Hari Putri Lestari Dorong Anak Muda Tak Malu Jadi Petani

 98 pembaca

JEMBER – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim, Hari Putri Lestari, mendorong generasi milenial untuk tidak malu menjalankan profesi sebagai petani. Hal tersebut disampaikannya dalam agenda sosialisasi wawasan kebangsaan yang bertema ”Pertanian sebagai Jati Diri Bangsa Peluang dan Tantangan”, Selasa (1/11/2022).

Sosialisasi wawasan kebangsaan yang berlokasi di Hotel Aston tersebut, dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Jember, Imam Sudarmaji, pakar pertanian Universitas Jember, Ebban Bagus Kuntadi, serta para kelompok tani yang berasal dari berbagai kecamatan di Jember.

“Persoalan sektor pertanian kita hari ini salah satunya adalah kekhawatiran terhadap minat milenial yang enggan menjalani profesi sebagai petani. Saya banyak menemukan pandangan anak muda, bagaimana profesi sebagai petani tidak menjanjikan di mata mereka,” ujar Mbak Tari, sapaan akrab Hari Putri Lestari.

“Jadi, ketika anak muda sudah tidak berminat jadi petani, maka ini akan jadi persoalan serius yang dampaknya bisa terjadi krisis terhadap pangan,” sambungnya.

Sebab itu, legislator perempuan ini pun mengajak anak-anak muda di Jember untuk tak malu menjalani profesi sebagai petani. Menurutnya sektor pertanian hari ini memiliki potensi besar dalam mendongrak perekonomian negara di tengah isu krisis global.

“Yang perlu disadari anak muda hari ini adalah petani tidak lagi identik dengan kemiskinan. Petani bukan profesi yang hanya digeluti masyarakat kelas bawah, tetapi hari ini petani juga menjadi salah satu tumpuan utama dalam mendongkrak sistem ekonomi bangsa,” jelasnya.

Untuk mendorong ketertarikan para pemuda agar mau menggeluti sektor pertanian, Mbak Tari meminta agar Dinas Pertaian Jember berkolaborasi dengen elemen kepemudaan untuk membuat program edukasi pertanian yang bisa memberi pemahaman anak-anak muda bahwa petani juga bisa menjadi tumpuan memperoleh kesejahteraan.

“Kalau anak-anak muda sudah tahu betapa menjanjikannya bergelut di sektor pertanian, saya yakin mereka akan semakin termotivasi menjadi petani. Di sini saya harap dinas pertanian turut andil mendorong anak muda agar mau bertani,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu peserta wawasan kebangsaan, Jefri Bahtiar, mengungkapkan, keengganan para anak muda untuk menjadi petani karena kurangnya support dari pemerintah. Baginya, jika pemerintah serius mendorong anak muda mau bertani, maka harus ada pendampingan dari awal, juga menyediakan sarana dan prasarana.

“Jangan hanya kita disuruh jadi petani, tapi tidak dibekali apa-apa oleh pemerintah. Kami anak muda ini kan masih butuh bimbingan, butuh ketersediaan alat-alat juga,” ujarnya. (ryo/set)