Mpu Ika, Keris, dan Jati Diri

 122 pembaca

“Saya tak menyangka akan sejauh ini. Penghargaan ini sungguh luar biasa buat saya,” ucap Mpu Ika Arista dengan mata berkaca-kaca seusai menerima Anugerah Soerjo 2022, Sabtu (19/11/2022) malam. Mpu Ika Arista merupakan Perempuan Pembuat Keris dari Madura.

Dilahirkan di Desa Aeng Tong-tong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Ika Arista kecil sudah begitu akrab dengan hal-ihwal keris: Gerinda, besi, warangka, jamasan, dan lainnya. Baginya, keris bukan sekadar senjata atau souvenir. Keris menyimpan banyak kisah dan pelajaran tentang hidup. “Sebab dari keris saya belajar banyak hal, mulai dari sejarah nenek moyang, falsafah tentang hidup, sampai bagaimana memperlakukan alam,” tutur Mpu Ika.

Desa Aeng Tong-tong sendiri, oleh Unesco pada tahun 2012, ditetapkan sebagai desa yang memiliki warga dengan profesi pembuat keris terbanyak di Asia Tenggara. Setidaknya, ada 500-an mpu pembuat keris yang ada di desa Aeng Tong Tong.

Keintiman Ika Arista dengan keris terjadi saat sekolah dasar. Tepatnya, ketika dirinya duduk di bangku kelas 5 SD. Waktu itu, Ika belajar membuat warangka keris: memilih kayu, membuat pola, melubanginya. Ia pun akrab dengan jenis kayu untuk warangka: mimba, kemuning, dan cendana.

“Saya lama menekuni pembuatan warangka. Ketika lulus SD, saya berhenti membuat warangka. Saya harus meneruskan pendidikan di pondok pesantren,” kenang Mpu Ika akan masa pasang-surut dirinya mengenal keris.

Baru setelah lulus SMA, Ika Arista tertarik lagi untuk bergelut dengan keris. Dia mulai belajar untuk mengenali besi, memilih besi. “Besi-besi yang sudah kita pilih kita tempa. Kita bakar, lalu kita palu sehingga lapisan-lapisan itu menjadi satu. Kita menyebutnya kodokan. Dari kodokan itu baru dibentuk keris. Mulai dari digerinda, dikikir. Bentuk kerisnya sudah disesuaikan dengan bentuk yang pakem. Atau bentuk-bentuk kreasi baru. Setelah itu, jika keris mau diukir, ya diukir. Kemudian mewarangi, yaitu mencelupkan besi ke warangan untuk memunculkan corak atau karakter pamor lipatan besi.”

Proses pembuatan keris tidaklah mekanik. Pemilihan besi sampai memunculkan corak pamor keris membutuhkan kecermatan. Keahlian yang lahir dari pengalaman panjang. Bahkan di masa lampau, para mpu harus melakukan ritual tertentu dalam membuat keris. Maka, tidak heranlah, kita mengenal keris dengan berbagai khasiatnya: untuk pengasihan, pendatang rezeki, penakluk musuh, dan lainnya.

Kecintaan Ika Arista pada keris pun tak terelakkan. Baginya, keris menjadi perlambang diri, dan identitas karakter pemegannya. Jadi, keris adalah gambaran setiap pribadi manusia.

“Satu-satunya alasan saya memilih bergelut dengan keris, karena keris bisa mendekatkan diri saya pada leluhur. Saban membuat keris, saya seperti diingatkan untuk menempa diri, memperbaiki diri, sehingga memiliki karakter, memiliki pamor yang disukai orang lain,” tuturnya.

Alumni Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumenep itu juga mengingatkan, menjadi mpu keris memiliki tanggungjawab dan kewajiban sosial. Ia meyakini, anak-anak muda di kampungnya harus mampu mengambil tugas sosial tersebut. Mereka harus mampu meneruskan warisan leluhur, dan mengedukasi kaum milenial tentang nilai-nilai luhur budaya yang terkandung dalam keris.

Tidak hanya proses pembuatan keris yang memiliki nilai-nilai falsafah hidup. Lalu lintas besi, sebagai bahan utama keris, juga menyiratkan koneksi antardesa, antarpulau. “Selain karakter keris yang unik, kita juga bergelut dengan lalu lintas besi. Kita mesti mencari besi ke kecamatan Lenteng. Bahkan ada tulisan menerangkan jika besi didapat dari Luwu dan Borneo yang akhirnya membawa kita melihat bagaimana ramainya perairan laut madura dalam perdagangan antarpulau,” terang perempuan kelahiran 11 Mei 1990.

Bersama 9 pelaku budaya dan pelestari dari kabupatek/kota di Jawa Timur – (1) Maestro Campursari (Alm.) Didik Prasetyo alias Didi Kempot, (2) (Alm.) Mbah Mas Mundari Pelukis Damar Kurung Gresik, (3) (Alm.) Bopo Sutiman Pencipta Tari Kethek Ogleng Pacitan dan Bapak Suratno sebagai Pelestari Tari Kethek Ogleng Pacitan, (4) (Alm.) Soeparto Brata Penulis Sastra Jawa, (5) (Alm.) Hasnan Singodimayan Sastrawan dan Budayawan Banyuwangi, (6) Paguyuban Reog Ponorogo Gagrak Magetan, (7) (Alm) Oei Him Whie Penjaga dan Pelestari Arsip Perpustakaan Medayu Agung, Surabaya, dan (8) (Alm.) Cak Sapari Suhendra Seniman Ludruk Surabaya- Mpu Ika Arista menerima Anugerah Soerjo 2022 yang diserahkan langsung oleh Ketua DPRD Jawa Timur, Kusnadi, S.H.

“Perempuan jadi pembuat keris itu tidak mudah. Tinggal kita bagaimana meyakini dan meyakinkan orang lain, bahwa pilihan hidup kita memang berarti,” tandas Mpu Ika dengan senyum sumringah.

Tinggalkan Balasan