SURABAYA – Anggota DPRD Jawa Timur, Guntur Wahono, menegaskan pentingnya kehadiran pemerintah dalam menyediakan ruang ekspresi kreatif bagi masyarakat.
Hal ini dia sampaikan saat menghadiri acara Blitar Ethnic Carnival (BEC) 4.0, yang sudah digelar rutin selama empat tahun berturut-turut dan menjadi salah satu agenda kebudayaan penting di Bumi Bung Karno.
Menurutnya, Blitar Ethnic Carnival bukan sekadar pertunjukan seni dan budaya, tapi juga wadah yang memperlihatkan betapa masyarakat memiliki potensi besar dalam melestarikan sekaligus mengembangkan tradisi.
“Kami mengapresiasi penyelenggaraan Blitar Ethnic Carnival yang konsisten sudah digelar empat tahun berturut-turut. Acara ini menghadirkan pimpinan adat dari berbagai daerah, termasuk hari ini yang juga dihadiri perwakilan dari Kutai Kartanegara,” ungkap Guntur Wahono, Senin (25/8/2025).
Dia menekankan bahwa keberlangsungan acara seperti Blitar Ethnic Carnival menjadi bukti nyata bagaimana budaya dapat hidup berdampingan dengan kreativitas masyarakat.
Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan DPRD Jatim ini menilai, penyelenggaraan BEC memiliki dampak ganda: melestarikan warisan tradisi, sekaligus menciptakan ruang interaksi sosial yang inklusif dan produktif.
Lebih lanjut, Guntur Wahono mengingatkan bahwa kebudayaan merupakan identitas bangsa yang harus terus dijaga agar tidak tergerus zaman.
“Kebudayaan harus dijaga agar dapat terus turun ke generasi berikutnya. Jika tidak, maka anak-anak kita hanya akan menjadi penonton dari kekayaan tradisi yang sejatinya adalah milik kita sendiri,” tegasnya.
Guntur menyebut, pemerintah memiliki peran strategis dalam memastikan keberlangsungan agenda-agenda kebudayaan semacam ini.
Dia menilai, pemerintah daerah maupun pusat harus selalu membuka ruang partisipasi masyarakat, baik melalui dukungan penyelenggaraan festival budaya, maupun pemberian fasilitas terhadap komunitas seni dan adat.
“Pemerintah harus senantiasa menyediakan ruang ekspresi kreatif bagi masyarakat. Dengan cara itu, masyarakat bisa menunjukkan potensi terbaiknya sekaligus melestarikan budaya yang diwariskan nenek moyang,” kata Guntur.
Dia menilai, ruang ekspresi kreatif tersebut tidak hanya terbatas pada festival atau karnaval, tapi juga bisa diwujudkan melalui dukungan infrastruktur, pelatihan, serta program pemberdayaan masyarakat berbasis seni dan budaya.
Dengan begitu, kreativitas masyarakat tidak hanya sebatas seremonial tahunan, tapi bisa berkelanjutan dan memberi dampak ekonomi maupun sosial yang lebih luas.
“Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi? Karena kebudayaan ini adalah identitas dan jati diri bangsa,” tuturnya. (yols/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS