Melihat Makam Bung Karno, Akademisi 33 Negara Sempat Kaget

Loading

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, ziarah ini juga untuk menggelorakan kembali semangat dan pemikiran-pemikiran kebangsaan yang digagas oleh Bung Karno.

BLITAR – Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersama akademisi dari 33 negara nyekar makam proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno di Bendogerit, Kota Blitar, Kamis (10/11/2022).

Ziarah makam Bung Karno ini selain untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November 2022, juga jadi bagian dari rangkaian acara Bandung-Belgrade-Havana in Global History and Perspective yang berlangsung di empat kota yakni Jakarta, Bandung, Blitar dan Surabaya mulai 7-12 November 2022.

Hasto mengatakan, ziarah ini juga untuk menggelorakan kembali semangat dan pemikiran-pemikiran kebangsaan yang digagas oleh Bung Karno.

“Menggelorakan kembali semangat Konferensi Asia Afrika, Gerakan Non Blok, Konferensi Tricontinental di Havana, Kuba,” jelas Hasto.

Baca juga: 10 November, Hasto Kristiyanto Ajak Akademisi 33 Negara Ziarah ke Makam Bung Karno

Dia menilai, banyak dari pemikiran yang digagas Soekarno menjadi terobosan dunia pada masa lalu dan masih memiliki relevansi dengan persoalan-persoalan geopolitik dunia yang saat ini sedang terjadi.

Sejak dulu, tepatnya pada momentum Konferensi Asia Afrika, bebernya, Soekarno telah mengenalkan betapa pentingnya prinsip-prinsip non intervensi, membangun solidaritas antar bangsa dan mengedepankan kerjasama ekonomi serta kebudayaan.

“Semua gagasan-gagasan itu, arahnya adalah untuk peningkatan kualitas peradaban umat manusia, semangat itulah yang saat ini harus didorong,” jelasnya.

Sebagai panitia sekaligus tuan rumah, dia menyampaikan terima kasih dan menyambut baik seluruh gagasan akademisi dari 33 negara yang telah kembali menggali semangat perjuangan Ir. Soekarno.

Pada kesempatan tersebut, Hasto mengatakan akademisi dari 33 negara yang diajaknya itu sempat kaget saat melihat kondisi Makam Bung Karno yang begitu sederhana.

Namun, Hasto menyebut memang begitulah Ir. Soekarno, sosok sederhana yang mampu menjadi penyambung lidah rakyat.

“Bung Karno memberi inspirasi tidak hanya bagi bangsa Indonesia, tetapi juga dunia. Di Konferensi Islam Asia Afrika, beliau mendapat gelar pendekar, pembebas, dan pahlawan kemerdekaan bangsa islam,” ungkapnya.

“Di sinilah Bung Karno dikuburkan, proklamator kemerdekaan Republik Indonesia dan Presiden Pertama Republik Indonesia, sang penyambung lidah rakyat,” sambung Hasto.

Doktor Ilmu Pertahanan itu juga mengutip pesan Bung Karno sebelum meninggal bahwa hidupnya, idenya, gagasannya, dan aspirasinya tidak bisa dibunuh dengan cara apa pun.

“Apa yang disampaikan Bung Karno itu terbukti. Selama Orde Baru 32 tahun di bawah kepemimpinan Soeharto yang otoriter berusaha memutarbalikkan dan menutupi sejarah, dengan tujuan menjauhkan rakyat dari Bung Karno, upaya tersebut sia-sia,” kata dia.

Hasto juga menyampaikan, makam ini pada era Orde Baru ditutup dengan kaca dinding agar orang tidak bisa mendekat. Namun, dia menyampaikan kebenaran dan kebajikan selalu menemukan jalan ke luar.

“Kebenaran selalu mampu mendobrak tembok tebal tirani. Karena itu, kekuatan politik akhirnya terbukti. Bung Karno selalu hidup dan menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia. Inspirasi bagi kaum tertindas yang haus akan keadilan. Inspirasi bagi rakyat kecil yang mendambakan hidup sejahtera,” ujarnya.

Dalam ziarah makam Bung Karno itu, Hasto Kristianto didampingi sejumlah pengurus DPD PDI Perjuangan Jatim, pengurus DPC setempat, serta seluruh anggota Fraksi DPRD Kota dan Kabupaten Blitar. Tampak juga Wali Kota Blitar Santoso.

Sebelum ziarah kubur, rombongan akademisi diperkenalkan satu per satu oleh inisiator dan Koordinator Konferensi Bandung-Belgrade-Havana, Darwis Khudori.

Mereka antara lain ialah Annamaria Artner (Hungaria), Connie Rahakundini Bakrie (Indonesia), Isaac Bazie (Bukrina Faso/Canada), Beatriz Bissio (Brasil/Uruguay), Marzia Casolari (Italia), Gracjan Cimek (Poland), dan Bruno Drweski (Prancis/Polandia).

Lalu, Hilman Farid (Indonesia), Darwis Khudori (Indonesia/Prancis), Seema Mehra Parihar (India), Jean-Jacques Ngor Sene (Senegal/USA), Istvan Tarrosy (Hungaria), Rityusha Mani Tiwary (India), serta Nisar Ul Haq (India).

Ziarah makam berlangsung khidmat. Mereka nampak khusyu memanjatkan doa. Seusai melakukan doa peziarah ini lantas melakukan tabur bunga di atas pusara makam Bung Karno.

Setelah ziarah makam Bung Karno, Hasto Kristiyanto bersama rombongan akademisi dari 33 negara tersebut melanjutkan perjalanan ke Surabaya. (arif/pr)