oleh

Hasto: Memprihatinkan, Hasil Survei Dijadikan Klaim Kemenangan

JAKARTA – Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai, pasangan Anies-Sandi terlihat khawatir dengan trend elektabilitas yang terus menurun sehingga menjadikan hasil survei untuk membangun opini sebelum pilkada putaran kedua digelar besok.

Hal dia sampaikan kepada wartawan terkait hasil survei LSI Denny JA yang memprediksi pasangan Anies -Sandi akan keluar sebagai pemenang Pilkada DKI Jakarta putaran dua.

Yang memprihatinkan, sebut Hasto, hasil survei yang masih harus diuji kebenarannya tersebut, kini dijadikan klaim kemenangan.

“Sekarang dijadikan klaim kemenangan bahkan sebelum pilkada berlangsung sebagaimana disampaikan oleh pidato Bapak Prabowo yang terkesan tendensius dan terlalu menyudutkan pasangan Ahok-Djarot,” ujarnya.

Dalam psikologi politik, jelas Hasto, pidato singkat yang disampaikan Prabowo dalam akhir masa kampanye tersebut justru harus dibaca terbalik.

“Kubu Anies- Sandi menampilkan kekhawatiran atas trend elektabilitas yang terus menurun akibat kesalahan strategi kampanye yang menampilkan wajah politik yang berbeda dengan tradisi kebudayaan bangsa Indonesia yang dikenal toleran, welas asih, dan suka bermusyawarah,” urainya.

Sementara di sisi tim kampanye pasangan Cagub-cawagub Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat sangat memahami kultur dan sosiologi politik Indonesia tersebut.

Menurut Hasto, tim kampanye Basuki-Djarot tidak pernah memaksakan kehendak, lebih-lebih hanya menggunakan lembaga survei untuk klaim kemenangan sepihak.

“Kami tidak mau mengerdilkan suara rakyat yang dimanipulasi dengan klaim kemenangan yang seolah fantastis sebagaimana ditampilkan lembaga survei pimpinan Denny JA. Suara rakyat sangatlah sakral, karena menentukan nasib lebih dari 9.6 juta penduduk Jakarta. Ini adalah pilkada rakyat, bukan pilkada survei,” papar Hasto.

Sebelumnya, LSI Denny JA dalam surveinya menyatakan elektabilitas Anies-Sandi 51,4 persen, sementara pasangan Basuki – Djarot memperoleh 42,7 persen.

“Denny JA memang piawai di dalam memanfaatkan momentum politik. Pilkada putaran pertama menjadi bukti bagaimana survei Denny JA hanya menjadi alat pemenangan, sehingga hasilnya pun meragukan,” kata Hasto.

Hasto memahami sah-sah saja setiap tim kampanye mengeluarkan hasil survei, namun ada batasan etika politik, kredibilitas lembaga survei, dan pertanggungjawaban secara metodologi bahwa hasil survei tersebut bisa dipercaya dan dipertanggungjawabkan akurasinya.

Hasto membeberkan pengalamannya di dalam Pilkada Serentak 2015 lalu ditawari jasa oleh Denny JA. “Saat itu saya ditawari beliau (Denny JA), bagaimana PDI Perjuangan bisa memenangkan Pilkada Serentak tanpa keluar uang, bahkan saya ditawari dapat uang. Begitu motifnya sudah dana, tawaran jasa pemenangan pun tidak saya layani,” ungkapnya.

Dalam masa tenang ini, dia sangat menyayangkan pidato Prabowo Subianto tersebut. Semua pihak, sebutnya, pun sepakat bagaimana mewujudkan pilkada yang demokratis, yang dilaksanakan secara luber dan jurdil.

“Marilah kita wujudkan politik yang berkedaban dan kita kedepankan sikap kenegarawanan. Biarlah rakyat DKI yang menjadi hakim terbaik,” tuturnya.

Momentum Pilkada 19 April 2017, imbuh dia, seharusnya menjadi tampilan peradaban politik Indonesia yang lebih mengedepankan program dan gagasan yang visioner bertumpu pada solusi atas persoalan fundamental masyarakat DKI Jakarta. (goek)

rekening gotong royong