oleh

Jokowi: Polri Harus Terus Menjaga Nilai-nilai Kebhinnekaan

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan apresiasi kepada Polri atas pengabdian seluruh personelnya yang bertugas di seluruh pelosok tanah air dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, sehingga hasilnya kelihatan dan nyata.

Di antara tugas itu, yakni berhasil mengamankan agenda politik 101 pilkada serentak tahun 2017. Sehingga kegembiraan politik bisa terwujud di daerah-daerah yang melaksanakan pilkada tersebut.

Sehingga, sebut Jokowi, tidak mengherankan, seperti ditunjukkan hasil survei lembaga-lembaga yang kredibel, kepercayaan publik pada Polri semakin meningkat. Kepercayaan publik pada Polri semakin kuat dan Polri semakin dicintai rakyat.

“Karena itu, saya ucapkan selamat untuk seluruh keluarga besar Kepolisian Republik Indonesia. Semua itu merupakan hasil dari kerja keras yang telah dilakukan Polri selama ini,” kata Jokowi, dalam amanatnya pada Upacara Peringatan ke-71 Hari Bhayangkara, di Lapangan Monas, Jakarta, Senin (10/7/2017).

Jokowi juga minta agar Polri menyiapkan diri untuk mengamankan Pilkada serentak tahun 2018, dan Pemilu Legislatif, serta Pilpres tahun 2019 agar potensi kerawanan yang ada, tidak berkembang menjadi konflik sosial yang meluas.

“Di tengah semua perkembangan itu, di tengah serangan terhadap Polri belakangan ini, Polri harus terus menjaga nilai-nilai ke-bhinneka-an yang sudah menjadi kodrat bangsa Indonesia. Polri harus terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Untuk itu, Polri harus menjaga soliditas internal dan selalu bertindak profesional,” ujarnya.

Dia pun mengingatkan, bahwa kesuksesan tersebut tidak terlepas dari bantuan, dukungan, serta kerja sama dengan seluruh komponen negara dan elemen masyarakat. Karena itu, kepala negara juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh elemen masyarakat, beserta instansi terkait yang telah mendukung pelaksanaan tugas Polri.

Ke depan, lanjut Jokowi, dukungan semua elemen bangsa tersebut semakin diperlukan, karena tantangan yang dihadapi Polri akan semakin berat.

Fenomena globalisasi, demokratisasi, dan kemajuan teknologi informasi, tuturnya, pasti mempengaruhi situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. Seperti meningkatnya kejahatan transnasional, khususnya terorisme yang menjadi benalu bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

Dia menyebutkan, terorisme telah menelan banyak korban tidak berdosa, termasuk anak balita, anak kita, yang bernama Intan di Samarinda. Terorisme juga telah memakan korban insan-insan Polri, seperti kasus peledakan bom di Sarinah dan di Kampung Melayu.

Selain terorisme, Jokowi mengingatkan, bahwa perdagangan narkoba, perdagangan manusia, penyelundupan senjata, dan kejahatan siber yang merusak dan mengancam masa depan bangsa Indonesia. Karena itu, mereka harus dikejar dan dihancurkan.

Selain itu, potensi konflik horizontal maupun vertikal dengan isu-isu primordial, seperti masalah suku, agama, dan ras keturunan juga akan meningkat. Sehingga Polri perlu melakukan langkah antisipasi dini agar situasi Kamtibmas stabil dan energi bangsa kita tidak habis untuk hal-hal yang tidak produktif, seperti ujaran kebencian, fitnah, dan provokasi.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Kalla, Presiden RI ke-V Megawati Soekarnoputri, mantan Wapres Try Sutrisno, para menteri kabinet kerja, para pimpinan lembaga negara, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. (goek)