oleh

Kampanye pada Sabtu dan Minggu Cukup Bagi Menteri yang Nyaleg

JAKARTA – Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memberikan arahan bagi siapapun menteri yang maju dalam Pemilu Legislatif 2019, untuk tetap memprioritaskan tugas-tugas utamanya.

Mereka juga diizinkan untuk melakukan sosialisasi di dapil masing-masing hanya pada saat Sabtu-Minggu sehingga tidak mempengaruhi kerja yang bersangkutan.

Menurut Pramono, kampanye pada Sabtu-Minggu cukup karena mereka kebanyakan sudah dikenal di dapilnya. Apalagi yang maju ini sebelumnya juga  pernah maju di periode sebelumnya. Bahkan ada yang sudah 3 kali, atau 2 kali.

“Sehingga dengan demikian, seperti kalau diinternal PDI Perjuangan, seperti Mbak Puan, Pak Yasonna Laoly (Menkumham), itu memang diizinkan,” kata Pramono Anung, Rabu.

Soal menteri yang maju menjadi caleg itu, mantan Sekjen PDI Perjuangan ini meyakini, sudah menjadi hal yang biasa. Karena undang-undang mengatur hanya dengan cuti sehingga tidak akan mempengaruhi performance, kinerja, dan tanggung jawab.

Apalagi, sambung Pramono, sekarang sudah memasuki pekerjaan yang di akhir dari pemerintahan ini, 1 satu tahun ke depan, sehingga performance itu malah harus ditingkatkan lebih baik.

Seskab juga meyakini, para menteri yang maju menjadi Caleg itu tidak akan mengklaim program-program pemerintah.

“Tentunya ada batasannya ya. Karena menteri yang akan maju ini kan porto folionya terus terang. Misalnya Menkumham, apa yang mau diklaim kan? Masak mau diklaim urusan lapas, kan tidak bisa,” ucap Seskab seraya menambahkan, yang ada adalah ya sekarang tinggal jaringan, performance dari masing-masing menteri untuk bisa menjadi pendulang suara.

Sementara itu, Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Johan Budi Sapto Pribowo membenarkan dirinya maju sebagai calon anggota DPR periode 2014-2019 dari PDI Perjuangan.

Ia mengaku, sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan maju menjadi calon wakil rakyat.

Johan terdaftar dari daerah pemilihan Jawa Timur VII meliputi Kabupaten Ngawi, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Pacitan, dan Kabupaten Trenggalek.

“Keputusan ini saya ambil setelah melakukan evaluasi terhadap tugas dan pekerjaan saya saat ini dan perenungan dalam enam bulan terakhir, serta juga sudah berdiskusi dengan keluarga. Saya memutuskan untuk beralih dalam ladang pengabdian yang berbeda, yaitu melalui jalur politik,” ujar Johan, Selasa (17/7/2018).

Johan menambahkan, dalam perenungan tersebut, ia ditawari PDI-P menjadi caleg. Ia merasa akan bisa berbuat lebih banyak untuk negara jika menjadi anggota DPR.

“PDI-P menjadi pilihan saya karena saya menganggap PDI-P adalah partai yang lebih banyak menyentuh dan bicara tentang rakyat kecil,” jelas mantan pimpinan KPK itu.

“Selain itu, konsep PDI-P tentang negara kesatuan RI berdasarkan Pancasila serta paham nasionalis religius yang diusung PDI-P sesuai dengan prinsip saya dalam bernegara,” tuturnya.  (goek)