oleh

Hari Pahlawan, Djarot Ziarahi 3 Makam Ulama Besar di Tebu Ireng

pdip-jatim-djarot-di-jombangJOMBANG – Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat menyempatkan Salat Jumat di Ponpes Tebu Ireng, Jumat (11/11/2016). Selama pelaksanaan Salat Jumat, Djarot ditemani pimpinan Ponpes Tebu Ireng KH Sholahudin Wahid atau Gus Sholah.

Khatib Salat Jumat adalah KH Mustain Syafi’i yang mengurai terkait kepahlawanan. Bersama sekitar 3.000 santri Ponpes Tebu Ireng, Djarot yang duduk di shof terdepan bersama Gus Sholah, tampak tekun mendengarkan ceramah Kiai Mustain.

Ceramah yang menyinggung soal kepahlawanan ini sesuai dengan kunjungan Djarot di Jombang, yakni berziarah ke makam tiga ulama besar, KH Hasyim Ashary, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga Presiden ke-3 RI. Ketiganya dimakamkan di makam keluarga di dalam komplekd Ponpes Tebu Ireng.

“Ponpes Tebu Ireng ini tidak terpisah dari perjalanan berbangsa kita. Menyumbang kepahlawanan dalam perjuangan kemerdekaan, membentuk identitas Islam Kebangsaan yang saat ini dalam tekanan,” kata Djarot, usai Salat Jumat.

Setelah mengikuti ibadah Salat Jumat, Djarot berziarah ke tiga makam ulama yang juga  pahlawan bangsa tersebut. Mantan Wali Kota Blitar tiga periode ini tampak ditemani istrinya, Happy Djarot, dan anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Eva Sundari.

Sebelum pelaksanaan Salat Jumat, Djarot menyempatkan diri melihat proses penyelesaian pembangunan perpustakaan Hasyim Asyari di lingkungan Ponpes Tebu Ireng. Menurut Gus Sholah, pembangunan fisik sudah berjalan 70 persen, dan tantangan berikutnya adalah pengisian buku-buku dan material lain.

Pada kesempatan itu Djarot dengan antusias menceritakan pengalamannya saat mendirikan perpustakaan Bung Karno di Kota Blitar yang sekarang mengoleksi 150.000-an buku. “Saya siap bantu Gus. Saya punya akses ke beberapa sumber termasuk di Belanda yang banyak membantu perpustaan Blitar,” kata Djarot.

“Kalau bisa kita diberi semua rekaman pidato baik video maupun cetakan dari Bung Karno. Tidak ada yang bisa mengalahkan Bung Karno soal kepiawaian pidato,” ujar Gus Sholah.

Dia menambahkan, bahwa salah satu keinginannya adalah bisa mengoleksi bukti-bukti bahwa Pancasila sangat Islami. (sa)