Kamis
16 April 2026 | 8 : 48

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Eva Sundari: BNPT Perlu Perbaiki Program Deradikalisasi

pdip-jatim-Eva-K-Sundari

pdip-jatim-Eva-K-SundariJAKARTA – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Eva Kusuma Sundari berpendapat, aksi pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda menjadi bukti program deradikalisasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) belum maksimal.

Dia menyesalkan sekaligus mengutuk tragedi yang menyebabkan sejumlah anak menjadi korban tersebut.

“Kejadian ini membuka mata bahwa BNPT perlu memperbaiki program deradikalisasinya. Karena pelaku adalah eks napi teroris jaringan kelompok radikal yang terlibat pada kasus bom buku tahun 2011,” kata Eva Sundari, Senin (13/11/2016).

Diketahui, pelaku pelemparan bom molotov Joh alias Jo bin Muhammad Aceng Kurnia, pernah menjalani hukuman pidana sejak 2012 karena terlibat dalam peledakan bom buku di Jakarta pada 2011.

Dia divonis 3,5 tahun penjajar berdasarkan putusan pengadilan negeri Jakarta Barat nomor: 2195/pidsus/2012/PNJKT.BAR, tanggal 29 Feb 2012. Joh bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idul Fitri pada 28 Juli 2014.

Legislator asal dapil 6 Jawa Timur ini menambah, program deradikalisasi perlu dievalusi mendalam dan menyeluruh, sehingga ke depan pencegahan terorisme lebih efektif.

Dari studi terakhir diketahui, ada interrelasi antara perilaku intoleransi – radikalisme – terorisme.

Adanya intoleransi yang menguat, jelas Eva, dapat memicu perilaku self radicalism yang dapat berkembang menjadi tindakan terorisme.

“Salah satu strategi BNPT untuk memperbaiki program deradikalisasi adalah dengan membangun early warning system terhadap gejala intoleransi pada kelompok primordial tertentu,” jelasnya.

BNPT, sebut Eva, dapat menyosialisasikan program deradikalisasi secara luas, sehingga masyarakat aktif menjadi bagian dalam mekanisme pencegahan terorisme.

Dia menambahkan, insiden bom Samarinda memunculkan dugaan kekurangefektifan program pembinaan di lembaga pemasyarakatan (lapas). Selain itu, program pemantauan mantan napi teroris pascadibebaskan juga masih lemah.

“Seharusnya pelaku penyerangan di Gereja Oikumene, Samarinda diawasi lebih ketat karena dia diketahui membawa bendera ISIS di Parepare pada tahun 2014 dan sempat ditahan polisi,” ungkapnya. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Minta OPD Surabaya Publikasikan Output dan Outcome Program ke Publik

Eri Cahyadi meminta OPD Surabaya mempublikasikan output dan outcome program untuk meningkatkan transparansi dan ...
LEGISLATIF

Puan Maharani Terima Penghargaan KWP Awards 2026, Tekankan Peran Media Kawal Kinerja DPR

Puan Maharani menerima penghargaan KWP Awards 2026 dan menegaskan peran penting media dalam mengawal serta ...
LEGISLATIF

Sawah di Pakusari Terdampak Limbah, DPRD Minta Pemkab Jember Pahami UU Pengelolaan Sampah

Pemkab Jember diminta memahami UU Pengelolaan Sampah setelah limbah mencemari irigasi dan mengancam 10 hektare ...
LEGISLATIF

Pansus DPRD Jatim Soroti Program OPD, Anggaran Besar Belum Tekan Kemiskinan

DPRD Jatim menilai program OPD belum berdampak signifikan terhadap penurunan kemiskinan meski capaian administratif ...
KRONIK

Bupati Lukman Minta BUMD Tingkatkan Kinerja, Topang Perekonomian Daerah

JAKARTA – Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, berkomitmen untuk mendorong kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk ...
LEGISLATIF

Indri Dukung Larangan Vape, Soroti Potensi Disalahgunakan untuk Narkotika

Indriani Yulia Mariska mendukung larangan vape karena berpotensi disalahgunakan untuk narkotika dan membahayakan ...