Jumat
23 Oktober 2026 | 3 : 39

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Hasto: Kemenangan PDI Perjuangan Bukan Turun Tiba-tiba dari Langit

pdip-jatim-kudatuli-dpp

JAKARTA – DPP PDI Perjuangan mengenang Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) dengan menggelar tahlilan, pembacaan Surat Yasin, dan pembacaan sholawat, di Kantor DPP PDI Perjuangan Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat, Rabu (26/7/2017) malam.

Acara diikuti berbagai elemen masyarakat, kader dan pengurus PDI Perjuangan mulai dari DPP, DPD, DPC, hingga pengurus ranting.

Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, peringatan Kudatuli adalah mengenang kilasan- kilasan kisah silam di masa lalu, mengenang semangat kita.

“Bila kemudian kita kenang 27 Juli itu dengan air mata yang berlinang, ingatlah bahwa kemenangan politik yang direbut oleh PDI Perjuangan bukanlah sesuatu yang turun tiba-tiba dari atas langit, tetapi sesuatu yang diperjuangkan,” kata Hasto Kristiyanto.

Menurut Hasto, peristiwa 27 Juli telah menciptakan semangat bagi Partai. Menciptakan daya hidup yang berkobar-kobar bahwa masa depan politik kita adalah membangun peradaban yang berdasarkan pada nilai nilai penghormatan atas kemanusiaan.

“Karena kita telah mengalami bagaimana kita berpolitik, dihina, dimaki- maki, dirusak rasa kemanusiaan kita oleh penguasa, tentunya ini bukan rasa dendam yang kita balas, tapi kita membalas dengan perbuatan baik. Karena perbuatan baik dalam berpolitik mendorong adanya perubahan mendasar tentang bagaimana kehidupan berbangsa dan bernegara harus dijalankan,” paparnya.

Peristiwa 27 Juli 1996, tambah Hasto juga seharusnya memberikan “ruang terang” bagi demokrasi. Karena demokrasi yang baik, demokrasi yang “adil sejak dalam pikiran” mengajarkan nilai- nilai kebenaran, nilai- nilai musyawarah dan mufakat, bukan saling tikam dan terjang, bukan ‘demokrasi main kayu’.

Dijelaskannya, semangat 27 Juli, adalah semangat rakyat yang ingin bersuara. Bahwa rakyat bukanlah alat pembangunan, tapi rakyat adalah subjek pembangunan. Suara rakyat itulah yang kita dengar, kita pahami sebagai suara kegelisahan dalam menentukan jalannya sejarah.

“21 Tahun sudah peristiwa itu berlalu, seperti kemarin saja rasanya. Sesak nafas bila mengingat saudara-saudara kita yang mempertaruhkan nyawa untuk perjuangan menegakkan demokrasi. Kesedihan, kenangan-kenangan pahit atas peristiwa itu, mari kita bayar dengan memenangkan nilai-nilai kebenaran dalam demokrasi,” ucapnya.(goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

KRONIK

Ini, Tiga Pesan Bupati Lukman pada Peringatan Hari Santri dan Wisuda Tahfidz Juz 30

BANGKALAN – Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, berharap peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tidak sekadar ...
UMKM

16 Pelaku UMKM Fatayat NU Gresik Terima Rombong Gratis dari Nila Yani

GRESIK – Sebanyak 16 pelaku UMKM dari anggota Fatayat NU Gresik mendapat bantuan rombong usaha gratis. Bantuan dari ...
KRONIK

Peringati Hari Santri, ASN Banyuwangi Kenakan Busana ala Santri Selama Sepekan

BANYUWANGI – Peringatan Hari Santri di Banyuwangi selalu mendapat perhatian lebih dari Pemkab Banyuwangi. Berbagai ...
KRONIK

HSN 2026, Bupati Fauzi Dorong Santri Kuasai Ilmu hingga Kembangkan Kewirausahaan

SUMENEP – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, mendorong para santri untuk memperkuat kualitas diri melalui ...
KRONIK

Sri Untari Ajak Emak-emak di Malang Berdoa Bersama Memohon Hujan

MALANG – Di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Jawa Timur, ...
KRONIK

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Ajak Santri Terus Mengabdi untuk Negeri

KABUPATEN PASURUAN – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Muhamad Zaini, mengajak seluruh santri untuk terus ...