, terjadi agresi militer II yang dilancarkan Belanda untuk menguasai kembali negara Indonesia. Imbas peristiwa tersebut juga terasa di Magetan.

Pada 19 Desember 1948, pasukan Belanda menyerbu dan menguasai Magetan, dan pusat kota berhasil dikuasai Belanda. Untuk menghindari kekosongan kekuasaan dan meneruskan perjuangan, Pemerintah Kabupaten Magetan kemudian mengambil langkah taktis dengan jalan memindahkan pusat pemerintahan ke Desa Ngunut, Kecamatan Parang.

Setelah tentara Belanda meninggalkan Magetan, tanggal 1 Januari 1950 pusat pemerintahan akhirnya dapat dikembalikan lagi ke kota Magetan. (sa)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Dilema Air di Perumahan Elit, DPRD Surabaya Minta PDAM Segera Negosiasi dengan Pengembang

SURABAYA – Temuan adanya tiga perusahaan pengembang raksasa di Surabaya, termasuk kawasan hunian papan atas, ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi: Rp5 Juta per RW Jangan Habis untuk Seremoni, Harus Jadi Penghasilan Gen Z

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meminta anggaran kegiatan Generasi Z (Gen Z) sebesar Rp5 juta per RW ...
LEGISLATIF

Syaifuddin Minta Pemkot Surabaya Jemput Bola Data Desil, Jangan Tunggu Warga Mengadu

Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri meminta Pemkot jemput bola memperbarui data desil agar bantuan pendidikan dan ...
KRONIK

Ketua HKTI Magetan Suarakan Aspirasi Petani dan Tekankan Regenerasi di Rakerda HKTI Jatim

MAGETAN — Anggota DPRD Magetan dari PDI Perjuangan sekaligus Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ...
LEGISLATIF

Tunjang Kinerja Bamag Gresik, Nila Yani Serahkan Bantuan Perlengkapan Operasional

GRESIK – Dukungan terhadap penguatan pelayanan dan kerukunan umat beragama di Kabupaten Gresik terus dilakukan. ...
KRONIK

Budi Leksono Desak PDAM Modernisasi Alat demi Jamin Kualitas Air Warga

SURABAYA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya mendesak PDAM Surya Sembada segera melakukan ...