Jumat
24 Juli 2026 | 4 : 03

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Jokowi: Kunjungan ke Ponpes Rutin, Tak Ada Urusannya dengan Politik

pdip-jatim-jokowi-ponpes-mambaus-sholihin-gresik
Presiden Jokowi kunjungi Ponpes Mambaus Sholihin, Suci, Gresik, Kamis (8/3/2018)

GRESIK – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, kunjungannya ke pondok pesantren (ponpes) yang sering kali dilakukannya setiap ke daerah, adalah hal yang rutin. Dia menegaskan, kunjungan tersebut tidak ada urusannya dengan politik.

“Ini memang rutin kita lakukan. Setiap ke daerah pasti ke satu, dua, tiga pondok. Saya kira penting sekali menjelaskan apa yang telah dikerjakan pemerintah dan apa yang akan dilakukan,” kata Jokowi, usai mengunjungi Ponpes Mambaus Sholihin, di Kecamatan Suci, Kabupaten Gresik, kemarin.

Jokowi menyebutkan, dalam kunjungan ke ponpes, dirinya minta masukan kepada ulama, mana yang perlu diperbaiki, mana yang perlu dikerjakan yang lebih besar lagi.

Dia menilai, masukan-masukan seperti itu sangat penting sekali apabila dirinya masuk ke pondok-pondok.

Mengenai apakah dirinya juga minta masukan soal sosok bakal calon wakil presiden (cawapres) untuk Pemilu Presiden (Pilpres) 2019, Jokowi tegas mengatakan, bahwa kunjungannya ke pondok-pondok pesantren tidak ada urusannya dengan politik.

“Tanya saja ke Pak Kiai. Kalau ada pertanyaan dari Pak Kiai ya saya jawab. Enggak ada pertanyaan juga ya saya enggak jawab,” ujarnya.

Selain ke Ponpes Mambaus Sholihin, Jokowi juga ke Ponpes Langitan, di Dusun Mandungan, Desa Widang, Kecamatan Widang, Tuban, pada sore harinya.

Presiden Jokowi saat di Ponpes Langitan, Widang, Tuban

Dalam silaturahmi yang dihadiri ribuan santri Ponpes Langitan, Presiden Jokowi mengatakan, bahwa Indonesia ini adalah negara besar, negara muslim, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Dia menambahkan, bahwa Indonesia memiliki santri terbanyak di dunia dan tidak ada negara lain yang memiliki Hari Santri seperti di Indonesia. “Alhamdulillah, ini patut kita syukuri,” ucapnya.

Jokowi menjelaskan, Indonesia memiliki 268 juta penduduk, 85% di antaranya muslim. Namun demikian, lanjut Presiden, Indonesia ini negara majemuk, sukunya saja ada 714 suku di Indonesia.

Beda dengan Singapura yang memiliki 4 suku, atau Afghanistan yang memiliki 7 suku.

“Sukunya berbeda-beda dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote, bahasa daerahnya juga berbeda-beda, agamanya juga berbeda-beda,” sambung Presiden ke-7 Republik Indonesia ini.

Karena itu, dia mengajak para santri untuk menjaga persatuan, kesatuan, kerukunan, persaudaraan, ukhuwah Islamiyah, menjaga ukhuwah wathaniah, dan yang terpenting ukhuwah basyariyah.

“Jangan lupa semua perbedaan-perbedaan itu merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada kita bangsa Indonesia,” tegas Jokowi. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Pedagang Pasar Baru Magetan Cemas Tergusur Rencana Pembangunan Bioskop, DPRD Turun Tangan

MAGETAN – Kawasan Pasar Baru Magetan kembali menjadi sorotan. Belum usai persoalan penataan parkir, kini muncul ...
KABAR CABANG

PDIP Trenggalek Mulai Musran-Musanran, Perkuat Konsolidasi hingga Akar Rumput

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek memulai Musyawarah Ranting dan Musyawarah Anak Ranting dari Kecamatan ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Tertibkan Parkir Surabaya, 250 Lokasi Disegel dan Makam Keputih Terapkan Gate System

Pemkot Surabaya menertibkan pengelolaan parkir dengan menyegel 250 lokasi yang belum berizin serta menerapkan gate ...
LEGISLATIF

Hari Anak Nasional, Kanang Berbagi Motivasi kepada Wali Murid SDN Margomulyo 2 Ngawi

NGAWI – Peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momen istimewa bagi keluarga besar SDN Margomulyo 2 Ngawi. ...
LEGISLATIF

Dukung Sekolah Terintegrasi, Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Malang Tolak Pengambilalihan Aset Daerah

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang mendukung pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi dan Sekolah Rakyat, ...
RUANG MERAH

Menghitung Genarasi Emas dari Lambung

Oleh Martin Rachmanto ADA sebuah fragmen ingatan yang abadi dari dekade 1950-an, ketika halaman Istana Negara belum ...