Sabtu
12 September 2026 | 9 : 16

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Ini, Pesan Megawati untuk Calon Kader Utama PDIP

pdip-jatim-megawati-diklat-kader-utama

DEPOK – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri membuka pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi 128 orang kandidat kader utama, di Wisma Kinasih, Depok, Jawa Barat, Sabtu (13/5/2017).

Dalam pidatonya, Megawati menjelaskan, PDI Perjuangan memiliki tiga jenjang pengkaderan, yakni kader pratama, kader madya, dan kader utama.

Kader pratama dididik di tingkat kabupaten/kota, kader madya di tingkat provinsi, sementara kader madya di tingkat provinsi.

“Kader utama ini tidak tergantung kepada struktur atau fungsi yang dipegang saudara sekalian. Yang diutamakan adalah penguasaan ideologi Pancasila serta pemikiran Bung Karno, dan bisa melaksanakannya dengan baik,” kata Megawati.

Sejak awal, Megawati mengingatkan, bagi para peserta untuk mundur saja bila berpikir bahwa kader utama PDIP boleh bersikap pragmatis.

Megawati lalu menceritakan pengalamannya saat pertama kali masuk DPR melalui Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Saat itu, dirinya memilih PDI, walau merupakan partai terkecil di Parlemen saat itu. Tawaran dari Golkar yang penguasa juga ditolaknya.

“Ini pilihan saya sebagai insan politik, yang tak sekedar praktis. Kalau hanya berpikir praktis, dia oportunis politik, hanya mau senang-senang dirinya sendiri,” jelasnya.

Ketika hendak menjadi anggota dewan, Megawati mengaku harus berkeliling ke seluruh kabupaten di Jawa Tengah yang menjadi dapilnya. Selama itu pula, Megawati bertemu, menyapa, dan hidup bersama masyarakat.

“Jadi setiap hari, saya jalan ke lima kabupaten. Makanya, saya marah kalau anggota dewan tak mau ke bawah. Padahal salah satu dedikasi kita sebagai orang politik dan resepnya, ya harus bertemu langsung dengan rakyat,” kata dia.

Di sisi lain, Megawati juga mengingatkan agar para calon kader utama itu tak berpikir masuk partai untuk mencari uang. Ditegaskan Megawati, parpol adalah alat untuk melayani rakyat sesuai ideologi, bukan mencari kekayaan.

“Kalau mau kaya, jangan masuk partai. Jadilah pengusaha,” tegasnya.

Secara khusus, dia mengingatkan agar para kader utama belajar benar soal ideologi PDIP dan ajaran Bung Karno. Dia mengaku kerap kesal hati mendengar pihak yang menuduh PDIP sebagai komunis.

“Kita ini dibilang partai komunis. Saya capek menjawab. Harusnya yang menuduh itu melihat dulu, bagaimana AD/ART kita yang berideologikan Pancasila. Saya harap, itu tugas kalian untuk menjawabnya,” kata Megawati.

Ditegaskannya, PDI Perjuangan bergerak berdasarkan ideologi dan AD/ART. Termasuk dirinya sebagai ketua umum, juga dipilih dan bertindak berdasar AD/ART yang disepakati seluruh anggota partai di kongres partai.

Kesepakatan di kongres itu pula yang membuat posisi Megawati sebagai ketua umum sangat kuat, bukan karena keinginan dirinya. Dirinya terpilih sebagai ketua umum juga karena dipilih seluruh anggota partai di kongres.

“Tapi ada tetap yang menyebut terlalu sentralistik. Lah siapa yang bikin AD/ART-nya?” Ujar Megawati.

“Ada yang bilang Ibu Mega tak jadi ketua umum lagi. Boleh, monggo. Saya silakan. Saya minta tanya sampai ke ranting. Mereka sebut nama saya. Emang saya ada duit untuk bayar mereka? Kenapa? Karena batin saya dan mereka itu satu. Sekarang saja saya sudah tua, tak bisa keliling-keliling ketemu masyarakat.”

Lebih jauh, Megawati mengingatkan, agar tak melihat PDIP dengan dirinya dengan cara demikian. Untuk itu, setiap kader harus memastikan ideologi masuk ke sanubari.

Pembukaan diklat kader utama ini dihadiri sejumlah pengurus DPP PDI Perjuangan. Seperti Sekjen Hasto Kristiyanto dan Ketua Bidang Kaderisasi Idham Samawi.

Hasto Kristiyanto, menyatakan bahwa para kader utama akan dididik supaya lebih efektif menjalankan ideologi partai dalam kehidupan bernegara.

Sebab ideologi membutuhkan pemimpin, aturan main, kebijakan, program berpihak kepada rakyat, dan sumber daya. “Salah satunya itu didapatkan dengan pelaksanaan pendidikan kader ini,” kata Hasto. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

KRONIK

Dilema Air di Perumahan Elit, DPRD Surabaya Minta PDAM Segera Negosiasi dengan Pengembang

SURABAYA – Temuan adanya tiga perusahaan pengembang raksasa di Surabaya, termasuk kawasan hunian papan atas, ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi: Rp5 Juta per RW Jangan Habis untuk Seremoni, Harus Jadi Penghasilan Gen Z

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meminta anggaran kegiatan Generasi Z (Gen Z) sebesar Rp5 juta per RW ...
LEGISLATIF

Syaifuddin Minta Pemkot Surabaya Jemput Bola Data Desil, Jangan Tunggu Warga Mengadu

Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri meminta Pemkot jemput bola memperbarui data desil agar bantuan pendidikan dan ...
KRONIK

Ketua HKTI Magetan Suarakan Aspirasi Petani dan Tekankan Regenerasi di Rakerda HKTI Jatim

MAGETAN — Anggota DPRD Magetan dari PDI Perjuangan sekaligus Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ...
LEGISLATIF

Tunjang Kinerja Bamag Gresik, Nila Yani Serahkan Bantuan Perlengkapan Operasional

GRESIK – Dukungan terhadap penguatan pelayanan dan kerukunan umat beragama di Kabupaten Gresik terus dilakukan. ...
KRONIK

Budi Leksono Desak PDAM Modernisasi Alat demi Jamin Kualitas Air Warga

SURABAYA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya mendesak PDAM Surya Sembada segera melakukan ...