oleh

Hari Kartini, Banteng Milenial Pacitan Ini Ajak Perempuan Tak Bosan Belajar

-Kronik-320 kali dibaca

PACITAN – Setiap momen memperingati Hari Kartini, ada yang terlintas di benak Banteng Pacitan ini, yakni kesempatan menempuh pendidikan yang sama, bagi laki-laki maupun perempuan.

Kesetaraan gender, khususnya di dalam menempuh jenjang pendidikan, itu yang ditangkap Shara Elfani, salah satu anggota Barisan Juang Pacitan.

Karena itu, dia terus mengajak sesama perempuan, untuk terus belajar baik di lembaga pendidikan formal maupun informal.

Baca juga: Banteng Muda Pacitan Sesalkan Keterlibatan Pemuda dalam Aksi Teror

Dia menyebut, Hari Kartini itu ibarat secercah cahaya awal mula perjuangan kaum perempuan terutama di bidang pendidikan. Perjuangan Kartini menjadi penyemangat bagi perempuan Indonesia bahwa pendidikan itu harus diterima baik oleh laki-laki maupun perempuan.

“Jadi, kalau ingat beliau ya ingat tentang pentingnya pendidikan,” ungkap Shara Elfani, Rabu (21/4/2021).

Kader muda PDI Perjuangan Pacitan yang kini sedang menyelesaikan studinya di Surabaya ini menjelaskan, meskipun perempuan itu ditakdirkan sebagai calon Ibu tetapi tidak boleh berhenti untuk terus belajar dan meningkatkan membaca.

Karena menurut Fani, sapaan akrabnya, ilmu yang didapatkan dari membaca untuk menjadi ibu yang cerdas dan menularkan ke anak-anaknya nanti.

“Jangan bosan untuk membaca tentang semua hal, apapun itu. Jangan berhenti membaca setelah mendapatkan ijazah. Manfaat membaca dan belajar itu akan berguna untuk menjadi ibu yang cerdas bagi anak-anaknya,” ajak Fani.

Dia berpesan kepada seluruh perempuan terutama yang masih muda untuk terus belajar dan lebih pintar dalam memilih pergaulan. Menurutnya, usia muda merupakan usia di mana seseorang sedang dalam proses pembentukan jati diri.

“Perempuan harus bisa memilih dan memilah lingkungan yang baik, dimulai dari lingkungan pertemanan. Karena usia muda itu usia yang bener-bener proses pembentukan jatidiri,” tuturnya.

“Dan sekali lagi, membaca hal-hal apapun itu menjadi sangat penting juga membandingkan dengan bacaan satu sama lain. Agar pemikiran kita tetap objektif dan tidak subyektif pada narasi tertentu,” tutup Fani. (ARD)

Komentar