Eva Sundari: BNPT Perlu Perbaiki Program Deradikalisasi

Loading

pdip-jatim-Eva-K-SundariJAKARTA – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Eva Kusuma Sundari berpendapat, aksi pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda menjadi bukti program deradikalisasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) belum maksimal.

Dia menyesalkan sekaligus mengutuk tragedi yang menyebabkan sejumlah anak menjadi korban tersebut.

“Kejadian ini membuka mata bahwa BNPT perlu memperbaiki program deradikalisasinya. Karena pelaku adalah eks napi teroris jaringan kelompok radikal yang terlibat pada kasus bom buku tahun 2011,” kata Eva Sundari, Senin (13/11/2016).

Diketahui, pelaku pelemparan bom molotov Joh alias Jo bin Muhammad Aceng Kurnia, pernah menjalani hukuman pidana sejak 2012 karena terlibat dalam peledakan bom buku di Jakarta pada 2011.

Dia divonis 3,5 tahun penjajar berdasarkan putusan pengadilan negeri Jakarta Barat nomor: 2195/pidsus/2012/PNJKT.BAR, tanggal 29 Feb 2012. Joh bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idul Fitri pada 28 Juli 2014.

Legislator asal dapil 6 Jawa Timur ini menambah, program deradikalisasi perlu dievalusi mendalam dan menyeluruh, sehingga ke depan pencegahan terorisme lebih efektif.

Dari studi terakhir diketahui, ada interrelasi antara perilaku intoleransi – radikalisme – terorisme.

Adanya intoleransi yang menguat, jelas Eva, dapat memicu perilaku self radicalism yang dapat berkembang menjadi tindakan terorisme.

“Salah satu strategi BNPT untuk memperbaiki program deradikalisasi adalah dengan membangun early warning system terhadap gejala intoleransi pada kelompok primordial tertentu,” jelasnya.

BNPT, sebut Eva, dapat menyosialisasikan program deradikalisasi secara luas, sehingga masyarakat aktif menjadi bagian dalam mekanisme pencegahan terorisme.

Dia menambahkan, insiden bom Samarinda memunculkan dugaan kekurangefektifan program pembinaan di lembaga pemasyarakatan (lapas). Selain itu, program pemantauan mantan napi teroris pascadibebaskan juga masih lemah.

“Seharusnya pelaku penyerangan di Gereja Oikumene, Samarinda diawasi lebih ketat karena dia diketahui membawa bendera ISIS di Parepare pada tahun 2014 dan sempat ditahan polisi,” ungkapnya. (goek)