Jumat
07 Agustus 2026 | 8 : 27

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Eva Sundari: BNPT Perlu Perbaiki Program Deradikalisasi

pdip-jatim-Eva-K-Sundari

pdip-jatim-Eva-K-SundariJAKARTA – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Eva Kusuma Sundari berpendapat, aksi pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda menjadi bukti program deradikalisasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) belum maksimal.

Dia menyesalkan sekaligus mengutuk tragedi yang menyebabkan sejumlah anak menjadi korban tersebut.

“Kejadian ini membuka mata bahwa BNPT perlu memperbaiki program deradikalisasinya. Karena pelaku adalah eks napi teroris jaringan kelompok radikal yang terlibat pada kasus bom buku tahun 2011,” kata Eva Sundari, Senin (13/11/2016).

Diketahui, pelaku pelemparan bom molotov Joh alias Jo bin Muhammad Aceng Kurnia, pernah menjalani hukuman pidana sejak 2012 karena terlibat dalam peledakan bom buku di Jakarta pada 2011.

Dia divonis 3,5 tahun penjajar berdasarkan putusan pengadilan negeri Jakarta Barat nomor: 2195/pidsus/2012/PNJKT.BAR, tanggal 29 Feb 2012. Joh bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idul Fitri pada 28 Juli 2014.

Legislator asal dapil 6 Jawa Timur ini menambah, program deradikalisasi perlu dievalusi mendalam dan menyeluruh, sehingga ke depan pencegahan terorisme lebih efektif.

Dari studi terakhir diketahui, ada interrelasi antara perilaku intoleransi – radikalisme – terorisme.

Adanya intoleransi yang menguat, jelas Eva, dapat memicu perilaku self radicalism yang dapat berkembang menjadi tindakan terorisme.

“Salah satu strategi BNPT untuk memperbaiki program deradikalisasi adalah dengan membangun early warning system terhadap gejala intoleransi pada kelompok primordial tertentu,” jelasnya.

BNPT, sebut Eva, dapat menyosialisasikan program deradikalisasi secara luas, sehingga masyarakat aktif menjadi bagian dalam mekanisme pencegahan terorisme.

Dia menambahkan, insiden bom Samarinda memunculkan dugaan kekurangefektifan program pembinaan di lembaga pemasyarakatan (lapas). Selain itu, program pemantauan mantan napi teroris pascadibebaskan juga masih lemah.

“Seharusnya pelaku penyerangan di Gereja Oikumene, Samarinda diawasi lebih ketat karena dia diketahui membawa bendera ISIS di Parepare pada tahun 2014 dan sempat ditahan polisi,” ungkapnya. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

SEMENTARA ITU...

Rijanto: Blitaria Expo Jadi Etalase Pembangunan dan Penggerak Ekonomi Kabupaten Blitar

BLITAR – Bupati Blitar Rijanto menegaskan Festival Manggih Raharjo Blitaria Expo bukan sekadar perayaan Hari Jadi ...
LEGISLATIF

DPRD Surabaya Dorong Dialog Terbuka untuk Selesaikan Sengketa Aset PT KAI di Pasar Turi

Komisi A DPRD Surabaya mendorong penyelesaian sengketa aset PT KAI di Pasar Turi melalui dialog terbuka, ...
KRONIK

Harga Telur di Magetan Merosot Gegara Overproduksi, Dibahas di Kantor Polisi

MAGETAN – Anjloknya harga telur ayam ras akibat kelebihan produksi (oversupply) di Kabupaten Magetan, memicu ...
KABAR CABANG

PDIP Kota Blitar Percepat Regenerasi, Wajibkan Keterlibatan Gen Z di Struktur Ranting

DPC PDI Perjuangan Kota Blitar mewajibkan keterlibatan Gen Z dalam kepengurusan ranting sebagai strategi regenerasi ...
KRONIK

Silaturahmi dengan Keluarga Besar MAN Sumenep, Hj. Ansari: Suara Para Guru Sangat Penting

SUMENEP – Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Ansari, melakukan kunjungan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sumenep, pada ...
EKSEKUTIF

Tekan Timbulan Sampah ke TPA Benowo, Eri Cahyadi Wajibkan ASN Pilah Sampah dari Rumah

SURABAYA – Wali Kota Eri Cahyadi mewajibkan seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota ...