Konferensi Bandung-Belgrade-Havana di Unair Hasto Paparkan Pemikiran Geopolitik Bung Karno

 219 pembaca

SURABAYA – Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto memaparkan pemikiran geopolitik Presiden pertama Indonesia, Soekarno (Bung Karno), saat menjadi pembicara kunci dalam rangkaian Konferensi Bandung-Belgrade-Havana yang digelar di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jumat (11/11/2022).

“Pemikiran geopolitik Soekarno didasari pada Pancasila yang merupakan ideologi bangsa Indonesia,” kata Hasto di hadapan para peserta konferensi dari 29 negara.

Doktor Universitas Pertahanan dengan disertasi berjudul “Discourse of Soekarno’s Geopolitical Thought and Its Relevance in State Defense” itu mengatakan pemikiran geopolitik Bung Karno didedikasikan untuk membangun tata dunia baru yang bebas dari imperialisme dan kolonialisme, serta demokratis dan berkeadilan.

Bung Karno secara komprehensif pernah membabarkan pemikirannya tersebut, dalam pidatonya berjudul “To Build the World a New”, pada forum PBB, September 1960.

Menurut Hasto, pandangan Bung Karno tentang tatanan dunia baru, dan gagasannya tentang geopolitik non-ekspansionis, sangat berbeda dari Barat.

“Geopolitik Soekarno didasarkan pada kemanusiaan, internasionalisme, keadilan dan solidaritas antarbangsa, serta komitmen hidup berdampingan secara damai. Prinsip-prinsip ini pada akhirnya dapat menjadi landasan penting bagi masa depan dunia,” ujarnya.

Saat menyampaikan pemaparan, Hasto berbicara dalam bahasa Inggris selama sekira 30 menit. Dia menyapa audiens dan menyampaikan ucapan selamat datang di Surabaya, yang diperkenalkan Hasto sebagai “kota pahlawan” dan “kota revolusi”.

“Sebuah kota yang memanifestasikan kepahlawanan dan semangat ‘merdeka atau mati’,” kata Hasto soal Surabaya yang juga merupakan kota kelahiran Bung Karno.

Di sela pemaparan, Hasto memutar video yang menjelaskan tentang intisari pemikiran geopolitik Bung Karno. Sepanjang pidato, Hasto menyebut kata “Soekarno” sebanyak 15 kali.

Hasto mengemukakan, saat ini memang dunia dibayangi oleh ketidakadilan global, di mana berbagai masalah dunia semakin mengemuka belakangan ini.

Mulai dari kemiskinan, ketidakadilan dunia kesehatan seperti distribusi vaksin, disparitas penguasaan teknologi, hambatan di rantai pasok yang memicu inflasi dunia, perang, dan sebagainya.

“Maka sebenarnya apa yang dipelopori generasi pertama non-aligned movement (gerakan non-blok) seharusnya memantik kesadaran kita untuk menuju tata dunia baru yang lebih berkeadilan dan mengedepankan wajah kemanusiaan,” ujar dia.

Dalam pemikiran Soekarno, papar Hasto, geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi digunakan untuk merumuskan kebijakan strategis kepentingan nasional dalam dinamika internasional demi terwujudnya pemikiran dunia.

Dia menggarisbawahi pentingnya diplomasi untuk kerja sama politik, ekonomi, dan budaya sebagai hal penting dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia, alih-alih kerja sama militer.

Platform kerja sama militer disebut mendapat estimasi signifikansi terendah dalam teori geopolitik Soekarno. (Baca: Melihat Makam Bung Karno, Akademisi 33 Negara Sempat Kaget)

Hasto menegaskan, kekuatan negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang menggemakan semangat Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Nonblok, serta Konferensi Tri-Kontinental harus bersatu untuk mengubah dunia, mengedepankan wajah kemanusiaan dan mendonorkan semangat kerjasama ekonomi yang adil.

“Pada akhirnya, pelestarian bumi, keselamatan alam semesta, harus diperjuangkan bersama karena kita hidup di planet yang sama,” ujar Hasto.

Rangkaian “Bandung-Belgrade-Havana Conference” yang digelar hari ini adalah bagian dalam peringatan 65 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung, 60 tahun KTT Nonblok di Beograd, dan 55 tahun Konferensi Tiga Benua di Havana.

Konferensi ini pun menjadi ajang untuk kembali merefleksikan dan membumikan nilai-nilai Bandung Spirit. (Baca juga: Basarah: Pertemuan Akademisi Asia-Afrika Jaga Perdamaian Dunia)

Tema yang diangkat adalah “Bandung- Belgrade-Havana in Global History and Perspective: What Dreams, What Challenges, What Projects, for a Global Future” (Bandung-Beograd-Havana dalam Kerangka Sejarah dan Pemikiran Global: Impian, Tantangan dan Perencanaan Masa Depan). (yols/pr)